
Kedua pandangan Lee dan Michael kini mulai mengabur seiring rasa sesak nafas akibat cengkraman yang mencekik lehernya.
"Lee ..." ucapan terakhir Manila sebelum menutup mata dan tak sadarkan diri.
"Bhua .... ha .. ha." Dukun cabul itu tertawa puas seiring melihat Michael dan Manila yang telah pingsan di dalam cengkramaman tanganya.
"Dasar kutu kupret ... Dengan kemampuan yang hanya seperti ini kalian sudah berani menantang kekuatanku." ucap Dukun cabul dengan bangganya.
Dengan kekuatanya yang maha sakti. Dukun cabul itu melemparkan Michael ke arah gundukan sampah yang menggunung.
Pandanganya kini beralih menatap body mulus Manila yang menggairahkan mata dan hasrat pribadinya.
"Sepertinya gadis ini harus kunikmati terlebih dahulu sebelum ku binasakan." ucap si Dukun cabul dengan lidah yang sudah terlihat bernuafsu ingin mencicipinya.
Dengan kekuatan maha saktinya. Manila yang pingsan dan tak sadarkan diri kini di bawa dan di pindahkan ke sebuah ruangan guna untuk melakukan ritual hasrat birahinya.
Di lain tempat. Lee yang baru saja datang, dirinya kaget dan langsung berlari meninggalkan gerobak baksonya menghampiri Michael.
"Michael ..." Lee menepuk nepuk pipi Michael berharap dia sadar dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
Michael mengerjap ngerjapkan mata memandang ke arah wajah Lee yang kini memangku kepalanya.
"Manila ... selamatkan Manila, Lee." ucap Michael yang kembali pingsan karena keadaan tubuhnya yang drop.
Lee mengepal dan wajah kini berubah murka laksana rahwana.
Kekuatanya kini langsung muncul dan membuat alam di sekitarnya menjadi terang benderang di buatnya.
Lee bangkit dan langsung dengan secepat kilat memindahkan Tubuh Michael ke tempat yang lebih aman.
Dan kemudian Lee kembali ke tempat dimana Michael dan Manila tadi di serang oleh si Dukun cabul itu.
"Sial ... kenapa aku bisa teledor seperti ini." Lee mengutuk kebodohanya untuk menyuruh Manila dan Michael untuk pergi terlebih dahulu daripada dirinya.
Lee terus mencari-cari barang bukti yang sekiranya bisa ia jadikan untuk media teleportasinya(berpindah tempat dengan cepat)
Pandanganya tertuju pada beberapa helai janggut yang berwarna putih yang tak sengaja rontok ketika dia bergerak menghindari serangan Michael.
Lee mengambil dan langsung menggenggamnya.
"Tuhan ... berilah hamba ini kekuatan untuk menyelamatkan Manila." ucap Lee yang merasa buntu dengan pikiranya.
Di tempat dimana Manila di sekap. Kini Dukun cabul itu telah berhasil melucuti semua pakaian yang di kenakan Manila hingga tak tersisa di badanya.
Dengan tanganya yang laknat. Dukun cabul itu kini mulai menelusuri keindahan di setiap inchi tubuh Manila.
"Ohhh ... Mamamia Lezatos." Lidah dukun cabul itu terhulur sambil meneteskan liurnya.
Sebagai wanita normal. Manila yang pingsan dan tak sadarkan diri tetap saja bisa merasakan sentuhan demi sentuhan yang di lakukan oleh Dukun cabul tersebut.
Manila melenguh setiap Dukun cabul itu menggerayangi tubuh Sexynya.
__ADS_1
Mata Dukun cabul itu menggila ketika pandanganya tertuju ke arah gunung kembar yang terlihat masih ranum dan belum pernah terjamah itu.
Dengan ganas dan penuh hasrat. Dukun cabul itu langsung melahap pucuk gunung kembar itu dengan melahap, mencercap dan menghisapnya sesuka hati dengan mulut bejatnya.
Manila yang terangsang kini membuka matanya. Dirinya terus mencoba memberontak, Namun kekuatan Dukun cabul itu terlalu kuat hingga membuatnya pasrah tak berdaya.
"Jangan ... aku mohon hentikan." Manila menangis memohon Dukun cabul itu menghentikan aksi bejatnya.
Alih alih menghentikan aksinya. Dukun cabul itu malah tertawa terbahak sambil melucuti semua pakaian sinterklasnya di depan Manila yang sudah terbaring tak berdaya karena pengaruh belenggu kekuatanya.
Manila tertohok seketika melihat Timun ke pemilikan yang berukuran besar dan menjuntai yang siap kapanpun menghujamnya.
"Lee ... kau dimana? tolong aku ..." Manila kembali menangis dalam keputus asaanya.
Dukun cabul itu kini setengah duduk di atas perut Manila sambil menampar namparkan timunya ke arah pipi Manila.
Dukun cabul itu terus memaksakan menekan timunya ke arah mulut Manila yang tertutup rapat.
"Ayo ... ayo buka mulutnya cantik." Dukun cabul itu terus menekan timunya memaksa agar masuk ke dalam mulut Manila.
Tak cukup puas dengan itu. Dukun cabul itu kini beralih ke area ke wanita an Manila.
"WoW ..." Dukun cabul itu tersenyum puas melihat pemandangan indahnya.
Kini dirinya bermain di area ke wanita an Manila. Dirinya terus mempermainkan timunya dengan menggesekan ke mulut ke pemilikan Manila yang masih berstatus original dan belum terjamah.
Di lain tempat dimana Lee berada. Seberkas cahaya terang tiba tiba saja muncul dan menyilaukan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Lee ..." sapa mahluk bersayap yang sudah beberapa tahun tidak di temuinya.
