
Lee kini berpindah dan berada di kolam renang belakang rumahnya. Dia duduk di tepian kolam dengan kaki yang sengaja ia tenggelamkan ke air sebatas betisnya.
Dia menunduk dan masih ragu dengan langkah yang sudah di ambilnya untuk melindungi Sofia adik kandung tersayangnya.
"Terkadang kita harus merelakan orang yang sangat kita sayangi bersama orang lain untuk mendapatkan kebahagianya." kata kata bijak seseorang yang suaranya tidak asing bagi Lee.
Lee terkejut dan mengangkat kepalanya.
Mengapa aku tidak bisa merasakan kehadiranya?
"Sejak kapan kau berada di belakangku?" tanya Lee yang berpura pura biasa saja menutupi kagetnya.
"Yang kau lakukan pada Michael tadi, jujur aku tidak menyukainya." Arby menegur Lee secara halus.
"Minumlah, ku harap minuman dingin ini bisa mendinginkan suasana hatimu yang aku pikir masih panas." Arby memberikan satu minuman kalengnya pada Lee.
"Terima kasih," Lee menerima minuman tersebut.
"Kau tak berhak ikut campur terlalu dalam dengan urusan pribadiku!" tukas Lee dengan nada serius.
"Itu kau tahu, Lee! Dan sekarang aku tanya balik padamu, kenapa kau bisa ikut campur terlalu dalam dengan urusan pribadi Sofia?" Arby dengan santai mengembalikan apa yang telah di ucapkan Lee padanya.
Lee bangkit dari duduk dan meremas kaleng minuman dinginya hingga hancur di tanganya.
"Tapi aku adalah Kakak kandung Sofia, By! aku berhak melindunginya dan aku tak mau seseorang melukai dan menyakiti perasaanya." Lee berbalik badan enggan memandang Arby yang tak sejalan dengan pemikiranya.
Arby menghela nafas dan menggeleng kepalanya menanggapi ke egoisan yang terlalu dalam(posesif) dari seorang Lee.
Arby memegang pundak Lee sambil memijat kecil mencoba menenangkanya.
"Kau memang benar, Lee. Sofia adalah Adikmu, Tapi kau juga harus ingat! bahwa Michael juga adalah sahabatmu, sahabat kita juga. Bukan begitu?" ucap Arby dengan telak menembus relung hati Lee yang paling dalam.
Arby melangkah melewati Lee tanpa memandangnya dan kini berhenti dan berdiri dengan posisi membelakangi Lee.
"Cobalah berdamai dengan hati dan perasaanmu, Lee. Aku tak ingin kau tenggelam dalam lautan emosi yang membawamu dalam kehancuran."
"Jika kau terus melakukan hal sama menyakiti Michael seperti tadi, maka aku tidak akan segan segan lagi untuk bertarung dan menghabisimu!" pesan terakhir sekaligus kecaman keras dari Arby untuk Lee.
Berani sekali dia mengancamku seperti itu. Memang dia pikir dia siapa?.
Arby berbalik badan dan kini memperlihatkan kekuatan maha dahsyatnya yang setara dengan kekuatan yang di miliki Lee.
"Aku bisa membaca pikiranmu Lee. Tak usah berpikiran aneh apalagi memikirkan yang macam macam tentangku." Arby tersenyum simpul memandang Lee yang kini terkejut memandang dirinya.
"Aku pergi dulu." ucap Arby seraya menghilang secepat kedipan mata.
Lee menjatuhkan dirinya dengan posisi duduk bersujud. Penuturan dari Arby benar benar telah memukul telak dan mematahkan anggapanya tentang bagaimana melindungi orang orang yang kita sayangi.
__ADS_1
"Maaf ... maafkan aku. Sofia." Lee menangis menyesali perbuatanya.
Berpindah ke tempat Manila. Malam itu Manila terlihat sedang duduk menikmati cemilanya dengan mata yang masih terfokus membaca Novel "Jamu Cinta" Novel terbaru karya YingJun yang ceritanya lumayan seru dan enggak garing garing amat😅.
Tok ... Tok ... Tok ...
Manila menoleh kearah suara pintunya yang di ketuk seseorang.
"Siapa?" Manila menaruh buku novelnya dan bangkit dari duduk menuju pintunya.
"Aku Manila." seru Arby dari luar pintu apartement Manila.
Suara yang tidak asing lagi di telinga Manila.
Ceklek ...
