
"Kemana kita Alan?" tanya Shenaa penasaran.
"Ada yang ingin bertemu dengan mu." jawab Alan.
"Siapa?" tanya Shenaa singkat.
"Adalah, dia sudah menunggu mu di rumah."
"Di rumah? siapa sih?" tanya Shenaa penasaran.
Alan tak menjawab, pria itu malah menghidupkan musik di mobil nya. Shenaa yang kesal hanya bisa menggerutu kesal. Shenaa langsung mematikan musik tersebut.
"Kapan tunangan mu itu kembali?" tanya Shenaa sedikit kepo.
"Aku juga tidak tahu." jawab Alan masa bodoh.
"Kau ini lucu Alan. Calon istri pulang kok gak tahu." seloroh wanita itu.
"Hisss....kau ini. Sudah ku bilang kalau dia bukan calon istri ku!"
"Sekali lagi dia berani menyentuh rambut ku yang indah ini, sumpah demi apa pun aku akan membalas nya." ujar Shenaa kesal.
__ADS_1
"Balas saja. Aku ingin lihat kau dan Tasya siapa yang akan menang di antara kalian berdua." ucap Alan dengan tawa renyah nya.
"Kau menantang ku?" tanya Shenaa.
"Terserah kau menyebut nya apa!"
Tak berapa lama mobil Alan memasuki gerbang mewah rumah nya. Pria itu kemudian pria itu mengajak Shenaa masuk dan sejenak wanita itu terdiam.
"Duduk lah Shenaa." perintah Beni lalu Shenaa duduk di sebrang kakek nya.
"Apa kabar cucu kakek?" sapa Broto.
"Baik..." jawab Shenaa ambigu. Wanita itu masih sedikit kaget dengan kedatanga kakek nya.
"Jawab..." tegur Alan.
"Apa kakek benar-benar tidak tahu perihal kematian ke dua orang tua ku?" tanya Shenaa datar.
"Kakek benar-benar tidak tahu. Pak Beni baru saja menceritakan nya dan beliau sudah meminta maaf." jawab Broto hati-hati karena lelaki tua itu tahu jika Shenaa belum bisa menerima kehadiran diri nya.
"Benar Shenaa, saya baru saja menceritakan semua nya." sambung Beni meyakinkan.
__ADS_1
Shenaa menghela nafas dalam, manik mata itu menatap bola mata dengan keriput yang menghiasi wajah nya. Ada rasa kasihan namun entah kenapa ia sendiri belum bisa menerima kenyataan.
"Kalau gitu, kita pergi sekarang!" ujar Shenaa.
Tanpa basa basi lagi mereka pergi ke pemakaman. Shenaa dan kake nya berada di satu mobil mewah sedangkan Alan dan Beni mengikuti menggunakan mobil mereka sendiri.
Sesampai nya di pemakaman, Broto langsung mengikuti jejak cucu nya menyusuri setiap gang pemakaman. Langkah kaki Shenaa berhenti tepat di dua makam yang bertulis nama orang tua nya.
"Beni....terimakasih sudah merawat dan memberikan makam yang indah untuk anak dan menantu ku." ucap Broto tulus.
Beni yang merasa tidak enak hati hanya bisa mengiyakan ucapan lelaki tua itu. Jiwa tegas dan kewibawaan nya hilang begitu saja ketika Beni berhadapan dengan Broto.
Setelah mereka memanjatkan doa, mereka langsung pergi. Beni mengajak Broto pergi makan siang bersama Shenaa dan juga Alan.
"Kakek sudah membelikan mu apartemen di kota ini. Jadi kau tidak usah tinggal di kontrakan kecil lagi." ucap Broto membuat Shenaa terkejut.
"Tidak usah kek. Shenaa cukup nyaman tinggal di kontrakan itu."
"Jangan menolak Shenaa. Kakek akan merasa merasa bersalah jika melihat mu hidup dalam kesusahan sedangkan kakek hidup dalam kemewahan."
Alan dan Beni hanya bisa mendengarkan percakapan antara Shenaa dan kakek nya. Setelah di bujuk rayu oleh Broto, akhirnya Shenaa menerima apartemen tersebut.
__ADS_1
Dengan satu syarat jika mereka harus merahasiakan identitas Shenaa yang asli dan tetap membiarkan wanita itu bekerja.