Polisi Cantik

Polisi Cantik
MAKAN MALAM


__ADS_3

"Kalian habis dari mana?" tanya Manila yang tak sengaja melihat Lee dan Michael masuk lewat pintu belakang dapurnya.


"A ... anu ... anu. Kami ..."


"Kami habis mandi." Timpal Michael yang melanjutkan perkataaan Lee.


"Mandi?" Manila mengulang lagi apa yang di dengarnya.


"Iya, aku mengajak mereka berdua mandi di pancuran sana." ucap Arby yang kini telah bergabung dan membawa pakaian kotor Lee dan Michael.


"Ha ... ha ... ha." Manila tertawa geli membayangkan orang kaya yang pastinya kaku dengan keadaan sederhananya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Michael.


"Tidak apa apa, cepatlah masuk! Letnan sudah menunggu kalian di ruang makan." Manila melangkah pergi mengambil pakaian kotor yang di pegang Arby dan memasukanya ke dalam keranjang cucian.


Lee, Michael dan Arby kini berkumpul bersama keluarga Pak Ajie.


Lee menolehkan pandanganya mencari sesuatu yang sepertinya hilang di hadapanya.


"Kenapa kau berdiri mematung disitu, Lee? cepat duduk bergabung." ujar Bryan.


"Duduk dibawah?" tanya Lee dengan penuh ragu di dalam wajahnya.


Arby tertawa dan sudah bisa membaca dengan kebiasaan orang kaya yang selalu makan di meja dan kursi singgasananya.


"Teman, kita disini makan bersama dengan metode lesehan." ucap Arby memberitahu Lee.


"Apa itu lesehan?" tanya Lee sambil bersidekap meminta penjelasan.


Arby duduk di sebelah Ayahnya hingga jika dilihat, akan terbentuk sebuah lingkaran orang orang yang sedang menghadap pada makananya.


"Lesehan itu ya, kita makan di bawah seperti menggunakan klasa atau tikar sejenisnya." jelas Arby dengan simple dan di harap Lee dengan mudah memahaminya.


Manila yang baru datang. Langsung menarik Lee agar segera duduk bersamanya di ikuti Michael yang kini duduk di sebelah Sofia.


"Ayo kita berdoa dulu." ajak Pak Ajie pada Letnan Bryan.


Sejenak mereka semua hening. Memanjatkan doa, agar makanan yang akan mereka makan akan menjadi berkah untuk mereka semua.


"Sofia, bantu Kakak sayang." ucap Manila yang menyiapkan nasi berikut lauk pauknya untuk semua orang.


Tidak muluk muluk menu makan malam yang di sajikan malam itu. Keluarga Pak Ajie hanya membuat Ikan kakap merah bakar+ sayur asem+ lalapan dari daun singkong yang di rebus dan sambal terasi goreng sebagai pelengkapnya.


"Uhhhhh ... rasanya ... cuy." ucap Michael yang sudah terlihat ngos ngosan layaknya atlet marathon.

__ADS_1


"Pasti enak." tukas Manila dan mendapat anggukan dari Grace yang sedari tadi begitu lahap dalam makanya.


"Baru kali ini aku menemukan menu makan sangat lezat dan special seperti ini." Letnan Bryan berdecak kagum dan mengelap keringat di dahi dengan punggung tanganya.


"Tunggu sebentar, masih ada yang ketinggalan. By, bantu ibu sebentar." Bibi Manila melangkah ke arah dapur di temani Arby.


Dan tak berselang lama. Kini mereka berdua telah kembali membawa sepiring jengkol yang di semur dan beberapa papan petay gobang yang di pegang Arby.


"Apa itu?" tanya Letnan Bryan dengan sangat antusiasnya.


Ibu Sujiarty menaruh semur jengkol dan petaynya tepat di tengah kerumunan makan malamnya.


"Ini adalah Jengkol yang di masak ala semur." jelas Sujiarty.


"Dan yang seperti ular hijau itu apa?" tanya Grace yang tak kalah pemasaran dari suaminya.


"Ini, adalah petay gobang. Makanan tradisiona yang tumbuh di belakang rumah dan percaya sebagai pelengkap menu makan." jelas Pak Ajie dan Grace pun kini mulai mendekatkan tanganya mengambil satu papan petay tersebut.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mencoba yang ini saja." Letnan Bryan mengambil beberapa jengkol dengan sendok pada piringnya.


