Polisi Cantik

Polisi Cantik
JAJAL KEKUATAN


__ADS_3

Adanya pertemuan tentunya pasti juga akan adanya perpisahan. Begitu juga Rombongan Letnan Bryan yang mau tidak mau harus pulang kembali ke New york dan berpisah dengan keluarga yang membesarkan Manila.


Rombongan Letnan Bryan kini telah berdiri di depan rumah Kediaman Ajie dan Sujiarty.


"Jangan pernah kapok atau merasa bosan. Berkunjunglah jika Pak Bryan nanti memiliki waktu libur yang panjang." ucap Pak Ajie.


"Pak Ajie bisa saja. Mana mungkin kami semua disini akan kapok." jawab Letnan Bryan.


Ibu Sujiarty dengan berat melepas tubuhnya yang masih memeluk Manila.


"Manila ... ingat!, Jika kau telah sampai disana, cepat kabari kami disini." Ibu Sujiarty mencium kening Manila yang sudah seperti putri kandungnya.


Manila mengangguk dan kemudian mencium punggung tangan Paman dan Bibinya secara bergantian bersama Lee dan yang lainya.


Rombongan Letnan Bryan kini perlahan melangkah meninggalkan Pak Ajie dan Ibu Sujiarty yang masih setia memandang kepergian dengan tangan yang di lambaikanya.


Berat rasanya untuk berpisah. Namun semua di lakukan Manila penuh ikhlas karena sebuah kewajibanya di kota.


"Apa kalian semua sudah siap?" tanya Arby yang telah duduk di bangku supirnya.


"Iya, Kami sudah siap." jawab Letnan Bryan mewakili yang lainya.


Mobil bus 3/4 yang di tumpangi rombongan Letnan Bryan kini mulai melaju meninggalkan kediaman keluarga Ajie.


Dari pintu busnya Manila masih berdiri sambil meneteskan air mata melambai lambaikan tangan membalas lambaian kedua tangan paman dan Bibinya yang makin lama makin jauh dari pandanganya.


Dengan berat hati kini Manila melangkah sambil menangis kembali ke tempat duduknya.


"Manila ... sudahlah. Mungkin nanti kalau kita memiliki waktu luang yang banyak kita akan kembali lagi kesini." ucap Lee sambil memberikan tisunya pada Manila.


"Benar yang di katakan Lee, Manila. Kau bisa kesini lagi. Iya, kan sayang?" ucap Grace sambil menoleh pada Bryan.


Mobil bus 3/4 yang di tumpangi Manila dan yang lainya kini telah sampai di bandara. Mereka semua satu persatu mulai turun dan memasuki area bandaranya.


"Apa kau sudah membooking tiketnya?" tanya Letnan Bryan yang mengantar keberangkatan mereka ke bandara.


"Sudah, Pak. Saya sudah membookingnya dari kemaren." jawab Arby.


Michael dan Sofia merapat pada Arby.


"Hei Sobat. Jangan pernah lupa untuk selalu mengabariku." pinta Michael sambil menepuk nepuk pundak Arby.


"Tenang saja, Aku telah menyimpan nomermu."


"Arby, perihal tentang sekolah academy kepolisian. Secepatnya aku akan mengabarimu. Jadi aku pinta, untuk kau selalu mengaktifkan handphone dan menjaga selalu kesehatanmu." ucap Letnan Bryan dan Arby pun mengangguk paham.

__ADS_1


Suara pengumam dari pengeras suara terdengar jelas di telinga Manila dan rekan yang lainya.


"By, Kita semua akan segera memasuki pesawat. Aku pinta padamu untuk menjaga Paman dan Bibi. Cepat kabari aku kalau ada terjadi sesuatu pada mereka." pinta Manila sambil meneteskan airmata perpisahan.


"Tenang saja, Manila. Aku akan menjaga dan melindungi mereka dengan segenap jiwa ragaku. Dan ingat! Kau masih mempunyai hutang janji padaku." Arby memeluk Manila yang sudah di anggapnya adik kandungnya.


Manila melepas pelukan dan mengajak Arby mengadu kepal.


"Iya, Aku berjanji padamu. Suatu saat nanti aku akan menjadi seorang polisi wanita yang hebat." tukas Manila yang menyebutkan janjinya.


Tangga masuk menuju pesawat kini sudah terbuka. Manila dan yang lainya kini perlahan meninggalkan Arby yang masih melambaikan tangan memandang kepergian mereka.


"Manila ... aku percaya padamu. Kini kau di kelilingi orang orang hebat yang selalu menyayangi melebihi nyawanya." Arby menunduk sedih sambil meneteskan air matanya.


