Pria Dalam Mimpi

Pria Dalam Mimpi
39.Tidak Ada Mimpi


__ADS_3

Alan belum sadarkan diri juga, membuat Shenaa merasa sedih yang teramat. Wanita ini hampir tidak sadarkan diri karena kelelahan semalaman tidak tidur hanya untuk menjaga Alan. Sudah dua hari pria itu terbaring di atas brankar, mata nya masih setia terpejam.


Dava juga sibuk mengurus pelaku yang sekarang sedang berada di kantor polisi. Sebagai pembunuh yang baik hati, penembak itu lebih rela di hukum mati dari pada harus mengakui siapa orang yang sudah memberinya perintah. Hanya Broto yang tahu siapa dalang dari penembakan ini, namun pria itu masih memikirkan ke dua anak Surya dan Asih yang kini telah di usirnya.


"Lebih baik kau istirahat saja Shenaa." bujuk Anna namun tetap saja wanita itu menolak.


Beni yang juga berada di dalam ruangan itu hanya bisa terduduk lesu memandang ke arah anak nya yang kini lemah tak berdaya. Detak jantung Alan sangat lemah, peluru panas itu sedikit melukai pembuluh darah jantung. Bukan Alan harus di bantu alat pernapasan sekarang.


"Jika aku tidur, mimpi itu pasti akan datang." ucap Shenaa dengan lesu.


"Jangan menyiksa diri mu seperti ini, mimpi itu hanya bunga mimpi." kata Anna menyakinkan.

__ADS_1


"Jika dia hanya bunga mimpi, kenapa selalu datang hampir setiap malam?" tanya Shenaa membuat Anna terdiam.


Bukan hanya sekali dua kali Anna mendengar keluhan Shenaa, sejak mereka berteman Shenaa sering kali menceritakan perihal mimpi nya yang sangat aneh itu. Dulu, di dalam mimpi Shenaa hanya ada seorang pria yang datang tanpa memperlihatkan wajah nya. Namun kini, beberapa waktu yang lalu Shenaa baru mengetahui jika orang yang selalu ada di dalam mimpi nya sejak dulu itu adalah Alan.


Dava masuk ke dalam ruangan, membawa beberapa makanan untuk mereka yang sedang menjaga Alan. Meski pun tak nafsu makan, Beni dan Shenaa tetap memakan makanan itu agar mereka memiliki tenaga.


"Bagaimana Dava?" tanya Beni perihal kasus penembakan.


"Pelaku nya masih bungkam om. Dia bilang lebih rela mati dari pada berkata jujur siapa pesuruh nya." jawab Dava membuat Beni langsung hilang nafsu makan.


"Sepengetahuan ku tidak ada om. Menurut ku kasus ini di latar belakangi dendam pribadi saja." kata Dava membuat Beni langsung teringat satu orang. Tidak menuduh, namun Beni tidak mau mengungkapkan siapa orang itu karena semua itu adalah hasil tebakan. Mereka tidak tahu jika Alan bukanlah target penembaknya.

__ADS_1


Ruangan kembali hening, hanya ada bunyi dari alat medis. Shenaa pergi ke kamar mandi, untuk sekedar mencuci wajah nya. Lingkar mata wanita sangat hitam, membuat Beni merasa iba.


"Istirahat lah Shenaa, kau terlalu mengantuk." ujar Beni namun lagi-lagi Shenaa menolak nya.


"Om saja yang istirahat, om juga terlihat lelah." sahut wanita itu.


"Sebaiknya om pulang saja istirahat, aku dan Anna akan menjaga Alan. Jika ada apa-apa, aku akan menghubungi om." kata Dava "Dan kau juga harus istirahat Shen, kau bisa tidur di sofa itu atau ikut pulang bersama om Beni."


"Aku tidur di sofa saja. Jika ada apa-apa bangunkan aku." ujar Shenaa.


Beni membuang nafas kasar, "Baiklah, om pulang dulu. Jangan lupa hubungi om jika Akan sudah sadar."

__ADS_1


"Baik om," ucap Dava.


Beni pada akhirnya pulang, sedangkan Shenaa yang baru saja merebahkan diri langsung terlelap begitu saja karena wanita ini memang benar-benar mengantuk. Efek dari lelah, tidak ada mimpi jenis apa pun yang masuk dalam tidur nya kali ini.


__ADS_2