Polisi Cantik

Polisi Cantik
SEVEN DAY BEFORE WEDDING


__ADS_3

"Kejadian ini terjadi sekitar 8 tahun yang lalu ..." Lee memulai membuka ceritanya pada Michael dan Manila.


Hari itu tepat 7 hari sebelum pernikahan kami akan di laksanakan, dan undangan pernikahan pun sudah di sebar luaskan.


Hari itu Lee sudah terlihat senang sekali. Di dalam hatinya ia hanya tinggal menghitung hari menyongsong pesta sakral yang akan ia temui hanya sekali dalam hidupnya.


"Lee, apakah pekerjaan kantormu sudah selesai mengenai proyek pembangunan kita di hongkong?" tanya Junwei Ayahnda dari Lee.


Lee membereskan file berkas dan menatanya rapi di atas meja kerjanya.


"Sudah, Pah. Dan aku yakin proyek pembangunan kita akan berjalan lancar seperti apa yang telah kita rencanakan." jawab Lee.


Dret ... dret ... dret ...


Ponsel di dalam saku jas Junwei mendadak bergetar dan dengan cepat Junwei mengambil ponselnya untuk mengecek.


"Bos, gawat." ucap seseorang di dalam panggilanya pada Junwei.


"Ada apa? cepat ceritakan padaku!" tukas Junwei yang tak mau berbasa basi lagi.


Lee sesaat memandang serius ke arah Ayahnya yang kini sudah terlihat tegang dalam menerima panggilan teleponya.


"Memangnya siapa yang menghubungi Papa?" gumam Lee.


"Baiklah, aku akan segera kesana untuk menyelesaikan permasalahan ini." tandas Junwei sambil menutup panggilan di handphonenya.


Junwei kini duduk di kursi kebesaranya dengan wajah yang kini terlihat cemas dan gusar.


"Papa, ada apa sebenarnya? dan siapa yang telah menghubungi Papa?" tanya Lee.


Jun sekilas memandang ke arah Lee dan kembali memalingkan pandangan ke arah luar jendela ruang kerjanya.


"Telah terjadi masalah besar ..." tukas Junwei.


Lee melangkah menghampiri Junwei dan kini duduk berhadap hadapan sambil memandang Ayahnya dengan serius.


"Masalah besar? memangnya ada apa Papa?" tanya Lee lagi.


"Proyek pembangunan kita di Hongkong mendadak menemui masalah besar. Hampir semua Investor menarik semua sahamnya dari perusahaan kita." jelas Junwei dengan tangan mengepal di atas meja.


"Tapi ... kenapa semua ini bisa mendadak terjadi secara tiba tiba seperti ini Papa?" tanya Lee lagi.


Junwei bangkit dari duduk dan melangkah mendekati jendela sambil memandang ke arah luar ruangan kerjanya.


"Entahlah, Papa sendiri juga tidak tahu. Papa sekarang harus pergi kesana untuk menyelesaikan semuanya." jawab Junwei.


Namun, baru saja selesai Junwei berucap. Keringat dingin sudah memenuhi wajah Junwei.


"Akhh ..." Junwei memekik kesakitan sambil memegang dadanya.


Lee langsung menghampiri Junwei yang kini sudah terjatuh duduk sambil memegang dadanya.


"Papa, apa kau tidak apa apa. Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang." ucap Lee.

__ADS_1


"Maafkan Papa, Lee." ucap Junwei yang langsung pingsan tak sadarkan diri.


Selang beberapa saat. Kini Junwei sudah di larikan ke rumah sakit untuk mendapat penangan serius mengenai penyakit jantung yang sudah lama di deritanya.


Semua keluarga Junwei kini sudah datang berada di rumah sakit.


"Lee, ada apa sebenarnya? Kenapa Papamu bisa di bawa ke rumah sakit?" tanya Meydina ibunda Lee.


"Entahlah, Mah. Sakit jantung Papa tiba tiba saja kumat setelah seseorang memberitahukan tentang proyek Papa yang berada di Hongkong mendapat masalah." jelas Lee.


Meydina menangis memeluk Lee. Perasaan cemas bercampur takut kehilangan Junwei bercampur menjadi satu.


"Kita harus tenang, Mah. Kita tunggu kabar dari Dokter tentang keadaan Papa." Lee mengusap ngusap punggung Mamanya mencoba menenangkan suasana.


Sementara di dalam ruangan tempat Junwei di rawat. Terlihat Dokter yang sudah berhenti berkutat dengan alat alat medisnya.


"Suster." panggil Dokter.


"I ya, Dok." jawabnya.


"Apa keluarga pasien sudah berada disini?" tanya Dokter tersebut sambil melepas sarung tangan medisnya.


"Sepertinya sudah Dok?" jawab Suster tersebut.


"Beritahu keluarga pasien agar mereka segera menemui di ruangan saya." titah Dokter tersebut.


