
Selesai memindahkan Sofia ke tempat tidurnya. Kini Lee bergabung kembali bersama Michael dan Manila.
"Lee, apa kau punya saran untuk memancing pelaku kriminal ini?" tanya Michael ketika Lee baru saja mendudukan dirinya di kursi.
Lee sejenak memandang ke arah Manila yang menatapnya.
"Aku akan menghabisinya sendirian." tukas Lee dengan tatapan dingin pada Michael.
"Kau berbicara seolah musuh yang akan kita hadapi ini adalah anak TK." Michael menggeleng heran.
"Aku serius Michael!" Lee kini menatap tajam ke arah Michael.
Michael sedikit merasakan ketakutan dengan tatapan Lee yang tak biasanya.
"Lee, kau sendiri yang mengingatkan kita bahwa jangan gegabah, tetapi kau sendiri malah bilang akan menghabisinya sendiri." tukas Manila.
Lee menundukan kepalanya dan kemudian mengangkat kembali wajahnya sambil tersenyum.
"Maaf, aku terlalu terbawa suasana." Lee kembali mengangkat gelas soju dan langsung menenggaknya.
Setelah beberapa saat berpikir mencari solusi dan strategi untuk menghadapi kasusnya. Akhirnya sebuah ide cemerlang melintas di pikiran Michael.
Michael mengambil bantal sofa dan melemparkanya pada wajah Lee sambil berjingkrak kegirangan.
"Aku punya ide, dan aku yakin sekali ideku ini akan berhasil memancing keluar si pelaku kejahatan ini." tukas Michael.
"Cepat katakan tak perlu berbasa basi lagi!" tukas Lee yang malas melihat gaya Michael yang memuakan.
"Kalian berdua, dekatkan telinga kalian padaku!" titah Michael.
Manila dan Lee beradu pandang dan kemudian saling mengangguk dan mendekatkan telinga mereka pada Michael.
" Jadi begini ... smew ... smew ...bla ... bla ...." Michael membisikan secara detail strateginya melalui bisikanya pada Lee dan Manila.
Setelah selesai. Lee kini menyenderkan dirinya di kursi sambil memeluk bantal sofa.
werrrr ... plek
Lee melempar bantal sofanya dan tepat mengenai hidung Michael sebagai bentuk balasan.
"Tumben, otakmu cerdas Michael." puji Lee sambil tertawa melihat Michael.
"Sebaiknya kau segera tidur bersama Sofia, Manila." tukas Lee.
Manila mengangguk dan kemudian beranjak meninggalkan Michael dan Lee yang masih ingin berduduk santai sambil menikmati minum sojunya.
Malam semakin larut. Dan obrolan antara Lee dan Michael pun beralih menjadi lebih serius dari sebelumnya.
__ADS_1
"Lee ..." panggil Michael dan Lee pun langsung menoleh.
"Ada apa lagi?" jawab Lee.
"Sampai saat ini aku masih penasaran dengan sosok mahluk manusia berkepala api itu." ungkap unek unek Michael.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu denganya?" Lee menuang kembali soju ke dalam gelas dan kemudian menenggaknya.
"Aku hanya ingin berterima kasih saja padanya." jawab Michael.
"Baiklah, nanti kalau aku bertemu denganya. Aku akan sampaikan ucapan terima kasihmu padanya, Bagaimana?" tukas Lee.
Michael tertawa terbahak mendengar ucapan yang baru saja di katakan Lee padanya.
Sementara. Di tempat yang sama dengan ruangan yang berbeda. Manila terlihat berguling ke kiri dan ke kanan tak bisa memejamkan matanya.
Pikiranya selalu tertuju kepada Lee yang masih menikmati minum bersama Michael.
"Sudah jam 1 malam, apa Lee sudah masuk ke dalam kamarnya?" gumam Manila.
Manila sekilas menoleh pada Sofia yang sudah tertidur pulas di sebelahnya.
Manila turun dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamarnya. Di luar kamar Manila menolehkan pandanganya ke seluruh ruangan yang kini sudah gelap gulita.
Dengan pelan dan perlahan Manila melangkah ke arah ruangan Lee dan Michael yang masih berbincang.
