
Di apartement. Manila kini terlihat baru selesai mengepack semua pakaianya. Ternyata niat untuk resend dan pulang untuk menetap di kampung halamanya bukanlah hisapan jempol belaka.
"Maafkan aku Lee ... Aku kini merasa tak pantas pantas bagimu." Manila menangis merasakan tubuhnya yang kini kotor dan ternoda akibat perlakuan bejat si Dukun cabul padanya.
Bayangan ketika si Dukun cabul ketika menghipnotis Manila.
Beberapa kepingan memori perlakuan bejat yang pernah dilakukan si Dukun cabul tak hentinya terus menghantui Manila. Membuat Manila merasa tidak berguna dan ingin mengakhiri saja hidupnya.
Di dalam keputus asaanya. Manila bangkit dan keluar dari kamarnya menuju dapur apartementnya.
Di edarkanya pandangan Manila mencari suatu benda tajam yang ia pikir bisa untuk memutus urat nadi sekaligus mengakhiri hidupnya yang sudah tidak berguna itu.
Setelah tak berselang lama. Pandanganya kini tak sengaja mengarah pada sebuah pisau yang tergeletak di meja dapurnya.
"Itu dia." Manila bergegas mengambil pisau tajam itu untuk melukai pergelangan tanganya.
Di pegangnya pisau tajam itu sambil menangis. Matanya memejam seiring dengan pisau yang sudah ia tempelkan di atas urat nadinya.
"Maafkan aku ... Lee." Manila menangis sambil menggerakan pisaunya untuk memotong urat nadinya sendiri.
"Kakak Jangan!" Sofia yang datang langsung menubruk tubuh Manila hingga terjatuh bersama pisau yang di pegangnya.
Darah segar kini mengalir dari pergelangan tangan Manila. Dan membuat Sofia yang pernah mengalami trauma berat menjadi sadar dan bisa mengingat semuanya.
"Tolong ... tolong ...," teriak Sofia yang terdengar oleh supirnya yang masih berdiri di luar kamar apartement Manila.
Sang supir yang mendengar teriakan Sofia. Kini dirinya langsung menerobos masuk ke dalam kamar apartement Manila.
Dirinya terus berlari ke arah suara Sofia berasal. Dan setelah menemukanya, Sang supir langsung membulatkan mata melihat dua wanita yang sudah bersimbah darah di hadapanya.
"Nona Sofia ada apa ini? mengapa bisa begini?" tanya supir yang benar benar kaget di buatnya.
"Pak, tolong selamatkan Kak Manila. Aku mohon." pinta Sofia pada Supirnya.
Sang supir yang sudah melihat luka iris di pergelangan tangan Manila. Dirinya langsung menggunakan handuk kecil yang selalu ia bawa untuk mengikat tangan Manila guna menghentikan laju pendarahanya.
Sang supir kini bangkit dan membopong Manila dan kemudian berlari di ikuti Sofia dari belakang menuju mobilnya.
__ADS_1
"Nona Sofia, tolong buka pintu mobilnya." pinta supir dan Sofia pun langsung membukakan pintunya.
Setelah pintu terbuka si supir langsung menyuruh Sofia agar masuk terlebih dahulu. Dan kemudian memasukan Manila dan menumpangkan kepala Manila di atas pangkuan Sofia.
Si supir dengan gugup langsung menutup pintu mobil dan berlari masuk ke jok supirnya.
"Bertahanlah Nona." gumam si supir yang langsung menginjak pedal gas mobilnya menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Sofia tak hentinya menangisi keadaan Manila yang masih tak sadar bersimbah darah.
"Kak ... aku mohon. Bertahanlah." pinta Sofia yang menangis melihat keadaan Manila.
Sang supir kini terlihat mengendarai mobil se edan edanya. Dipikiranya kini hanya terlintas bagimana caranya agar dia bisa menyelamatkan Manila yang notabenya adalah kekasih hati Lee yang di canangkan akan menjadi nyonya pendamping tuan Lee.
Mobil yang di kendarai supir. Kini telah berhasil sampai di depan rumah sakit. Ia langsung keluar dari jok mobil dan langsung mengeluarkan Manila dari dalam mobilnya.
