
Perjalanan pulang menuju rumah, Mau tidak mau harus menempuh jarak yang begitu jauh dari biasanya. Namun semua tetap di lakukan Lee daripada harus menunggu kemacetan parah pada jalur yang biasanya ia tempuh.
Langit cerah pada siang itu kini berubah menjadi hitam mendung. Merubah langit yang tadinya tersenyum terang menjadi gelap gulita.
"Sepertinya akan terjadi hujan yang sangat lebat sekali." ucap Lee yang melihat ke arah luar kaca mobilnya.
Sejenak Lee menghidupkan Radio mobilnya untuk sekedar mendengar berita terbarunya.
Hingga pada akhirnya. Lee menghentikan pencarian chanel radionya pada sebuah siaran yang memberitakan prakiran cuaca hari ini.
"Di beritakan akan terjadinya hujan badai yang di sertai petir pada hari ini. Untuk semua warga di harap tenang dan tidak melakukan aktifitas perjalanan jauhnya." ucap si penyiar radio yang terdengar di telinga semua orang yang berada di dalam mobil tersebut.
Tak berselang lama. Siaran radio tersebut menghilang berubah menjadi suara yang cuma kemeresek dan Lee memilih mematikan radio tersebut.
Sang supir yang sudah tahu seluk beluk jalan pintas, dirinya memilih jalan keluar dari tol dan memilih jalan perkampungan yang sepi namun di anggap lebih cepat dari jalur yang biasanya.
"Tempat ini ..." gumam Lee yang mengingat ngingat dimana ia pernah melihatnya.
Seperti De javu semua jalanan yang di lewati Lee tak jauh berbeda dan hampir sama dengan mimpi buruk yang pernah di alaminya ketika berada di pesawat.
"Kalian baik baik saja kan?" tanya Lee sambil memperhatikan semua penumpang yang duduk di belakangnya.
Namun Lee tak mendapat jawaban karena semua penumpang yang berada di belakang Lee sedang tertidur lelap.
Wajah Lee kini memucat. Rasa takut bercampur gelisah kini bercampur menjadi satu di dalam benaknya.
"Apakah tak jalan lain selain ini?" tanya Lee pada supirnya.
"Tak ada Tuan." jawab sang supir.
Tak berselang lama seseorang melempar beberapa telur ke arah kaca mobil Lee yang sedang berjalan dengan kecepatan sedang.
Sang supir yang kaget langsung menambah kecepatan whispernya untuk menyapu kotoran yang menempel pada kaca mobinya.
Bukanya semakin bersih. Kaca mobil Lee malah menjadi semakin buram dan sang supir tak bisa melihat jelas ke depan.
"Ada apa ini?" Lee semakin gugup dengan supir yang kini mulai oleng mengendarai mobilnya.
"Maafkan aku Tuan, sepertinya kita di hadang para bajingan jalanan." tukas sang supir sambil menambah kecepatan mobilnya.
"Apa maksudmu ...?" Lee semakin bingung.
Tanpa menggubris pertanyaan dari Lee. Sang supir terus menancap kecepatanya mencoba menghindari pengejaran beberapa mobil yang terlihat dalam kaca spionya.
"Tuan, ada apa ini?" tanya Noval yang terbangun mendengar nada bicara Lee yang meninggi.
Lee membalikan bandan pada Noval yang duduk di belakangnya.
"Kita sedang di kejar para bajingan." ucap Lee.
Noval menoleh ke arah yang di tunjukan mata Lee kepadanya.
Noval sejenak berpikir mencari jalan keluar yang tepat untuk permasalahanya.
"Sebisa mungkin anda selamatkan Nyonya, Kiana dan Sofia. Selebihnya saya akan menghandle mereka semua." ucap Noval.
__ADS_1
"Ide bodoh macam apa yang terlintas dalam pikiranmu!" Lee membentak Noval dan membuat semua orang terbangun mendengarnya.
Dorrr .... pesssss~~
Sang supir makin lepas kendali, ketika para bajingan yang mengejarnya berhasil menembakan pelurunya tepat mengenai ban mobil hingga menyebabkanya pecah dan membuatnya oleng seketika.
Jalanan gelap dan kurangnya penerangan jalan membuat sang Supir makin kepayahan di buatnya.
Ckitttt ... JGERRRR ....
Mobil yang di tumpangi beserta rombonganya menabrak sebuah pohon besar. Dan menyebabkan semua penumpang pingsan seketika.
Kepala Lee membentur dashboard mobil dan mengalami pendarahan hebat.
"Ayo, kita bereskan semuanya dan jangan tinggalkan jejak sedikit pun." titah ketua komplotan pada beberapa anak buahnya yang baru turun dari mobilnya.
Beberapa komplotan itu langsung menghampiri Mobil Lee yang mengalami rusak parah tersebut.
Dan dengan kasar beberapa komplotan itu menarik paksa Kiana, Sofia dan Noval. Kemudian meninggalkan Ibunda Lee yang meninggal di tempat.
"Lepaskan ... lepaskan aku!" Kiana berteriak teriak di tengah derasnya hujan.
Kiana dan Sofia terus melakukan pemberontakan.
Plak ...
Sebuah tamparan melayang dan menyebabkan Sofia pingsan seketika.
Kiana yang merasa terancam langsung menggigit tangan orang yang mencengkramnya.