"Tolong aku! Seseorang sedang dalam bahaya dan aku harus segera menolongnya sekarang juga." jelas Lee dengan gugup.
Mahluk itu tersenyum sambil menempelkan telapak tanganya di atas kepala Lee.
"Baiklah ..." Mahluk bersayap itu kini membawa dan memindahkan Lee dengan jurus dimensinya.
Dengan secepat kilat kini Lee dan mahluk bersayap itu sudah berada di tempat dimana Manila di sekap oleh Dukun cabul itu.
"Cepat selesaikan dia Lee!" mahluk itu memegang pundak Lee dan mentrasferkan semua kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya pada Lee.
Lee mengangguk dan dengan secepat kilat bergerak ke hadapan Dukun cabul yang masih asik memainkan area ke wanita an Manila.
"Bangsat! Tak akan kubiarkan kau berbuat sesuka hatimu di muka bumi ini." ucap Lee yang langsung dan dengan cepat mencekik Dukun cabul itu.
Lee menoleh ke arah Manila yang sudah menangis dan membuatnya seketika murka laksana Rahwana.
Dengan kekuatan yang baru di dapatkanya dari mahluk bersayap. Kini kekuatan Lee lebih hebat dan berlipat ganda dari kemampuan sebelumnya.
Lee terbang secepat kilat membawa Dukun cabul itu dalam cengkraman tanganya yang mencekik. Dengan penuh emosi Lee langsung melemparkan Dukun cabul itu hingga terhempas menabrak tembok hingga hancur menjadi puing.
Dari kejauhan Lee menoleh ke arah Manila yang bertelanjang bulat dan menyulap selimut tebal untuk membungkus dan menutupi auratnya.
__ADS_1
Lee kembali fokus pada Dukun cabul yang kini sudah tergeletak tak berdaya di hadapanya.
Dengan tangan mengepal Lee melangkah menghampiri Dukun cabul yang sudah mobat mabit tak berdaya di hadapanya.
"Tua bangka, tak sepatutnya di usiamu yang sudah senja dan bau tanah. Kau masih berbuat kerugian di muka bumi ini." Lee menjambak dan mengangkatnya tinggi di udara.
"A ... am ...ampun." Dengan suara lirih Dukun cabul itu memohon pengampunan pada Lee yang jelas- jelas bukan lawanya.
Lee tersenyum licik dan tanpa aba aba lagi dirinya langsung meninju muka Dukun cabul itu hingga meremukan tulang pada bagian wajahnya.
"Hentikan Lee!!!" seru mahluk bersayap yang kini duduk bersandar tak berdaya.
Lee menoleh ke arah Mahluk bersayap itu.
"Jika kau membunuhnya. Itu berarti kau tak ada bedanya dengan Dukun itu." kecam Mahluk bersayap itu dengan nafas terengah-engah.
Lee merasakan cemas dan langsung melepaskan si duku Cabul yang telah hancur dan tak berdaya di hadapanya.
Dengan kedipan mata. Kini Lee sudah berada di hadapan mahluk bersayap itu.
"Kau kenapa, Tuan?" Lee menatap cemas dan langsung membantu mahluk bersayap itu untuk bangkit dari duduknya.
Mahluk bersayap itu menepis menolak bantuan dari Lee. Dirinya lebih memilih duduk dan bersandar merasakan tubuhnya yang kini mulai terasa lemah.
"Apa kau baik baik saja, Tuan?" Lee semakin cemas melihat mahluk bersayap itu kini sudah terlihat pucat layaknya manusia yang sedang sekarat.
Lee merengkuh tubuh mahluk bersayap itu sambil menangis sedih.
"Lee ... sudah saatnya aku kembali pada sang pencipta." tukas Mahluk bersayap itu sambil tersenyum menahan sakit di tubuhnya.
"Hentikan omong kosongmu! Aku tahu kau sedang sekarat karena telah memberikan semua kekuatanmu padaku." ucap Lee sambil menggeleng tak mau mendengar kenyataan yang terjadi di hadapanya.
"Aku akan mengembalikan kekuatanmu dan bertahanlah." pinta Lee namun itu hanya di balas gelengan kepala oleh mahluk bersayap itu.
"Lee ... tuhan sudah mecatat semuanya. Dan kita tak boleh merubah sesuka hati kita." ucap Mahluk bersayap itu sambil meneteskan air mata.
"Kenanglah aku selalu di hatimu Lee. Dan jangan pernah kau gunakan kekuatanmu untuk menyakiti atau membunuh orang." pinta Mahluk bersayap itu.
Lee terus menggeelng kepala dan menangis mendengar permintaan terakhir Mahluk bersayap itu.
"Hentikan ... aku sudah tidak tahan lagi mendengarnya." Lee memohon.
Lee memeluk erat dan menempelkan kepala mahluk bersayap itu di dadanya. Hawa dingin kini mulai terasa di tubuh mahluk bersayap itu seiring mulutnya yang mulai menganga menahan rasa sakitnya di cabut nyawa sang pencipta.
Lee yang tak tega melihat rasa sakit di wajah Mahluk bersayap itu memilih untuk memalingkan pandanganya sambil menangis.
Namun seketika Lee menolehkan kembali pandanganya. Mahluk bersayap itu sudah tersenyum meninggal dalam kedamaian.
Dengan berat Lee menggerakan Tangan untuk menutup kedua mata Mahluk yang benar-benar telah di utus tuhan untuk menolongnya.
Jasad Mahluk bersayap itu kini berangsur berubah menjadi sebuah cahaya yang perlahan terbang menjauh laksana kunai malam yang sedang beterbangan ke angkasa.
__ADS_1