
Beberapa hari kemudian Alan sudah keluar dari rumah sakit. Meski pun masih harus istirahat namun Alan sibuk mengurus acara lamaran sekaligus nikahan yang akan di laksanakan satu minggu lagi. Shenaa yang masih belum percaya merasa jika ini semua adalah mimpi.
Wanita ini termenung ketika diri nya sedang mencoba gaun pengantin yang di antar langsung oleh kakek nya dan Anna. Alan tidak ikut karena pria itu hanya ingin melihat Shenaa mengenakan gaun pengantin hanya di hari pernikahan saja.
Broto memegang dada nya yang terasa sesak, Shenaa sangat mirip Liana anak nya, "Kakek kenapa?" tanya Shenaa panik.
"Kakak baik-baik saja. Kau sangat cantik, kau sangat mirip dengan ibu mu saat menikah dulu." kata Broto membelai rambut cucu nya.
"Benarkah? ibu pasti sangat cantik." ujar Shenaa haru.
"Dulu kakek menikahkan ibu mu, tapi nanti kakek yang akan menikahkan mu. Berbahagialah Shenaa, sudahi penderitaan mu." ucap Broto penuh harap.
"Kakek doakan saja yang terbaik untuk aku dan Alan." ujar Shenaa meminta doa pada kakek nya.
"Dan kau doa kan teman mu ini agar cepat menyusul mu." sahut Anna memeluk Shenaa.
__ADS_1
"Aku akan mendoakan mu berjodoh dengan Dava atau Bobby." ujar Shenaa membuat Bobby yang sejak tadi menguping langsung menunduk menahan malu.
"Kakek saran kan, kau dengan Bobby saja!" seru Broto "Bagaimana Bobby, apa kau setuju?" tanya Broto membuat Bobby semakin salah tingkah. Tidak hanya Bobby, Anna juga menjadi salah tingkah.
Semua orang yang ada di ruangan itu hanya bisa tertawa, membuat Bobby dan Anna semakin terpojok. Sebenarnya Shenaa ingin di belikan sebuah rumah mewah dari kakek nya, namun wanita itu lebih memilih tinggal di apartemen.
Selama satu minggu ini Shenaa dan Alan di larang untuk bertemu. Membuat Alan gelisah tidak kuat menahan rindu. Beni yang melihat anak nya seperti cacing kepanasan hanya bisa menggoda anak nya.
"Tidak apa menumpuk rindu sekarang, jika sudah menikah nanti kau hajar saja." ujar Beni dengan gelak tawa nya. Dava yang paham ke arah mana ucapan Beni juga ikut tertawa.
"Baru juga satu hari, lebay mu sudah kelewatan!" seloroh Beni.
Telinga Alan yang panas hanya bisa diam saja karena membalas ucapan mereka akan menambah terpojok. Namun, candaan itu seketika sepi ketika salah satu pembantu memberitahu jika ada Fahrul di ruang tamu.
Beni dan Alan keluar, duduk saling berhadapan dengan Fahrul yang wajah nya terlihat sangat masam.
__ADS_1
"Ku dengar Alan dan wanita murahan itu akan menikah, apa maksud kalian?" tanya Fahrul tidak terima.
"Apa maksud mu? jika datang kemari hanya ingin membuat rusuh sebaik nya kau pulang saja!" sahut Beni dengan sinis.
"Ben, bukankah kita sudah sepakat untuk menikahkan Alan dan Tasya, lalu kenapa kau malah berputar haluan?" tanya Fahrul memaksakan. "Tasya sangat mencintai Alan, lagian mereka sudah kenal sedari kecil."
"Justru dari aku dan Tasya saling mengenal, aku tidak ingin menjadikan Tasya sebagai istri ku. Seburuk-buruknya sikap seseorang laki-laki, pasti dia akan menikahi wanita baik-baik." kata Alan membuat Fahrul terdiam mengingat jika Tasya adalah wanita nakal.
"Jangan memaksakan sesuatu yang tidak bisa kau gapai Fahrul. Anak ku tidak mencintai anak mu." Beni berkata dengan tegas.
Fahrul mengepalkan ke dua tangan nya, sekali lagi dia datang ke rumah ini hanya untuk mendengarkan penolakan. "Kalian benar-benar keterlaluan! kau sudah menghancurkan hubungan pertemanan kita Beni." kata Fahrul mulai emosi.
Fahrul berdiri, "Cuuiiih.....!" dia membuang ludah nya kasar, "Kalian tidak akan pernah hidup dengan tenang!" ujar nya memberi ancaman.
Fahrul pergi dengan keadaan hati yang emosi, namun siapa yang peduli? tidak ada yang peduli. Alan yang acuh memutuskan untuk masuk kedalam kamar nya, lelaki ini hanya ingin melihat calon istri nya dari panggilan video saja.
__ADS_1