
Setelah berhasil membongkar kasus sindikat penggelapanya di pelabuhan kemarin. Kini Manila, Lee dan Michael sedang berkumpul di ruangan Letnan Bryan.
"Kalian tahu mengapa aku mengumpulkan kalian bertiga disini?" Letnan Bryan duduk dengan santai sambil memandang ke tiga bawahanya yang sedang berdiri dalam istirahat di tempat(kedua tangan di belakang pinggangnya).
Manila, Lee dan Michael beradu pandang bergantian sambil menggedikan kepalanya tidak tahu dengan maksud dan tujuan Letnan Bryan.
Letnan Bryan bangkit dari duduk dan melangkah menghampiri ketiga bawahanya.
Senyum terpancar di wajah Letnan Bryan sebelum ia memberitahukan maksud dan tujuanya.
"Aku ucapkan selamat untuk kalian bertiga, markas besar sangat puas sekali dengan kinerja kalian yang mampu membongkar sindikat penggelapan di pelabuhan." ucap Bryan.
Lee, Manila dan Michael. Mengangguk dan ikut tersenyum senang mendengarnya.
Letnan Bryan memperhatikan ketiga wajah bawahanya yang masih menatap tegak ke depan.
"Dan satu lagi untuk kalian bertiga. Komisaris besar telah memberitahu padaku. Bahwa Komisaris menghadiahi kalian berupa kenaikan jabatan dan berikut tunjanganya." ucap Bryan dan setelah itu ia mengajak ketiga bawahanya berjabat tangan memberikan selamat.
"Ah yang benar? apa aku tidak salah mendengarnya?" Michael menoleh pada Manila dan Lee yang sama sama terlihat kaget tidak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja ini benar, dan aku harap kalian lebih giat lagi dalam mengerjakan tugas kalian." pinta Letnan Bryan pada ketiga bawahanya.
"Pasti, Pak. Kami akan selalu berusaha yang terbaik untuk semuanya." tukas Lee.
Michael menggenggam kedua tangan Manila dan terlihat berjingkrak kegirangan.
Manila merasa sangat senang dan terlihat akan memeluk Michael, Namun dengan cepat Lee menarik lengan Manila dan mendorong kepala dan mentoyor kening Michael.
"Hei ... Manila itu miliku! jangan pernah berani kau mengambil keuntungan darinya!" ketus Lee.
Letnan Bryan hanya bisa tertawa kecil melihat Michael yang menggaruk tengkuknya.
"Tapi, Pak. Semua misi ini tidak akan berjalan sukses dan sesuai rencana apabila tidak campur tangan dan bantuan dari Arby." ucap Michael.
"Arby?" Letnan Bryan mengerutkan dahinya dalam.
"Iya, di dalam kasus ini. Arby juga ikut andil membantu kita dalam misi penyamaran untuk membongkar menangkap para pelaku yang selama ini bersembunyi." timpal Manila dan Lee pun membenarkanya.
Letnan Bryan sejenak terdiam setelah mendengar penjelasan dari ketiga bawahanya.
__ADS_1
"Baiklah, nanti malam kita semua berkumpul di rumahku. Ajak sekalian juga Arby, Michael." titah Letnan Bryan.
Ketiga bawahan Letnan Bryan mengangguk dan kini keluar dari ruangan kerja atasanya untuk kembali bertugas.
Sore hari di kantor kepolisian.
"Michael apa kau sudah menghubungi lagi Arby?" tanya Lee yang sedari tadi tak bisa menghubungi nomer telponya.
Michael menggeleng lemas sepertinya hal serupa pun di alami Michael yang kesulitan menghubungi Arby.
"Kita tunggu sebentar lagi, siapa tahu saja handphonen ia lowbet." tukas Manila yang kini melangkah bersama di samping Lee.
"Baiklah." Michael mengangguk dan memasukan kembali handphonenya ke dalam saku bajunya.
Dimana kau, By? kenapa aku tak bisa merasakan aura keberadaanmu. Kenapa dengan perasaanku, tiba tiba saja perasaanku tidak enak seperti ini.
"Lee, kenapa kau melamun? Manila sudah menunggumu di dalam mobil." tukas Michael yang heran pada perubahan wajah Lee.
"Aku tidak apa apa, Michael. Kita bertemu lagi nanti di rumah Letnan Bryan." ucap Lee seraya melangkah dan masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Lee kini melaju bersama Manila dengan mobilnya, meninggalkan Michael yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.