
Masih tetap saja keadaan Alan, sudah tiga hari pria itu terbaring di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Dokter sudah melakukan yang terbaik, namun tetap saja Alan belum mau membuka matanya.
Kali ini hanya Shenaa di temani Anna untuk menjaga Alan karena Beni sedang menggantikan pekerjaan Alan. Begitu juga dengan Dava, lelaki ini masih berusaha mendesak polisi agar pria itu mau membuka suara perihal kasus penembakan. Namun, Dava langsung menggeram kesal karena pria itu melakukan bunuh diri sebelum mengatakan siapa dalang nya.
Broto yang mendapatkan kabar itu hanya bisa menghembuskan nafas kasar nya, lelaki itu masih saja menutupi aib anak dan menantunya. Tidak, bukan menutupi namun Broto sedang mengumpulkan bukti kejahatan.
"Nona Winanti dan Windari ada di luar tuan. Mereka memaksa untuk masuk." Luthfi memberitahu tuan nya.
"Biarkan saja!" kata Broto acuh. "Mereka memang tidak bersalah, tapi ke dua orang tua mereka sudah sangat keterlaluan. Hanya karena harta mereka tega menghilangkan nyawa orang lain."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Lufthi yang tak mau bertindak sebelum mendapatkan perintah tuan nya.
"Aku tahu Surya sedang bekerjasama dengan seseorang, jadi aku ingin melihat sampai kemana mereka bekerjasama." ujar Broto.
Di rumah sakit, Shenaa tak ada lelah nya menjaga Alan. Hingga pada akhirnya, jemari kekar itu mulai bergerak memberi tanda. Perlahan Alan membuka mata nya, mungkin dia sudah lelah untuk tidur.
__ADS_1
"Shen,...Alan sadar...!" Anna memberitahu Shenaa yang sedang memejamkan mata sejenak.
Anna langsung memanggil Dokter juga menghubungi orang tua Alan. Sedangkan Shenaa langsung menggenggam tangan pria itu dengan penuh rasa haru. Alan yang sudah membuka mata nya hanya bisa memandang dengan linglung. Mungkin efek dari beberapa hari tidak sadarkan diri.
Dokter yang baru saja masuk langsung memeriksa keadaan Alan. Pria itu mulai pulih, hanya saja Alan harus beristirahat untuk beberapa waktu kedepan. Shenaa membenarkan posisi duduk Alan.
"Kau tidur terlalu lama, aku khawatir pada mu." ucap Shenaa dengan sedih.
"Maafkan aku sudah membuat mu menunggu." ujar Alan mengusap pucuk kepala wanita itu. "Lingkar mata mu sangat hitam, kenapa kau tidak tidur?" tanya Alan menatap wajah kusut calon istri nya.
"Shenaa belum istirahat sejak kau belum sadar. Makan saja harus di paksa." kata Anna mengadukan teman nya itu.
"Jangan menyiksa diri mu seperti itu. Aku tidak ingin kau sakit," ujar Alan merasa bersalah.
"Berhubung Alan sudah sadar, aku pulang dulu sebentar. Lihatlah rupa ku yang sudah tidak beraturan ini." ucap Anna membuat Alan dan Shenaa tertawa.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menemani ku Anna." ucap Shenaa.
Kini tinggallah Shenaa dan Alan berdua, sedangkan Beni dan Dava masih dalam perjalanan ke rumah sakit.
Alan membelai wajah kusut itu, memandang wanita yang saat terlihat sangat mengantuk, "Terimakasih sudah menjaga ku, aku pikir aku tidak akan bangun lagi." kata Alan membuat Shenaa sedih.
"Jangan membuat sebagian mimpi ku menjadi kenyataan. Aku tidak sanggup jika itu terjadi." ujar Shenaa yang selalu takut akan mimpi nya.
"Masih saja percaya dengan mimpi mu itu...!" gerutu Alan.
"Jika itu hanya bunga tidur, kenapa selalu ada di setiap mimpi ku?" tanya Shenaa membuat Alan bingung menjawab nya.
Tak berapa lama Beni dan Dava masuk ke dalam ruangan, Beni bernafas lega ketika melihat anak nya yang sudah sadar dalam keadaan baik-baik saja.
Alan bertanya, siapa yang sudah menembak nya beberapa hari yang lalu. Kemudian Dava memberitahu apa yang sudah terjadi terutama penembak yang sudah bunuh diri itu. Hingga membuat Shenaa dan Alan terkejut.
__ADS_1