
Lee tersenyum dengan Manila yang sudah tertidur pulas menyender di bahunya.
Sedangkan Michael terlihat masih semangat menjadi pendengar setianya.
"Lantas, bagaimana nasib dengan orang orang yang sudah membuat celaka keluargamu Lee?" tanya Michael yang ingin tahu kelanjutanya.
"Aku terus memburu dan sempat ingin menghabisi mereka dengan tanganku sendiri. Akan tetapi ..." Lee kembali menggantung ucapanya sambil mengambil minuman untuk membasahi tenggorokanya.
"Tapi apa Lee?" tanya Michael yang sangat penasaran sekali.
"Aku membuat keadaan mereka menjadi mati segan hidup pun tak mau. Hingga pada akhirnya mereka mengaku dan menyerahkan dirinya pada pihak yang berwajib." jawab Lee sekaligus menutup kisah masa lalunya.
Lee bangun dari duduk dan membawa Manila yang sudah tertidur pulas ke kamar Sofia.
Sedangkan Michael lebih memilih Sofa lah yang menjadi tempat tidurnya.
Ke esokan harinya. Ketiga polisi itu kompak mengambil keputusan cuti karena rasa kantuk yang masih membebani matanya.
Sedangkan di lain tempat. Letnan Bryan Storm hanya bisa menepuk jidatnya setelah mengetahui mereka bertiga kompak mengambil cuti.
"Cuti kok, barengan." ucap Bryan yang sedikit kecewa dengan ketiga anak buahnya.
Tak ingin berlarut larut memikirkan ketiga bawahanya yang mengambil cuti istirahatnya. Letnan Bryan mencoba keberuntungan untuk menyelami langsung kasus dukun cabul yang konon katanya sering berwujud sinterklas.
Dengan senjata revolver 212 excalibur yang bertengger di pinggangnya. Kini Letnan Bryan meluncur ke TKP tempat yang di sinyalir dukun cabul itu beraksi.
"Penasaran sekali aku. Sebenarnya seperti apa dukun cabul yang meresahkan warga ini." gumam Bryan yang baru sampai di TKP dan turun dari mobilnya.
Sudah beberapa warga yang ia mintai keterangan tentang dukun cabul tersebut. Dan salah satunya memberitahu Bryan bahwa dukun itu sering mengincar pasangan muda mudi yang tak sengaja lewat ke gang sepi tersebut.
"Baiklah. Terima kasih atas informasinya." tukas Bryan sambil berlalu melangkah kembali dan masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Di dalam mobil. Letnan Bryan terus berpikir bagaimana cara memancing agar si dukun cabul itu keluar dari sarangnya.
"Sepertinya aku butuh bantuan Manila kembali untuk memecah kasus ini." gumam Bryan.
Waktu bergulir cepat dan sang matahari pun akan segera menenggelamkan dirinya yang lelah seharian bersinar. Dan kini Bryan memutuskan untuk langsung kembali pulang ke rumahnya tanpa mampir terlebih dahulu menuju kantornya.
Sesampai di rumahnya. Bryan di kagetkan dengan kehadiran Michael yang kini sudah terlihat duduk manis sambil menikmati kopi manis dan rokonya.
Klepuzzz ....
Kepulan asap putih keluar dari mulut Michael.
"Apa kau sudah sedari tadi disini?" tanya Bryan yang baru menginjakan kakinya di teras rumahnya.
"Lumayan, Om." jawabnya.
"Tumben ..." tukas Bryan yang di balas senyum simpul Michael.
Bryan mengangguk dan kini mulai duduk di samping Michael setelah melepas sepatu kerjanya.
"Om, tadi menyempatkan menyelidiki langsung ke TKP." jawab Bryan.
"Apa ada kasus baru lagi yang mengharuskan Om terjun langsung ke TKP?" tanya Michael yang kini terlihat serius.
Bryan mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku baju dan kemudian menyulut sebatang rokonya dengan pemantik yang sudah berada di tangan kirinya.
"Kasus Dukun cabul yang meresahkan warga itu Chel." jawab Bryan.
Michael mengangguk paham dan kini terlihat meminum kopi dan kemudian menaruhnya kembali di atas meja.
"Om, tidak perlu khawatir tentang itu." tukas Michael.
__ADS_1
"Tidak khawatir bagaimana, Chel? sudah beberapa puluh laporan yang masuk dari warga yang keamananya merasa terancam semenjak kemunculan Dukun cabul tersebut." jawab Bryan yang entah harus langkah apalagi yang ia ambil.
"Om, kemarin malam Aku, Manila dan Lee sudah membahasnya." tukas Michael.
"Lantas, apa kalian menemukan ide cemerlang untuk memancing keluar Dukun cabul tersebut?" tukas Bryan yang berharap ke tiga bawahanya maju selangkah lebih depan darinya.
Michael kembali menghisap rokok dan mengepulkanya ke udara.
"Tentu saja, Om. Pokoknya, Om Bryan tinggal duduk manis saja di kantor dan menunggu berita keberhasilan dari kami bertiga." ucap Michael dengan percaya dirinya.
Sejenak Bryan terdiam dan berharap ketiga bawahanya akan berhasil menangkap sekaligus meringkus dukun cabul yang meresahkan warga tersebut.
"Sayang, kau sudah pulang ternyata." tukas Grace yang baru saja keluar dari pintu rumah dan melihat Suaminya.
Bryan menoleh ke arah Grace dan memberinya senyuman.
"Sudah, tapi kau lihat. Aku sedang menemani keponakanmu yang masih bujang lapuk ini." jawab Bryan.
Mendengar kata bujang lapuk. Michael langsung mengerutkan dahinya dalam.
Grace melangkah dan menghampiri suami tercintanya.
"Makanya, Chel. Kenapa kau tidak mencari pendamping." ucap Grace.
Michael mematikan Rokoknya ke dalam asbak. Dan kemudian dia menatap langit langit rumah sambil tersenyum.
"Sebenarnya Ada, tapi aku belum berani menceritakanya pada kalian. Karena ini baru rencana." Michael bangun dari duduk dan melangkah meninggalkan kedua Om dan tantenya masuk ke dalam rumah.
Bryan dan Grace beradu pandang meminta kepastian.
"Apa kau tahu siapa gadis yang akan dia incar?" tanya Grace pada Suaminya.
__ADS_1
"Entahlah, karena yang aku tahu. Tadinya dia menyukai Manila." jawab Bryan pada istrinya.