
Malam minggu mungkin kaula muda sudah tahu bahwa malam itu malam yang asyik buat pacaran.
Perbincangan antara Michael dan Arby terjeda dengan adanya panggilan masuk ke dalam handphone Arby.
"Sorry cuy, aku lupa kalau malam ini ada hiburan pasar malam." ucap Arby di dalam panggilan teleponya yang terdengar jelas di telinga Michael yang masih duduk di sampingnya.
"Ok Cuy. Aku langsung meluncur kesana sekarang juga." Arby mengakhiri panggilan masuk di handphonenya.
Sejenak Michael terdiam melihat Arby yang kini terlihat tergesa gesa melepas sarung dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Sepertinya dia akan pergi." gumam Michael.
Dan tak berselang lama. Arby telah kembali dengan style matching layaknya anak muda zaman Now.
"Kau mau pergi, By? tanya Michael yang kini terlihat murung.
"Iya, Chel. Temanku tadi menelpon mengajaku cari hiburan di pasar malam." ucap Arby.
"Kau mau ikut?" ajak Arby pada Michael.
"Boleh, kalau itu tidak membuatmu repot." jawab Michael yang kini terlihat senang.
"Ya sudah, cepat ganti bajumu dan aku akan menunggumu disini." ujar Arby sambil berkutat dengan handphonenya.
Michael dengan senang kini melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
"Darimana saja kau, Chel?" tanya Lee yang sudah membaringkan tubuh di atas tenpat tidur.
"Aku tidak kemana mana, dari tadi aku hanya nongkrong di teras depan saja." jawab Michael sambil melepas baju dan menggantinya dengan costume yang lebih keren.
"Lantas sekarang kau mau pergi kemana lagi? kenapa kau mendadak mengganti bajumu?" tanya lagi Lee.
Michael terkekeh dengan Lee yang kini terlihat kepo padanya.
"Arby mengajaku ke pasar malam. Yah, lumayan lah daripada aku BT di rumah seperti ini." jawabnya.
"Tunggu, aku juga mau ikut kalau begitu." Lee kini bergegas mengganti bajunya.
Setelah selesai. Mereka berdua kini keluar dari kamar menuju Arby yang sudah menunggunya sedari tadi di luar.
"Hei, kenapa hanya Michael yang kau ajak, By?" Lee yang merasa tidak terima.
"Sorry, tadi aku mengira kalau kau sedang asik bersama Manila. Makanya aku putuskan hanya mengajak Michael saja." ungkap Arby sambil memasukan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Mereka bertiga kini telah bersiap meluncur dengan sebuah motor andalan Mx kingnya yang berwarna yellow shark.
"Kita gayor saja." ujar Arby sambil menstater motornya.
Baru saja Lee mendudukan pantatnya setelah Michael. Tiba tiba saja Manila datang bersama Sofia.
"Kalian bertiga mau kemana?" Manila menatap curiga pada Arby yang sedang memegang setang motornya.
"Kami bertiga mau cari angin Manila," jawab Arby sambil mengocok ngocok gas motornya.
"Bilang saja kalau kalian mau pergi ke pasar malam." tebak Manila yang sudah tahu karena tadi siang dirinya tak sengaja lewat dan melihat pasar malam itu sedang di buat.
Ketiga lelaki tampan itu tersenyum malu. pada Manila.
Manila mengambil kunci kontak motor Arby dan memasukanya ke dalam saku celananya.
"Kau tidak boleh egois, By. karena aku bersama Sofia juga ingin ikut kesana." Manila melangkah dan kini meninggalkan ke tiga lelaki itu yang masih duduk gayor bertiga.
"Bagaimana ini?" tanya Michael pada Lee dan Arby.
"Apa boleh buat. Keberangkatan kita malam ini tak boleh gagal." ucap Arby sambil memandang Lee dan beralih memandang Michael.
"Kau mau apa?" tanya Lee dan Michael bersamaan pada Arby.
Lee dan Michael mengangguk setuju.