"Haruhhhh ..." pekik seorang komplotan yang kesakitan karena tanganya telah di gigit oleh Kiana.
Noval menoleh ke arah Kiana sambil menangis.
"Kiana ... cepat lari selamatkan dirimu!" seru Noval.
Kiana menatap Noval sambil menggelengkan kepalanya.
Bugh ...
Seseorang memukul kepala bagian belakang Noval hingga jatuh tersungkur.
Noval menatap ke arah Kiana sambil menangis.
"Lari ... larilah sejauh mungkin." titah Noval yang langsung tak sadarkan diri karena kepalanya kini berlumuran darah.
Kiana mengangguk dan langsung berlari ke arah perkebunan kecil menghindari pengejaran komplotan yang terus mengejarnya.
Sementara beberapa komplotan lagi terlihat terus memandangi keindahan tubuh Sofia yang mulus dan memabukan.
"Bos, apa boleh kita mencicipi tubuh gadi ini sebelum menghabisi nyawanya?" tanya beberpa komplotan tersebut pada bosnya.
"Terserah kalian saja.Tapi kau keluarkan terlebih dahulu lelaki yang pingsan di dalam mobil itu dan kalian ikat di pohon itu besar tersebut.
Lee yang masih tak sadarkan Lee karena luka pendarahan di kepalanya. Dirinya kini di seret secara kasar dan paksa dan kemudian di ikatkan pada sebuah pohon besar yang jaraknya tak jauh dari Sofia.
__ADS_1
"Sudah, Bos." tukas beberapa komplotan tersebut.
"Baiklah, aku pergi membantu yang lainya mengejar wanita tadi yang sempat melarikan diri." ucap sang Bos komplotan yang langsung berlari ke arah Sofia tadi kabur.
Mata dan lidah beberapa komplotan itu kini sudah terlihat jelalatan dan tak sabar menikmati keindahan tubuh Sofia.
Tanpa aba aba lagi. Beberapa komplotan itu langsung melucuti semua pakaian yang di kenakan Sofia tanpa sisa.
Sofia tersadar dari pingsan dan berteriak setelah sadar dengan dirinya yang kini bertelanjang bulat di depan para bajingan tersebut.
Bagaikan ikan segar yang di suguhkan seorang majikan pada kucingnya yang sangat lapar. Beberapa komplotan itu bergantian memegangi tangan dan kaki Sofia.
Terpaan hujan yang begitu deras. Kini membuat Lee sadar dari pingsanya.
Mata Lee seketika membulat ketika melihat beberapa penjahat itu menggerayangi tubuh Adiknya.
"Bajingannnn! hadapi aku kalau kalian berani!" tantang Lee dengan murka.
Alih alih menggubris ucapan Lee. Bajingan itu malah mulai meneruskan aksi kejinya pada Sofia.
Lee terus menangis memberontak mencoba melepas ikatan talinya yang begitu kuat mengikat badanya.
"Hentikan .... aku mohon ... hentikan." Lee mengemis pengampunan agar mereka berhenti menyakiti adiknya.
Namun para bajingan itu terus menghentak hentakan pinggulnya menikmati sebuah kenikmatan yang jarang di dapatkan dalam misi perampokanya.
Tak ada yang bisa di lakukan Sofia selain menangis menerima perlakuan bejat dari beberapa komplotan yang menikmatinya secara bergilir tanpa ampun.
"Hentikan .... aku mohon hentikan." suara parau Lee di sisa tenaganya.
Setelah puas menikmati tubuh Sofia. Kini beberapa komplotan itu memasukan kembali burung kesayangan pada sangkar.
"Berikan senjata itu padaku!" titah salah seorang komplotan pada kawanya.
Dan orang tersebut langsung menembaki tubuh Lee tanpa ampun.
Bos yang tadi mengejar Kiana telah kembali berkumpul dengan yang lainya.
"Apa kau sudah membunuh lelaki itu?" tanya Bos pada orang yang menembaki Lee tanpa ampun.
"Sudah, Bos. Laki laki itu sudah tak bernyawa lagi." jawabnya.
"Bagus, sekarang kau lepas ikatanya dan setelah itu kita segera pergi dari sini sebelum polisi menemukan kita." titah si bos komplotan.
Setelah Lee di lepas. Mereka semua kini meninggalkan Lee dan beberapa jasad yang sudah tak bernyawa di tengah derasnya hujan.
Sungguh sangat menyakitkan bagi Lee. Ibu dan adiknya mengalami kejadian tragis yang tak pernah di bayangkanya.
Dengan sisa tenaga yang di milikinya. Lee menyeret tubuhnya yang sudah terluka parah menghampiri Sofia.
"Sofia ... maafkan Kakakmu yang tidak berguna ini." Lee menangis meratapi nasibnya.
Sakitnya luka tubuh Lee yang bergesekan dengan aspal. Tidak sesakit dengan hancurnya hati dan perasaan Lee melihat adiknya yang kini terlihat stres mengacak ngacak rambutnya.
Dengan susah payah Lee mendudukan dirinya dan ingin mencoba memeluk Sofia untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
Namun baru saja menggapai tangan Sofia. Tubuh Lee kini langsung ambruk di hadapan Sofia.
"Tidakkkkk ...." Sofia berteriak segila gilanya melihat Lee yang sudah tidak bernyawa.