
"Selamat pagi wahai pencari nafkah...." sapa Shenaa ketika wanita itu masuk ke dalam ruangan kerja mereka. Anna dan ke dua teman nya melongo ketika mendengar sapaan dari Shenaa.
"Kau bekerja?" tanya Anna datar.
"Tidak! aku sedang memulung." seloroh wanita itu.
"Kau tidak jadi mengundurkan diri?" tanya Ardi menghampiri teman nya itu.
"Alan tidak mengizinkan ku untuk mengundurkan diri." jawab Shenaa sambil menghidupkan komputer nya.
"Kalian ada sesuatu ya?" tanya Yudha penuh selidik.
"Tidak ada!" jawab singkat Shenaa.
"Tidak mungkin jika kalian tidak ada sesuatu. Bukti nya Pak Alan tidak mengizinkan kau untuk resign." sambung Anna.
"Terserah kalian. Sana kerja! nanti kita di pecat jika kebanyakan menggosip." ujar Shenaa membuat ke tiga teman nya kembali ke meja masing-masing.
Semua orang sedang sibuk-sibuk nya dengan pekerjaan mereka, namun tiba-tiba ada seseorang yang menjambak rambut Shenaa membuat wanita itu terkejut bahkan membuat lantai tiga itu menjadi gaduh.
__ADS_1
"Ku peringatan, jangan coba-coba mendekati Alan!"ucap wanita itu dengan nada tinggi sambil melepas jambakan nya.
"Siapa kau?" tanya Shenaa menahan sakit di kepala nya.
"Aku Tasya. Tunangan Alan!" jawab nya ketus.
Bukan nya takut Shenaa malah tertawa geli, "Owh...ternyata kau! wanita yang kegilaan hendak menikah dengan Alan." seloroh Shenaa mencibir.
"Apa maksud mu?" tanya Tasya ambigu.
"Nona Tasya. Alan sudah menceritakan semua nya pada ku, kau hanya benalu yang menempel di hidup Alan." jawab Shenaa membuat Tasya naik pitam. Wanita itu hendak menampar wajah Shenaa namun tiba-tiba tangan nya ditahan oleh Alan.
"Sekali lagi kau menyentuhnya, akan ku patahkan tangan mu!" ucap Alan dengan nada tinggi.
Semua karyawan yang mendengar perkataan Alan hanya bisa ternganga tidak percaya. Hanya demi Shenaa Tuan Alan Nugraha jadi rajin pergi ke kantor.
"Pergi kau. Jangan merusuh di kantor ku." usir Alan sambil mendorong keluar Tasya.
Tasya yang tidak terima langsung mengumpat dan melaporkan apa yang ia alami pada Beni.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alan.
"Mata mu tidak apa-apa!" celoteh Shenaa "Rambut ku hampir lepas dari kulit kepala.
Tunangan mu itu persis dedemit." gerutu wanita yang sedang membenarkan bentuk rambut nya.
Lagi-lagi, semua karyawan di buat terperangah dengan ucapan Shenaa yang begitu berani nya mengucapkan kata-kata kasar pada bos besar mereka.
"Sudahlah. Ayo ikut aku!" ajak Alan.
"Kemana?" tanya Shenaa singkat.
"Ada yang ingin bertemu dengan mu." jawab pria itu lalu menarik tangan Shenaa.
Anna dan ke dua teman nya hanya bisa menelan ludah kasar. "Gitu bilang nya tidak ada apa-apa! aneh itu anak." seloroh Ardi.
"Iya...seperti nya Shenaa sedang menyembunyikan sesuatu dari kita." gumam Yudha.
"Awas saja dia!" ucap Anna membuat perhitungan.
__ADS_1
Sepanjang lantai tiga menuju loby, banyak karyawan yang menatap penuh tanya perihal hubungan Shenaa dan Alan. Namun semua pertanyaan mereka tidak berani di ungkapkan karena di perusahaan ini di larang menggosip alias ghibah.
Kejadian setengah jam yang lalu membuat Tasya mengadu pada papah nya dan Beni, namun Beni yang mendengar semua aduan Tasya hanya menanggapi nya dengan biasa saja.