Polisi Cantik

Polisi Cantik
LAMARAN SEDERHANA


__ADS_3

Selesai dengan acara makan malam keluarga. Kini Letnan Bryan bersama Grace istrinya terlihat sedang duduk di ruang keluarga bersama Pak Ajie dan istrinya.


Dengan handphonenya. Letnan Bryan memerintahkan agar lee segera datang dan bergabung bersama keluarga Pak Ajie selaku paman dari Manila.


Dan tak berselang lama. Lee kini telah datang bersama Manila dan mereka berdua kini duduk di kursi ruang keluarga dengan jarak berhadap hadapan.


"Pak, Ajie. Sebelumnya saya mewakili atas nama yang lainya. Ingin memohon maaf kepada anda sekeluarga. Karena kedatangan kami disini telah membuat repot anda sekeluarga." Letnan Bryan mengawali percakapan resminya.


"Pak Bryan tidak usah merasa sungkan seperti itu kepada kami. Iya, kan. Bu." jawab Pak Ajie yang kemnudian menoleh pada istrinya yang mengangguk.


"Dan selain dari itu juga. Sebenarnya kedatangan kami kemari tiada lain dan tiada bukan adalah mewakili keluarga Lee untuk melamar Manila." jelas Letnan Bryan pada Paman dan Bibi Manila.


"Melamar Manila?" tanya Pak Ajie memastikan apa yang baru saja ia dengar.


"Benar sekali Pak Ajie. Lee tak memiliki orang tua, sebab dari itulah saya sebagai orang yang sudah di anggapnya menjadi Kakak, ingin memperjelas hubungan antara Manila dan Lee." tukas Letnan Bryan.


Pak Ajie mengangukan kepala tanda mengerti dan memahami.


"Bagaimana, Bu?" Pak Ajie meminta pendapat istrinya.


"Sebagai orang tua wali Manila, semua saya serahkan kembali pada Manila yang akan menjalankanya." jawabnya.


Manila terdiam tak percaya. Dirinya tak pernah mengira akan niat Lee yang tidak main main dalam hubunganya.


"Manila ... apa kamu menerima lamaran dari Nak Lee?" tanya Ibu Sujiarty dengan sungguh sungguh.


Setelah memantapkan hati dan pikiranya. Akhirnya Manila mengangguk dan mengiyakan lamaran dari Lee padanya.


"Dan satu lagi, Pak Ajie. Untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan, Kami ingin sekali mempercepat proses pernikahan mereka berdua. Bagaimana?" pinta Letnan Bryan pada Keluarga Ajie.


"Lebih cepat itu lebih baik. Mengingat usia Manila yang kini telah menginjak 25. Saya ingin Manila tidak menyandang status perawan tua. Benar, kan. Bu?" ujar Pak Ajie yang terlihat senang mendengar itu.


"Manila, jika nanti kau sudah menjadi istri sah dari Nak Lee. Kau harus berjanji pada Bibi agar nanti kau menjadi istri yang baik dan patuh pada suamimu." tandas Ibu Sujiarty.


"Iya, Manila berjanji." Manila menunduk malu.


Acara lamaran yang sederhana. kini berjalan sesuai rencana.


Berpindah pada Michael yang sedang duduk di dipan atau amben teras rumahnya. Dirinya kini terlihat asik memandang langit yang bertabur bintang.

__ADS_1


"Michael ..." panggil Arby yang duduk di sebelahnya.


Michael menolehkan pandanganya pada Arby.


"Ada apa, By?" tanya Michael.


"Kau mau aku buatkan kopi?" tawar Arby pada Michael.


"Boleh saja, kalau tidak merepotkanmu." ujar Michael.


Arby mengangguk dan melangkah pergi. Dan tak berselang lama ia kini kembali membawa kedua gelas kopi dan menaruhnya di depan Michael.


"Thanks, By." ucap Michael sambil mengangkat gelas kopi dan meniupinya sebelum meminumnya.


Arby mengangguk dan mengikuti Michael yang menyeruput kopi hitamnya.


"Hei, ini malam minggu. Kenapa kau tidak pergi menemui kekasihmu?" tanya Michael.


Arby tertawa mendengar pertanyaanya.


"Dia tak ada disini." jawab Arby yang di sambung kembali menyeruput kopi hitamnya.


