
Hari berganti hari dan seminggu pun kini telah berlalu. Kini tibalah saatnya seorang lelaki tampan untuk pergi apel mengajak kekasih yang termasuk masih baru baginya.
"Selamat malam, Paman." sapa Michael pada Cody yang baru saja membukakan pintu untuknya.
Cody mengangguk dan mempersilahkan Michael masuk ke ruang tamu dan menunggu Sofia yang masih berdandan cantik di dalam kamarnya.
"Lee ..." Michael kaget melihat Lee yang datang dan kemudian duduk di hadapanya.
Wajah pucat bercsmpur ketakutan kini tampak pada diri Michael.
Wah ... kena bisa kena embat lagi gua.
"Slow ... woles saja Michael. Aku kesini hanya ingin bilang"JAGALAH SOFIA" itu saja." ucap Lee yang kemudian menyibukan dirinya berkutat dengan ponselnya.
"Pasti ... aku pasti akan menjaga dan melindunginya." Michael menganguk anggukan kepalanya.
Wajah pucat kini kembali tenang. Michael megusap dadanya sambil bernafas lega.
Dari ruang tamu. Michael sudah bisa melihat Sofia yang sedang menuruni tangganya.
"Cantik sekali kau malam ini Sofia." puji Michael.
Sofia terkekeh dengan gombalan receh dari kekasihnya.
"Kak Lee aku berangkat dulu." Sofia pamit dan mencium tangan Michael.
"Iya, hati hati Sofia. Dan ingat! jangan terlalu malam." ucap Lee yang kemudian menoleh dan menepuk pundak sahabatnya.
"Iya, Kak Lee." ucap Michael sambil tersenyum dengan cara memanggilnya yang baru.
Michael melangkah dengan tangan melingkar di pinggang menggandeng Sofia sambil berjalan, meninggalkan Lee yang berdiri di pintu sambil memandanginya.
Jika kau bahagia ... aku pun ikut bahagia Sofia.
I love you my sister.
Lee kembali masuk dan menutup pintu rumahnya.
Jam menunjukan pukul 19:30 kini bagian Lee yang bersiap untuk berangkat menemui Manila setelah keluar dari kamar mengganti pakainya.
malam minggu yang cerah. Lee memutuskan menemui Manila menggunakan motor gedenya. Celana jean yang di padu dengan jaket kulit berwarna coklat menambah aura ketampanan sang Babang Lee yang akan mengapeli tunanganya.
Vrom ... Vrom ...
Suara knalpot mega bass terdengar jelas di telinga Manila yang baru selesai berdandan di dalam kamarnya.
Mereka berdua berencana menghabiskan malam minggunya di sebuah taman hiburan fantasi.
Cup
__ADS_1
Sekilas ciuman kecil Manila berikan di pipi Kekasihnya yang sudah berdiri menunggu di depan pintu apartementnya.
"Sudah siap." tanya Lee.
"Sudah sayang. Yuk berangkat." Manila melangkah sambil memeluk tangan kanan Lee.
Lee memberikan salah satu helmnya pada Manila.
"Motormu keren sekali, yank." puji Manila sambil menepuk nepuk jok motornya.
Lee tersenyum tampan dan mulai menstater motornya.
"Pegangan sayang." pinta Lee.
Manila mengangguk dan mengeratkan kedua tanganya memeluk Lee dari belakang.
"Ternyata naik motor lebih seru daripada mobil ya." ucap Manila dengan nada yang sedikit di tinggikan karena takut kekasihnya tak memdengar.
"Pastinya." jawab Lee dengan yang di tinggikan juga.
Jantung Lee berdegup kencang ketika merasakan dengan jelas kedua gunung kembar Manila menempel di punggungnya.
Dengan sedikit ke isenganya. Lee kini memainkan rem pada motornya.
Wah asoy juga. Empuk empuk gimanna gitu.
Lee tersenyum puas merasakan kenikmatan kenyal pada punggungnya.
Manila memukul kepala Lee dengan tas kecilnya hingga mengaduh.
"Dasar cabul! dari tadi nyuri nyuri kesempata aja." Manila mencubit pinggang Lee dan memelintirnya.