"By." Seseorang memanggil nama sambil memegang pundaknya.


Arby dengan cepat menoleh kebelakang dan ingin mengetahui siapa gerangan yang memegang pundaknya.


"Guru ..." ucap Arby yang baru mengetahui bahwa Hanzo lah yang memegang pundaknya.


"Kenapa kau bersedih, Nak?" tanya Hanzo.


"Tidak, Guru. Mataku hanya kelilipan debu bandara saja." Arby segera mengusap air mata dengan punggung tanganya.


"Kau tak perlu mengkhawatirkan Manila lagi, By!. Karena aku sendiri juga yakin bahwa kau bisa merasakan kekuatan Lee." tukas Hanzo dan Arby pun menganggukan kepalanya.


Hanzo dan Arby melambaikan tanganya tinggi ketika pesawat yang di tumpangi Manila beserta rekanya telah terbang dan melintas di atas kepalanya.


"By, Aku belum ngopi. Bisakah kau pesankan guru segelas kopi hitam." pinta Hanzo sambil menggaruk kepalanya cengar cengir.


"Tentu saja, Guru. Ayo ikut aku." Arby melangkah ke arah Cafe bandara mengajak gurunya.


Di cafe bandara. Arby langsung memesankan segelas kopi hitam dan satu jus alpukat untuk dirinya.


Mereka berdua berbincang seputar perkembangan jurus yang di pernah di turunkan Hanzo padanya.


"By." Hanzo menunduk sambil memegangi bibirnya yang kini terasa asam.


"Iya, Guru." jawabnya.


"Gara-gara ular kadut." Hanzo mencoba berpantun ria.


"Cakep, guru." Arby tertawa renyah sambil menganggukan kepalanya.


"Bibirku kecut jadinya pengen udud." ucap Hanzo menutup pantunya.

__ADS_1


"Bhua ... ha ... ha. Bisa saja Guru ini." puji Arby pada Hanzo.


"Tapi By ..." Hanzo kembali menunduk malu dan tak berani melanjutkan perkataanya.


"Kenapa, Guru? Aku tahu, Pasti Guru tidak punya Rokok. Iya, kan?" tebak Arby yang sudah tahu dengan kebiasaan Gurunya.


"He ... He ...Iya, By." Hanzo tertawa terkekeh merasa tidak enak dengan muridnya.


Arby mengajak Hanzo agar keluar dari Cafe bandara karena di area seputar bandara memang di larang keras untuk merokok.


Kini mereka berdua berada di luar bandara dan berada di dalam bus 3/4 nya.


Seperti biasanya Arby yang sudah tahu akan selera rokok kretek Gurunya. Dirinya langsung menyerahkan dua bungkus Rokok yang bermerk Nyi nyam nyu pada Hanzo.


"Terima kasih, By. Kau memang muridku yang paling pengertian, tidak seperti Manila yang selalu cerewet dan menegurku ketika sedang menikmati rokok." ujar Hanzo.


Hanzo kini membuka bungkus Rokoknya dan segera mengambil sebatang untuk ia selipkan pada mulutnya.


Dengan setia Arby langsung menyulutkan korek apinya untuk menyalakan Rokok Gurunya.


Sebuah acungan jempol tanda kepuasan Hanzo pada Arby.


Klepas ... klepus ...


Semburan asap putih keluar dari mulut Hanzo.


"By, Aku ingin melihat perkembangan jurus yang telah aku wariskan tempo dulu padamu." pinta Hanzo pada Arby.


Dan dengan kekuatan teleportnya. Hanzo dengan cepat memindahkan Arby dan dirinya ke tengah hutan yang jauh sekali dari keramaian.


"Lakukan sekarang, By!" titah Hanzo sambil duduk manis menikmati kopi dan Rokonya.


Arby mengangguk dan kini mulai memejamkan mata mencoba memfokuskan hati dan pikiranya.


Aura hijau kini mulai keluar dari tubuhnya dan menyilakukan mata Hanzo yang masih terlihat asik menikmati kopi dan Rokonya.


"Cukup!" seru Hanzo yang merasa puas melihat perkembangan pada muridnya.


"Terima kasih, Guru."


Hanzo mengangguk dan langsung menghabiskan sisa kopi pada gelasnya.


"Sekarang, kau harus mengatakan pada orang tuamu bahwa mulai besok kau akan mulai tinggal bersamaku." titah Hanzo yang langsung di angguki Arby.


"Baiklah, Guru." Arby memberi salam hormat.

__ADS_1


Dan secepat kilat, Hanzo kini telah raib menghilang di hadapan Arby.


__ADS_2