Dokter itu berlalu meninggalkan Junwei bersama suster menuju ruanganya.


"Keluarga pasien ..." tukas Suster tersebut.


Lee, Meydina dan Sofia yang baru saja datang. Segera menghampiri Suster yang sedang mencarinya.


"Iya, Kami sendiri." jawab Lee.


Suster memandang ke arah Lee dan kedua orang lainya.


"Ini, Ibu saya dan ini adik saya, Sus." Lee menjelaskan pada Suster tersebut.


"Baiklah, Dokter tadi meminta saya agar keluarga pasien segera menemuinya." jelas Suster.


Lee mengangguk dan mengikuti Suster tersebut bersama Ibu dan Adiknya.


Tak berselang lama. Kini Suster sudah masuk dan berada di ruangan Dokter bersama keluarga Junwei.


"Dok, ini keluarga pasien." tukas Suster dan Dokter itu pun berhenti berkutat dengan hasil pemeriksaanya.


"Terima kasih, Sus. Sekarang anda bisa kembali bertugas." jawab Dokter itu dan Suster itu pun kini keluar meninggalkan keluarga Junwei bersama Dokter.


Sebelum memberitahukan hasil pemeriksaanya. Dokter itu mengajak berjabat tangan dan mempersilahkan keluarga Junwei agar segera duduk.


"Jadi begini ..." Dokter mulai menjelaskan secara rinci hasil pemeriksaanya pada keluarga Junwei.


Dokter mengatakan bahwa keadaan Junwei kini sangat lemah dan butuh perawatan khusus untuk kesembuhanya.

__ADS_1


Dan Dokter juga melarang Junwei untuk melakukan aktifitas yang bisa saja mengancam kesehatan jantungnya.


"Baiklah, Dok. Terima kasih sebelumnya telah menyelamatkan Papa saya." ucap Lee.


"Dok, apa sekarang saya sudah bisa menemui suami saya?" pinta Meydina.


"Bisa, tapi saya harap anda tidak mengganggu waktu istirahat pasien. Karena Pasien baru saja melewati masa kritisnya." tandas sang Dokter.


Selesai dengan obrolanya. Kini Lee bersama Meydina langsung menemui Junwei yang masih terbaring lemah di atas Bad hospitalnya.


"Mah, aku titip Papa. Aku harus pergi menyelesaikan tugas Papa yang harus di selesaikan saat ini juga." tukas Lee.


Meydina bangun dan memeluk Lee sambil menangis.


"Maafkan kami, Nak. Di hari menjelang pernikahanmu, kami malah membuatmu repot." ucap Diana yang membuat Lee tersenyum simpul.


"Mah, tak usah berpikiran seperti itu. Kalian berdua adalah orang tuaku. Dan sudah seharusnya aku membantu menyelesaikan semua ini demi keluarga kita." jawab Lee.


Sofia yang telah mendengar calon mertuanya masuk rumah sakit. Kini dirinya telah masuk ke ruangan Junwei di temani Sofia.


"Lee ..." panggil Kiana.


Lee melepas pelukan ibunya dan menoleh ke arah Kiana yang telah masuk dan memanggilnya.


"Bagaimana keadaan Papa sekarang?" tanya Kiana.


Lee menghela nafas dan menolehkan pandanganya ke arah Junwei yang masih terbaring pucat.


"Sakit jantung Papa kumat, dan Papa baru saja melewati masa kritisnya." jelas Lee.


Kiana memperhatikan wajah calon suaminya yang kini terlihat cemas dan gusar.


"Kau kenapa sayang?" tanya Kiana.


"Maafkan aku Kiana, saat ini juga aku harus pergi ke Hongkong untuk menyelesaikan permasalah proyek pembangunan Papa yang menemui kendala." jelas Lee.


Kiana tak bisa memaksakan ke egoisan untuk menahan tetap berada di sampingnya.


Dan Lee bisa menyadari dan merasakan kesedihan pada wajah Kiana yang sudah lama tidak di temuinya karena sibuk dalam pekerjaanya.


"Maafkan Aku sayang," Lee langsung memeluk Kiana dengan erat.


Tak ada ucapan yang keluar dari mulut Kiana selain air matanya yang kini mengucur deras.


"Aku sangat merindukanmu, Lee." Kiana menumpahkan kegundah gulanaanya pada Lee.


Lee mengecup kening Kiana dan tak ingin melepas pekukanya.


"Aku berjanji padamu. Aku tak akan berlama lama disana, dan aku akan datang pada hari sebelum pesta perkawinan kita di mulai." ucap Lee.


Dengan berat Kiana melepas pelukanya dan membiarkan Lee melangkah pergi menunaikan tugasnya di negeri Hongkong.


Jangan lupa like rate dan commentnya ok.

__ADS_1


__ADS_2