"Pak, cepatlah berlari. Selamatkan nyawa Kak Manila. Biar saya yang urus semuanya." titah Sofia pada supirnya.
Supir itu mengangguk paham dan kini kembali berlari se edan edanya memasuki rumah sakit dan tak memperdulikan receptionis yang sudah memanggil manggilnya.
Sang Receptionis hendak menelpon keamanan namun Sofia langsung menahanya.
Sang supir yang yang membopong Manila terus berlari dengan mata yang ia edarkan mencari ruang UGD.
"UGD mana UGD?" teriak si supir pada orang orang yang di lewatinya.
Salah satu Dokter yang tak sengaja melintas langsung saja menghadang laju perjalanan si supir.
"Ada apa ini?" tanya Dokter dengan cemas.
"Tolong majikan saya, Dok. Saya mohon." pinta supir itu dengan sangat.
Sang Dokter mengangguk dan langsung menggunakan jari jempolnya untuk membuka pintu akses masuk menuju UGDnya.
"Ayo, Pak. Cepat bawa masuk!" titah Dokter itu.
Manila langsung di baringakan di atas bad hospital dan di tangani oleh Dokter dan beberapa tim medis lainya.
Sementara sang supir kini terlihat duduk dengan wajah harap harap cemas menunggu kabar selanjutnya dari Dokter tentang Manila.
__ADS_1
Di dalam merasakan lelahnya. Mata sang supir tak sengaja terpejam. Namun apes, belum 3 detik ia memejamkan matanya, Lee datang bersama Michael di temani Letnan Bryan yang membawa Grace istrinya.
Pak Karsito, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Lee sambil mengangkat kerah supir pribadinya.
Belum sempat menjawab pertanyaan dari Lee. Kini tubuh si supir langsung di tarik oleh Michael.
"Pir, bagaimana ceritanya? Kenapa Manila bisa sampai di larikan ke rumah sakit?" Michael dengan geram menarik kerah supir pribadi Lee.
Lee yang merasa tak mendapat gubrisan dari pertanyaanya. Langsung menarik kembali supir dan menarik kerahnya.
"Iya, Tuan. Jadi begini ceritanya ..." sungguh sial nasib supir itu. Kini Letnan Bryan yang menarik supir itu dari tangan Lee dan ikut ikutan pula mencengkram kerahnya.
Tak hanya itu. Kini Grace melangkah dan berdiri di samping Letnan Bryan dengan mengepal tangan sebagai bogem untuk mengancam si supir yang baru saja di lepaskan Bryan.
"Jadi begini ceritanya ...
"Ceritakan yang benar, sesuai kronologisnnya! bentak Bryan yang memotong perkataan si supir.
Supir itu mengangguk dan menghela nafas kembali berniat memulai ceritanya.
"Jadi begini pas ketika saya baru ...
"Dari tadi aku dengarkan kenapa kamu baru ngomong!" Michael dengan jengkel menjenggul kepala si supir dengan tanganya.
"Iya ini saya akan mulai kok ceritanya." jawab supir yang sudah mulai merasa putus asa dengan keadaan yang tak memihak sama sekali padanya.
"Saya mulai cerita nih ..." ucip si supir yang lagi lagi terhenti karena tiba tiba saja Lee menariknya ke pojok.
"Saya tidak butuh cerita! saya butuh fakta! Camkan itu!!" bentak Lee sambil menunjuk muka supirnya.
Bugh ...
Michael yang datang langsung menubruk si supir hingga makin terpojok.
"Iya, Betul itu. Kami butuh fakta. Bukan cerita!" timpal Michael.
Si supir makin terlihat bersedih. Di dalam hati kecilnya bertanya, kenapa buruk sekali nasibnya hari ini harus tergonjang ganjing kesana kemari.
"Eh ... eh ... , bukanya cerita malah mau menangis." tunjuk Letnan Bryan ke arah muka si supir yang sudah meneteskan air mata kesedihan jiwanya.
__ADS_1
Hei ... tinggalkan like dan commentnya ya! biar cepat updatenya.