"By, apa benar itu kau?" Manila belum percaya dengan apa yang di lihatnya.
Arby nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal di hadapan Manila.
"Iya, ini aku Manila." jawabnya.
Manila melebarkan pintu masuk dan mempersilahkan Arby agar segera memasuki apartementnya.
"Jadi kau tinggal disini, Manila?" Arby melihat lihat ruangan dalam apartement Manila.
Manila mengangguk dan menyuruh arby yang notabenya sepupu agar segera duduk di ruang tamunya.
"Mau minum kopi?" tanya Manila.
Arby menolak dengan gelengan kepalanya.
"Apa kau mempunyai minuman dingin?"
"Ada, kau ambil sendiri saja di lemari pendingin dan pilih sesuka hatimu." titah Manila.
"Oke," Arby bangkit dari duduk dan melangkah ke arah lemari pendingin yang letaknya tak berjauhan dari dapur apartement Manila.
"By, apa Paman dan Bibi tahu kalau kau sekarang berada disini?" tanya Manila yang ragu, karena tahu kalau Arby typekal orang yang suka kabur kaburan ketika masih duduk di bangku sekolahnya.
Arby duduk dan tertawa mendapat pertanyaan yang terasa mengejek baginya.
"Tentu saja aku sudah meminta izin pada kedua orang tuaku, dan mereka mengizinkanku asalkan aku tidak merepotkanmu." jawabnya.
Arby yang membuka minuman kalengnya, seketika menghentikan niatnya untuk meminum minuman kalengnya.
"Kau kenapa, By?" tanya Manila yang heran dan penasaran melihat Arby yang menatap tajam ke arah pintu depan apartement Manila.
__ADS_1
"Ada seseorang yang berdiri di depan kamar apartementmu, Manila." ucap Arby dengan lirih namun masih bisa di dengar jelas oleh Manila.
"Yang benar, By. Kau tidak sedang menakut-nakutiku kan?" Manila bangkit dari duduk dan bersiap melangkah ke arah pintu depanya.
"Manila ... duduklah! biar aku saja yang membuka pintunya." Arby menarik tangan Manila agar kembali duduk di sofanya.
Manila mengangguk dan membiarkan Arby membukakan pintunya.
Ceklek ...
Pintu terbuka dan menampilkan seorang lelaki tampan, siapa lagi kalau bukan Lee kekasih Manila.
"Hebat sekali, padahal aku sudah menghilangkan aura keberadaanku tapi kau masih saja bisa mengetahuinya." puji Lee dengan lirih dan berharap Manila tidak mendengar perkataanya.
"Sudahlah ... itu tidak penting, cepatlah masuk." Arby mempersilahkan Lee masuk dan menutup kembali pintunya.
Lee melangkah dan langsung menyapa Manila yang kini tersenyum senang menyambut kedatanganya.
"Hai sayang ..." sapa Lee sambil mencium kening Manila.
"Kau mau minum kopi?" tanya Manila pada kekasihnya.
"Tidak terima kasih, aku mau yang seperti itu saja." Lee menunjuk ke arah kaleng minuman Arby yang tergeletak di atas meja.
"Baiklah, tunggu sebentar." Manila melangkah ke arah dapurnya. Dan tak berselang lama kini ia telah kembali membawa minuman kaleng dingin yang sama dengan yang di minum sepupu Manila.
Manila kini duduk di sebelah Lee sambil merangkul pinggang kekasihnya.
"By, tidurlah di rumahku. Rumahku memiliki banyak kamar kosong dan kau bisa memilih sesuka hatimu." ucap Lee.
"Terima kasih sebelumnya, Lee. Aku benar-benar menghargai niat baikmu. Tap aku sudah memiliki janji dengan Michael sebelumnya." Arby menolak secara halus dan berharap tidak menyinggung perasaanya.
"Baiklah ... terserah kau saja." ujar Lee.
Arby bangkit daru duduk dan merapikan penampilanya.
"Kau mau kemana, By?" tanya Manila.
"Aku harus menemui Michael, Manila. Aku tidak enak jika harus membuat dia menungguku terlalu lama." jelasnya.
Arby melangkah menuju pintu depan apartement Manila.
"Tunggu, By!" seru Lee yang kini ikut berdiri dan menghentikan Arby yang sudah memegang handle pintunya.
Arby menoleh tanpa membalikan badanya menghadap Lee.
"Maafkan aku, By." ucap Lee dengan tulus dari dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya cuy.