
Di tengah kegalauan yang sangat mendalam. Sang supir hanya bisa mendesah pasrah dan berharap seseorang datang dan akan menolongnya.
"Nona Sofia." panggil sang supir seraya bangkit dari keterpojokanya dan berlari menghampiri Sofia.
"Pak Supir, ada apa? Kenapa Bapak terlihat ketakutan sekali?" tanya Sofia yang baru saja datang dan telah mengganti pakaianya.
"Mereka Nona, mereka semua sudah jahat kepadaku dan hampir saja menganiaya aku." Adu si supir yang langsung bersembunyi di balik punggung Sofia.
Sofia memandang ke arah beberapa orang yang di tunjuk supirnya dan menatap heran.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada Supir terbaik keluargaku?" tanya Sofia dengan serius sambil fokus memandang ke arah Lee.
Lee setengah kaget mendapati perubahan signifikan yang terjadi pada Sofia.
"Sofia ... apakah benar ini engkau Sofia?" tanya Lee sambil memegang kedua pundak Sofia.
Sofia menyingkirkan kedua tangan Lee di pundaknya. Dan kini terlihat berkacak pinggang menuntut keterangan pasti.
"Tak usah mengalihkan pembicaraan! apa yang sudah kalian lakukan pada supir terbaiku?" tanya lagi Sofia dengan pandangan tajam menghunus menatap Lee dan Michael.
Lee dan Michael menggaruk kepalanya yang tidak gatal secara bersamaan. Sedangkan Letnan Bryan terlihat sok sibuk dengan acara ngobrol dadakanya dengan dengan Grace.
"Kita hanya salah paham saja Kok. Benar kan Pak supir." ucap Michael sambil membenarkan kerah baju si supir yang telah kusut karena amukan mereka.
Si supir dengan takut dan gemetaran mengangguk mengiyakan jawabanya.
"Tuh, kan. Pak Supir saja bilang iya Kok." Lee merangkul supir dan berpura pura baik di hadapan Sofia.
Di tengah rasa malunya. Beruntung Dokter yang menangani Manila kini telah muncul dan berdiri di hadapan mereka semua.
"Keluarga Pasien?" tanya Dokter itu sambil menatap satu persatu wajah semua orang yang berada di hadapanya secara bergantian.
"Keluarga pasien kebetulan belum sampai disini, Dok. Jadi kami disini semua adalah rekan terdekat yang sudah seperti keluarganya." ucap Grace yang di benarkan dan di angguki oleh yang lainya.
Dokter menggaruk kepalanya sesaat dan berpikir. Tidak mungkin dirinya mengundang semua yang berada di hadapanya untuk masuk ke dalam ruanganya sekaligus.
"Baiklah, saya minta Bapak itu ikut saya." pinta Dokter itu sambil menunjuk ke arah supir yang berdiri di balik punggung Sofia.
"Kenapa harus dia Dokter?" tanya Michael yang tidak terima.
"Iya, Dok. Kenapa harus dia, Bukan kami saja." timpal Grace.
"Sudah ... sudah. Saya minta Ibu Sofia untuk ikut juga. Karena pasien tadi di jaminkan atas nama Sofia." tukas Dokter.
__ADS_1
Dan akhirnya sang supir kini melangkah bersama Sofia mengikuti Dokter dari belakang menuju ruanganya.
Di dalam ruangan Dokter. Sofia dan Pak Karsito mendapatkan penjelasan detail tentang kabar kelanjutan Manila.
Dan beruntungnya Pisau yang di gunakan Manila ketika mencoba bunuh diri itu belum sempat menyentuh dan tidak memotong urat arterinya. Dan yang berarti darah yang bercucuran dari tangan Manila itu hanya darah yang keluar akibat mengenai dagingnya saja, namun tak berpotensi fatal dan berbahaya.
"Syukurlah kalau begitu, Dok. Saya jadi bisa tenang mendengarnya." ujar Sofia sambil memandang ke arah Supir yang sangat berjasa menolong Manila.
"Mungkin hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Jadi saya harap, Ibu Sofia bisa menyampaikan apa yang telah saya sampaikan pada rekan rekan terdekatnya." tukas Dokter sambil menutup perbincanganya.
Keluar dari ruangan Dokter. Sofia langsung menjeda langkah supir dan dirinya.
"Ada apa lagi Nona? apakah ada yang tertinggal di dalam?" tanya supir.
"Tidak, Pak. Sekarang saatnya anda membalas perlakuan mereka yang telah semena mena kepada anda tadi." titah Sofia sambil tersenyum licik.
