
Dari Busnya. rombongan Manila langsung di sambut hangat oleh keluarga Pak Ajie dan Sujiarti yang tiada lain dan tiada bukan adalah Paman dan Bibi dari Manila.
"Selamat datang di gubuk reot kami." ucap Paman Manila menyambut sekaligus menyapa rombongan Manila yang kini sudah turun dari bus dan berdiri di hadapanya.
Manila langsung mencium kedua punggung tangan Paman dan bibi yang di lanjutkan memeluk melepas rasa kangenya.
"Ah, anda bisa saja Pak." balas Letnan Bryan membalas sapaan Paman dari Manila.
"Manila ... tolong ajak masuk semua ke dalam ya." pinta Suhjiarti bibinya Manila.
Manila mengangguk dan langsung mengajak Letnan Bryan dan yang lainya untuk segera memasuki rumahnya.
Rumah sederhana yang bernuansa classic dan natural. Hampir semua langit langit terbuat dari pring wulung( bilik hitam).
Mereka semua kini duduk diruang tamu. Dan Manila langsung menyuguhkan mereka air putih yang berasal dari sebuah kendi untuk mengganjal rasa haus mereka sementara.
"Ah ... rasanya dingin dan menyegarkan di tenggorokan." ucap Grace yang setelah meminum habis air putih di gelasnya.
"Benarkah ..." tanya Bryan yang belum percaya.
Bryan mencoba meminum setengah air dari gelasnya dan sejenak terdiam merasakanya.
"Iya, ternyata kau benar sayang. Airnya terasa sekali berjalan melewati tenggorokan dan meninggalkan rasa segar dan dingin secara alami." decak kagum Bryan yang kini langsung menghabiskan sisa air dari gelasnya.
Manila tertawa dengan orang kota yang jarang atau bahkan tak pernah menemukan air kendi khas orang kampung.
"Memangnya yang kau pegang itu apa Manila?" tanya Michael yang sedari tadi penasaran dengan kendi yang masih di pegangi Manila.
Manila mengangkat kendinya dan memperlihatkanya pada Michael.
"Ini kendi namanya. Bisa di katakan Teko nya orang kampung." jawab Manila yang di angguki Sofia dan Michael.
Dan kemudian Manila menuang kembali air kendinya pada gelas Letnan Bryan dan Grace di susul Michael dan Sofia yang menganggkat gelasnya minta tambah.
Pak Ajie dan Ibu sujiarti kini telah datang dan duduk bergabung bersama rombongan Manila di ruang tamunya.
"Sepertinya anda semua terlihat kelelahan. Sebaikanya anda semua beristirahat terlebih dahulu sambil menunggu masakan kami matang." ucap Paman Ajie pada Letnan Bryan dan yang lainya.
"Aduh ... jadi tidak enak ini." Bryan menggaruk kepalanya merasa tidak enak pada keluarga Pak Ajie yang sangat ramah memperlakukanya.
Paman Ajie menoleh pada putranya yang memiliki nama lengkap Arby Yingjun Sujiarty.
"Arby, tolong kau antar Pak Bryan dan yang lainya ke kamar yang sudah kita siapkan sebelumnya." titah Paman Ajie pada putranya.
__ADS_1
"Iya, Ayah." Arby mengangguk dan langsung mengajak Letnan Bryan dan yang lainya.
Letnan Bryan melangkah dan yang lainya mengikuti Arby dari belakang.
"Silahkan masuk, Pak." ucap Arby yang baru membuka pintu kamar untuk Letnan Bryan.
Letnan Bryan mengedarkan pandanganya ke seluruh area kamar yang akan di tempatinya.
"Maaf, kalau kamar yang kami sediakan. Kurang berkenan di hati perwira tinggi seperti anda." ujar Arby sambil memaksakan senyumnya.
Letnan Bryan memegang pundak Arby dan tersenyum.
"Ini sudah sangat luar biasa. Aku bersama istriku sangat menyukai kamar yang bernuansa alam ini." ucap Letnan Bryan menepis anggapan Arby.
Arby mengangguk dan kini pamit keluar dari kamar menyusul Lee, Michael bersama Sofia.
"Maaf, membuat kalian menunggu." Arby melangkahkan kembali menuju kamar selanjutnya.