"Memangnya kekasihmu kemana?" tanya lagi Michael yang merasa sedikit penasaran.


"Ya elah, busyet. Kaget sih kaget! Kenapa kau harus sampai menyemburku dengan kopi hitamu." Arby mendengus kesal sambil mengelapi wajahnya dengan sarung yang ia gunakan.


"Sorry, aku gak sengaja. Kenapa kekasihmu bisa berada di palestina? Bukanya disana sering terjadi kekacauan karena perang israel dan palestina?" Michael kini terlihat antusias mendengar alasan apa yang akan di kemukakan Arby padanya.


"Entahlah ... aku sendiri tidak tahu pasti akan jawabanya. Dia selalu berkata padaku ingin berjuang membantu rakyat palestina tanpa memikirkan nyawa dan keselamatanya." jelas Arby dengan wajah yang kini menunduk dan terlihat sedih.


Michael yang merasa iba segera merangkul Arby yang belum lama ini menjadi teman dan sahabatnya.


"Hei, ngomong ngomong. Rambutmu sepertinya panjang sekali?" tebak Michael yang melihat rambut Arby yang selalu di gelungnya.


"Benarkah ...?" Arby melepas ikat rambut yang menggelung rambut panjangnya.


Michael terbelalak kaget melihat Arby yang kini terlihat cantik dengan rambut panjangnya.


"Hei, tidak usah pasang muka kaget seperti itu! awas saja kalau kau sampai jatuh cinta padaku, ingat! aku ini masih normal!" Arby mengikat kembali rambut panjangnya.

__ADS_1


"Unik ... wajahmu sangat unik, By." puji Michael.


"Unik sebelah mananya?" tanya Arby.


"Aku baru pertama kali melihat pria yang bisa terlihat seperti wanita ketika melepas ikatan rambutnya, Bhua ... ha ...ha." ejek Michael dan Arby pun mendengus kesal.


Setelah puas dengan tawaanya yang mengejek. Kini Michael kembali terlihat serius di hadapan Arby.


"Apa pekerjaanmu?" tanya Michael yang semakin Kepo.


"Pekerjaanku?" Arby menatap Michael yang memandangnya menunggu jawaban sambil menganggukan kepalanya.


"Aku hanya seorang Enginering di sebuah perusahaan yang bergelut di bidang sepatu sport." jelas Arby.


"Apa kau tidak tertarik untuk menjadi seorang polisi seperti kami?" tanya Michael dengan serius.


"Kasih tahu gak ya?" Arby berpikir sekaligus mengulur waktunya.


"Chel, kamu pengen tahu banget apa biasa saja?" tanya balik Arby.


Michael mendengus kesal pada Arby yang kini banyak berlagak di hadapanya.


"Cih .. lama sekali, padahal menurutku kau tinggal menjawab mau atau tidak." Kini Michael lah yang merasa jengkel di buatnya.


"Aku mau ... aku mau. Tapi ... menjadi seorang polisi kan harus melalui beberapa tahap kualifikasi?" tandas Arby.


"Bisa di atur, asalkan kau mau bekerja sama membantu kami. Aku akan mencoba berbicara pada Om Bryan untuk menyekolahkanmu di academi kepolisian new york." ujar Michael.


Michael menolehkan pandanganya ke arah pintu rumah.


"By, dari tadi aku tak melihat Lee. Apa kau tahu dia dimana?" tanya Michael.


"Yang aku tahu, Pak Bryan bersama istrinya dan juga Lee sedang berbicara serius tentang hubungan Manila dan Lee. Mungkin, bisa dikatakan melamar, gitu." jawab Arby dengan santainya.


"Dari mana kau bisa tahu, By? kau kan sedari tadi duduk disini bersamaku?" tanya Michael yang enggan mempercayai kata kata Arby.


"Hei, apa kau lupa! walau amateuran begini. Akulah yang menulis cerita tentang Manila si polisi cantik!" tegas Arby sambil menikmati kopinya yang tinggal separo.


Michael tertawa sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"He ... he ... he. Maaf aku lupa." Michael memaksakan senyumnya untuk menutupi rasa malunya.


Hai ...Hai jangan lupa klik favourite dan tinggalkan likenya jika kalian suka. Oke.


__ADS_2