Di gigitnya secara perlahan jengkol tersebut sambil menoleh pada orang orang yang kini serius menatap dan menunggu tanggapanya.


Kedua mata Letnan Bryan membulat merasakan kedahsyatan rasa yang terkandung pada semur jengkolnya.


"Manila ... bisakah kau tambah porsi nasiku. Entah kenapa? rasanya aku tertantang dengan rasa masakan ini." Letnan Bryan menyerahkan piring yang terbuat dari tanah liat berlapis daun pisang itu pada Manila.


Setelah mendapat tambahan porsi nasinya. Letnan Bryan kini seperti orang yang baru melewati peperangan dia melahap jengkol tanpa memperdulikan orang orang di sekitarnya.


Sedangkan Grace sedari tadi terlihat masih bingung dengan cara mengupas petay gobangnya.


Ibu Sujiarty berinisiatif dengan cepat mengupaskan petay tersebut dan menyerahkanya pada Grace.


"Sayang ini juga enak loh." tukas Grace pada suaminya.


"Benarkah? tidak kah kau ingin mencicipi semur jengkol yang maha dahsyat ini?" Letnan Bryan menyuapkan nasi berikut jengkol di tanganya pada mulut istrinya.


Mereka berdua benar benar menikmati makan malamnya.


"Kamu mau jengkol, Lee?" Manila menyendokan 2 sendok jengkol pada piring yang terbuat dari tanah liat Kekasihnya.


"Apa rasanya enak?" Lee penuh ragu menatap kekasihnya.


Manila mengambil jengkol dan langsung memakanya di depan Lee.


"Enak ... dan tidak beracun kok." tukas Manila yang berhasil menyapu rasa ragu di hati Lee.

__ADS_1


Dengan segenap keberanian di dalam hatinya. Kini Lee membuka mulutnya lebar lebar dan memasukan satu jengkol ke dalam mulutnya.


"Bagaimana, enak?" Manila ingin tertawa karena melihat wajah Lee yang menahan enek memaksakan mengunyah jengkolnya.


"Habiskan! awas saja kalau sampai kau muntahkan." tegas Manila yang membuat Lee dengan terpaksa dan berat hati menelanya.


"Mi ... mi ..minum." Lee memegang lehernya merasakan seret akibat menelan jengkolnya.


Manila terus mentertawakan wajah kekasihnya yang sudah pucat akibat semur jengkol buatan Bibinya.


Lee menaruh piring dan menghentikan acara makanya.


"Sepertinya aku sudah kenyang." Lee bangkit dan meninggalkan sekumpulan orang yang masih menikmati acara makanya.


"Kenapa dia, Kak?" tanya Sofia yang melihat Kakaknya melangkah pergi.


"Sudahlah, mungkin Lee kenyang." ujar Manila.


Berbeda dengan Michael si play boy cap mlehoy. Ternyata dirinya mewarisi semangat yang sama dengan Bryan dalam menikmati semur jengkolnya.


"Enyak ... enyak." Michael mengunyah semur jengkol yang terasa empuk dan meledak ledak di lidahnya.


Sofia menoleh tertawa melihat Michael yang lahap makan di sebelahnya.


"Kau harus mencicipinya Sofia." ujar Michael.


"Sepertinya aku kurang suka dengan semur jengkol itu." jawab Sofia sambil menunduk meneruskan makanya.


"Sofia." panggil Michael dan Sofia pun langsung mengangkat wajahnya.


"A ..." ucap Michael dan Sofia pun membuka mulutnya mengucap huruf A.


Dengan cepat Michael menyuapkan nasi berikut jengkolnya ke mulut Sofia.


"Cicip dulu baru Comment." tukas Michael pada Sofia.


Sedikit demi sedikit Sofia mulai mengunyah makanan di mulutnya.


"Enak ...rasanya enak seperti jantung harimau." ujar Sofia.


"Mau lagi?" tanya Michael.


Sofia mengangguk mau dan kini membuka kembali mulutnya.


"Amm ...." Suara ketika michael menyuapi kembali Sofia.

__ADS_1


Manila hanya tersenyum melihat kedekatan antara Michael dan Sofia yang kini makin begitu mesra menurutnya.


__ADS_2