Dan tak berselang lama. Kini Lee, Michael dan Sofia telah masuk ke dalam kamar yang ukuranya sedikit lebih besar dari kamar Letnan Bryan dan memiliki tiga tempat tidur tentunya.
"Tempat tidurnya ada tiga?" Michael bertanya pada Arby.
"Iya, satu untuk Tuan Lee dan anda, Dan yang satunya tentu saja untuk saya. Ha ... ha .." jawab Arby dengan santai.
Lee menyenggol bahu Michael dengan dengan tanganya merasa tidak enak.
"Kau jangan khawatir. Sofia akan tidur bersamaku." Manila datang dan langsung menggandeng Sofia.
Lee mengusap dadanya merasa bersyukur dan senang.
"Ya sudah, aku akan mengajak Sofia terlebih dahulu ke dalam kamarku." Manila melangkah bersama Sofia meninggalkan ke tiga lelaki dewasa yang memiliki tampang lumayan tentunya.
Lee mengangguk dan kini mulai mendudukan dirinya di bibir kasur memunggungi Michael dan Arby.
"Aku harap kalian akan merasa nyaman tinggal sementara disini bersama kami." ujar Arby yang kini juga mulai duduk di atas tempat tidurnya.
Lee dan Michael mengangguk dan mulai menaruh punggung mereka di atas tempat tidurnya masing masing.
Arby turun dari tempat tidur dan kini berdiri mengambil handuk baru bermerk gucci di dalam lemari kayunya.
"Apakah kalian ingin mandi terlebih dahulu." tanya Arby pada Lee dan Michael.
Michael dan Lee beradu pandang dan mengangguk mantap.
__ADS_1
"Iya, kebetulan sekali. Badanku sudah terasa lengket sekali." jawab Michael mewakili Lee.
Arby memberikan masing masing handuknya pada Lee dan Michael. Dan kemudian mengajaknya kesebuah tempat yang tak begitu jauh dari rumah kediaman mereka.
"Mau di bawa kemana kita Lee?" tanya Michael sambil menenteng ember kecil wadah sabunnya.
"Entahlah ... kita ikuti saja dia." jawab Lee.
Michael dan Lee sejenak terlihat seperti orang bingung ketika Arby tiba tiba saja menghentikan langkah di depan Bilik persegi yang di dalamnya terdapat pancuran air dari pipa yang terbuat dari bambu.
"Kita mandi disini." ujar Arby dan membuat Michael tertohok kaget.
"Mandi disini?" tanya lagi Lee sambil mengerutkan dahinya dalam.
"Iya, pakai ini!" Arby memberi celana kolor untuk petelesan( celana untuk menutup khusus untuk mandi) pada Michael dan Lee.
Dengan perasaan terpaksa mereka mengangguk dan mulai melucuti pakaian dan kemudian memberikan pada Arby untuk di gantungnya pada paku yang telah tersedia di sebuah pohon dekat tempat pemandianya.
"Pasti kalian merasa kurang nyaman. Tapi beginilah adanya." jelas Arby.
Setelah mereka bertiga menggunakan kolor petelesanya. Michael menggaruk kepalanya.
"Apakah Manila mandi disini juga?" tanya Michael dan Arby pun mengangguk mengiyakanya.
"Wah ..." pikiran kotor seketika melintas di kepala Michael.
Plak ...
Lee memukul kepala Michael dan membuat langsung tersadar dari lamunan joroknya.
"Hentikan Viktor itu, dan cepatlah mencari pasangan." tukas Lee yang tidak senang dengan Viktor Sahabatnya.
Michael dan Lee bergantian membasahi dirinya dengan air yang mengalir dari pancuran tersebut.
"Airnya dingin sekali." ujar Michael dengan tangan yang menggosok badan dengan sabun mandinya.
"Iya, benar. Dingin sekali." jawab Lee.
Setelah selesai. Arby memberikan pakaian ganti yang barunya pada Lee dan Michael.
"Apa sering ada orang mengintip mandi disini?" tanya Michael dengam keisenganya.
"Tidak ada." jawab Arby.
__ADS_1
"Ayo. kita harus kembali. Karena makan malam sudah siap sepertinya." Ajak Arby pada Lee dan Michael sambil menenteng pakaian kotor mereka bertiga.