"Tapi ... Non. Mana saya berani?" jawab supirnya.
"Tenang saja, saya di belakang anda Pak." Sofia memegang pundak supir menguatkan keyakinanya.
"Okelah kalau begitu." jawab supir yang kini terlihat makin percaya diri.
Mereka berdua kini kembali melangkah menujubke tempat dimana Lee beserta yang lainya berkumpul.
Lee berhambur menghampiri Sofia dan mengguncang guncang bahu Sofia dengan tanganya.
"Bagaimana keadaan Manila? apa kata Dokter barusan?" tanya Lee.
Dengan dingin Sofia kembali menyingkirkan kedua tangan Lee dan memberitahunya agar ia bertanya langsung pada supirnya saja.
"Cepat katakan pada kami, tidak usah bertele tele seperti itu." ucap Michael yang muak melihat wajah supir itu kini pasang gaya.
"Maaf Nona Sofia. Tenggorokan saya kering sekali, Apa tidak sebaiknya anda memberi saya minuman." ujar si supir dengan dramanya.
"Apa kau dengar! supirku mana mungkin bisa bercerita ketika tenggorokanya kering seperti itu." ucap Sofia dengan ketus pada Michael.
Michael memandang ke arah Lee sambil menggedikan kepalanya meminta kepastian.
"Baiklah ... ayo kita cari minum?" ajak Michael pada Supir itu dan yang lainya pun mengikuti dari belakang.
Di taman kecil depan kantin yang jaraknya tak begitu berjauhan dari rumah sakit. Sang supir pun kini terlihat menikmati minuman dinginya yang di belikan Michael untuknya.
"Ah ... segar sekali ya Nona." tukas si supir sambil mengelap mulut dengan punggung tanganya.
__ADS_1
"Sekarang ... ayo katakan pada kami, apa yang di sampaikan Dokter tentang Manila." pinta Michael.
Sang supir pun kini berlagak kembali sambil memandang Sofia yang masih tertawa kecil padanya.
"Nona Sofia. Setelah berlarian membawa Nona Manila dari Apartementnya kesini, ternyata telah membuat lapar sekali." ucap si supir sambil mengelus perutnya yang lempes.
Lee yang mendengar itu pun sontak terkejut merasa jengkel.
Sial ... ternyata Pak Karsito ingin balas dendam.
"Ya elah, busyet. Sungguh bertele tele sekali." Letnan Bryan maju melangkah namun Lee langsung menghentikanya.
"Baiklah ... tunggu disini! Aku akan membelikanmu makanan." ucap Lee seraya pergi melangkah menuju kantin.
"Tunggu, Tuan!" seru si supir dan Lee pun menghentikan langkah sambil menoleh ke arahnya.
"Ada apa lagi?" tanya lagi Lee yang sudah merasa jengah.
"Tuan. Belikan aku Stick berikut kentang goreng. Dan jangan lupa dengan saus pedas khas italianya." pinta si supir dengan santai.
Lee mengepal tangan menahan emosinya namun dia tetap mencoba untuk terlihat tenang.
Dan tak berselang lama. Kini Lee telah kembali membawa pesanan yang di minta supirnya padanya.
"Ini," Lee dengan malas menyerahkan makananya."
Sang supir tertawa puas merasa dendamnya kini sudah terbayarkan sempurna.
"Pak Karsito. Apa pundak Bapak tidak terasa pegal setelah berlarian membopong Kak Manila ke rumah sakit?" tanya Sofia sambil mengedipkan mata sebagai isyarat.
"Iya, Nona. Benar sekali, pegal rasanya." jawab si supir sambil menikmati steaknya.
Sofia dan supir itu pandanganya kini tertuju pada Letnan Bryan yang sudah menatap mereka sedari tadi.
"Mengapa Kalian berdua menatapku seperti itu?" tanya Letnan Bryan yang merasakan aura pandangan licik dari Sofia dan supirnya.
"Pijat saya pundaku sekarang!" titah si supir pada Letnan Bryan.
"Apa kau bilang! Kau menyuruhku memijatmu? yang benar saja." Letnan Bryan merasa Jaim dan enggan menuruti kemauan aneh supir Lee.
"Ya sudah, aku tidak akan menyampaikan pada kalian semua tentang apa yang telah di sampaikan Dokter padaku." ancam supir itu sambil tertawa licik.
Letnan Bryan menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Baiklah ...." Letnan Bryan kini melangkah menghampiri dan kemudian langsung memijat kedua pundak supirnya.