"Ok, Kalian berdua katakan pada Manila dan Sofia untuk segera mengganti bajunya. Dan aku akan mengambil mobil busnya dulu." ucap Arby seraya pergi meninggalkan Lee dan Michael.
Manila dan Sofia segera mengganti bajunya. Dan setelah selesai mereka berdua kini bergabubg dengan Michael dan Lee yang sedang menunggu Arby mengambil mobil busnya.
vroom ... vroom ...
Bus 3/4 yang di kendarai Arby kini telah datang dan berhenti tepat di hadapan mereka.
Lee, Michael, Manila dan Sofia kini telah naik ke dalam busnya.
"Mengapa kau sangat lama sekali, By?" tanya Lee.
"Bagaimana aku tak lama, kau lihat sendiri Pak Bryan bersama istrinya menghadangku di garasi karena mereka juga ingin ikut bersama kita.
Lee menolehkan pandanganya ke bangku paling belakang. Dan benar saja, ternyata Letnan Bryan dan Grace sudah terlihat duduk dengan posisi nyamanya.
Tak ingin berlama lama. Akhirnya bus 3/4 itu mulai melaju meninggalkan kediaman Manila menuju pasar malam yang jaraknya hanya 20 menit dari rumahnya.
__ADS_1
"Kak Manila. Apakah ini yang dinamakan pasar malam?" Sofia bertanya ketika bus yang di tumpanginya telah sampai dan terparkir di pinggir jalan.
Manila mengangguk memandang ke arah luar kaca busnya.
"Iya, dan aku yakin kau pasti akan menyukainya." Manila bangkit dari duduk dan kini melangkah menggandeng Sofia untuk turun dari busnya.
"Wah ... ramai sekali." Grace berdecak kagum.
Manila melangkah bersama di ikuti Grace bersama yang lainya dan mulai berbaur dengan para pendatang yang sudah berada di lokasi tersebut.
Michael berdecak kagum melihat sebuah mesin diesel yang berukuran besar mampu memutarkan sebuah kincir raksasa yang banyak di tumpangi orang di dalamnya.
"By, apa nama permainan ini?" tanya Michael sambil menunjuk ke arah kincir angin.
Arby terkekeh melihat Michael yang terlihat sangat penasaran.
"Itu namanya kincir angin, Chel. Mungkin di new york sana Kincir manual seperti ini sudah di ganti dengan yang lebih modern." jelas Arby.
"Lantas, kalau yang itu apa?" Kini Lee yang bertanya karena melihat sebuh perahu besar terayun.
"Oh, itu. Orang orang disini menamakanya ombak banyu." jawab Arby dan Lee pun mengangguk paham.
Manila menarik tangan Lee dan mengajak untuk segera menaiki wahana permainan ombak banyunya.
Lee menghentikan tangan Manila dan kini terlihat ragu di wajahnya.
"Kau kenapa? aku tahu, pasti kau takut dan tidak mempunyai nyali untuk naik ke wahana ombak banyu itu?" tebak Manila.
"Tidak ... tidak, aku berani kok." jawab Lee dengan segenap keberanianya.
Lee dan Manila kini memberikan tiketnya pada petugas yang sedang berjaga menunggu wahana ombak banyunya.
Dengan tubuh yang sudah bergetar Lee terus memaksakan langkahnya menaiki dan duduk pada kursi yang sudah tersedia.
Penumpang yang berdatang untuk menaiki ombak banyu kini telah memenuhi wahana tersebut. Dan tinggalah Joki memulai menjalankan mesinya.
Semua penumpanng berteriak sekencang kencangnya ketika ekor perahu mulai terangkat dan di ayunkan ke depan dengan se edan edanya.
Manila terus tertawa melihat wajah kekasihnya yang terpejam ketakutan dengan tangan yang tak lepas memeluk Manila dengan eratnya.
"Ahhhhh ..." teriak Lee sambil menyembunyikan wajahnya di dada Manila.
"Cup ... cup ... cup." Manila mengelus kepala Lee sambil tertawa lucu.
__ADS_1