Sementara. Mendadak Lee menjeda obrolanya bersama Michael.
"Kau mau kemana, Lee?" tanya Michael yang melihat Lee bangun dari duduknya.
"Aku ingin ke toilet sebentar." jawab Lee seraya melangkah meninggalkan Michael.
Dari kejauhan Manila melihat Lee melangkah menuju kamar toiletnya.
"Mau begadang sampai jam berapa mereka?" tanya Manila pada dirinya sendiri.
"Kenapa belum tidur?" suara Lee mengagetkan Manila yang sedang mengintipnya.
Manila berbalik dan benar saja Lee kini sudah berada tepat di belakangnya.
"Aku tidak bisa tidur ..." ucap Manila dengan lirih.
Lee langsung memeluk Manila dengan erat dan memberi kecupan hangat pada kening Manila.
"Ikutlah denganku. Ada sesuatu yang harus aku tunjukan padamu dan Michael." Lee menggandeng tangan Manila dan mengajaknya untuk kembali bergabung dengan Michael.
Di ruang tamu. Michael tercengang dengan Lee yang tiba tiba kembali membawa Manila.
__ADS_1
"Bukankah tadi kau bilang ke toilet?" tanya Michael.
"Simpan pertanyaanmu untuk nanti, dan sekarang ikutlah bersama kami." ajak Lee dan Michael pun menenggak habis sisa sojunya.
Lee melangkah menuju halaman belakang rumahnya yang sangat luas dan sangat sepi.
"Hei, sebenarnya ada apa ini? mengapa kau mengajak aku dan Manila ke tempat sesunyi ini.?" Michael semakin penasaran.
"Aku pinta siapkan mental kalian! aku tak ingin salah satu dari kalian berdua akan jatuh pingsan setelah melihatnya." tukas Michael.
Michael dan Manila mengangguk dan kemudian mereka mengambil nafas untuk sejenak menenangkan diri dan mental mereka.
Jbuhhh ...
Suasana gelap kini berubah menjadi terang benderang, seketika Lee menunjukan wujud sebenarnya pada Michael dan Manila.
Wujud Lee kini berubah menjadi Banaspati layaknya Ghost rider jebolan Marvel.
"Kau ... tidak mungkin. Ini hanya ilusiku saja." Michael menampar bolak balik wajahnya.
Berbeda dengan Manila. Dirinya yang sudah tahu siapa Lee, sedikit terlihat tenang tanpa wajah kaget sekalipun.
Dan dengan cepat Lee merubah wujudnya kembali menjadi Lee yang seutuhnya manusia.
"Aku harap kalian berdua bisa menjaga mulut kalian untuk tidak membuka rahasia ini kepada yang lain." tandas Lee.
Michael dan Manila mengangguk dan berjanji tak akan pernah membocorkan rahasia yang telah di lihatnya saat ini.
"Lee ..." panggil Michael dengan ragu.
Lee menoleh dan kini tersenyum mencoba mencairkan suasana tegang di antara mereka.
"Darimana kau dapatkan kekuatan mengerikan seperti itu?" tanya Michael.
Lee menunduk dan memilih duduk sambil memeluk lututnya.
"Ceritanya sangat panjang dan aku kira kalian pasti akan merasa bosan mendengarkanya." tandas Lee.
"Apakah sangat panjang sekali hingga kau enggan berbagi cerita pada kami berdua." tukas Michael.
"Bisakah kau ambilkan kita lagi Minuman, Manila?" pinta Lee pada Manila.
"Tidak! malam ini kau sudah banyak sekali menghabiskan minuman." tolak Manila.
"Tapi tunggu sebentar, aku akan mengambilkan kalian minuman segar lainya." ucap Manila seraya pergi dan tak lama ia kini telah kembali membawa minuman kaleng dingin lainya.
"Terima kasih, sayang." ucap Lee pada Manila.
__ADS_1
"Oke cepat kau mulai ceritanya, kami berdua sudah tak sabar menunggu seperti apa cerita yang akan kau sampaikan pada kami." tegas Michael pada Lee yang baru saja membuka kaleng minumanya.