"Ampun ... ampun sayang. Maafkan aku." ucap Lee yang tak tahan dengan cubitan pedas kekasihnya.
Motor yang di tunggangi sepasang kekasih itu kini telah sampai di depan taman hiburan bermain fantasi. Sebuah taman hiburan yang menyuguhkan kesenangan duniawi. Yang akan memanjakan siapa saja yang datang berkunjung hingga lupa diri😅.
"Ayok, turun sayang." Lee mematikan mesin motornya dan kemudian bangkit dan menstandarkan motornya di sebuah parkiran yang telah di sediakan.
Mereka berdua kini kembali bergandengan memasuki taman hiburan Fantasinya.
"Kau tunggu sebentar disini sayang, aku akan membeli tiketnya terlebih dahulu." ucap Lee yang di angguki Manila.
Antrian malam minggu yang lumayan cukup panjang. Membuat Manila harus sedikit bersabar menunggu kekasih yang sedang mengantri.
Manila mengedarkan pandanganya dan tak sengaja mendapati Michael yang kini sedang asyik berjalan menggandeng Sofia kekasih barunya.
"Michael." gumam Manila.
"Kau melihat siapa sayang?" Suara menyadarkan Manila yang sedari tadi memperhatikan Michael dan Sofia.
Manila berbisik di telinga Lee dan memberitahu apa yang telah di lihatnya barusan.
__ADS_1
"Benarkah?" Lee mengarahkan pandangan ke arah Michael dan Adiknya yang kini duduk sambil menikmati gulali harum manisnya.
"Apa perlu kita kesana?" tanya Manila meminta kepastian.
"Tidak usah, biarkan saja mereka." ucap Lee dan Manila pun hanya mengangguk patuh saja.
Lee menarik lembut tangan Manila dan mengajaknya untuk menaiki Thunder bolt.
"Kau yakin kau berani?" Manila meragukan Lee.
Wajah Lee memerah malu mendengar kekasihnya meragukan nyalinya.
"Berani lah, siapa takut." tantang Lee walaupun dalam kenyataanya hatinya benar benar menolak keras.
Manila kembali mentertawakan kekasihnya yang sudah ketakutan setengah mati berpegang pada pengaman di tempat duduknya.
Beberapa menit berlalu Lee dan Manila kini telah turun dari arena thundeer boltnya.
"Masih berani?" ejek Manila pada kekasihnya.
Tanpa menunggu jawaban kekasihnya Manila menarik tangan Lee dan mengajaknya untuk menaiki Roler coster yang terkenal menantang adrenalin bagi siapa saja yang berani menaikinya.
Lee menghela nafas dalam dalam, dan kemudian menghembuskanya dengan perlahan.
Cup
Manila mencium pipi Lee. Berharap nyali dan keberanian kekasihnya berubah menjadi seorang marcopolo yang gagah dan pemberani.
Manila menantang kekasih agar duduk di bagian paling depan. Semua di lakukan Manila sengaja untuk mengerjai kekasihnya yang benar benar Phobia akan ketinggian.
"Sayang ... Kau boleh memintaku apa saja. Tapi aku mohon jangan ajak aku menaiki wahana ketinggian lagi." Lee memohon pada Manila.
Manila mendekatkan wajah pada wajah Lee sambil menatap tajam.
Cup
Dengan secepat kilat Manila menyambar bibir kekasihnya.
Epppokss
Pagutan itu hanya berlalu 3 detik saja.
"Aku tak mau memilik suami yang penakut!" kecam Manila.
Entah kekuatan darimana datangnya. Setelah mendapat chargeran dari bibir seksih tunanganya. Kini Lee berubah menjadi sosok pemberani layaknya Marcopolo.
Di saat Roler coaater melaju kencang, Lee kini terlihat tenang dan menikmatinya sambil tersenyum tampan.
Ternyata ciuman yang berdasarkan cinta. Telah mampu mengusir rasa phobiaku yang takut akan ketinggian.
"Terima kasih ... My Love🥰." gumam Lee dengan senyum yang makin mengembang tampan di wajahnya.
__ADS_1