
"Bodoh....! kalian tidak becus!" umpat suara berat dengan mata melotot nya.
Tiga orang yang berpakaian serba hitam itu yanya bisa menunduk terdiam mendengarkan hinaan dan amarah dari tuan mereka.
"Bagaimana bisa kalian tidak kalah melawan anak ingusan itu?" tanya Surya dengan nada tinggi nya.
"Maafkan kami tuan. Kami akan melakukan nya lagi." jawab salah satu anak buah Surya.
"Bodoh! kau pikir mertua ku akan tinggal diam? lakukan dengan hati-hati. Bawa anak ingusan itu ke hadapan ku." perintah Surya.
Entah sejak kapan pria itu berada di kota S. Tujuan nya hanya satu, menyingkirkan Shenaa agar seluruh harta warisan mertua nya hanya jatuh ke tangan anak-anak nya.
Di lain tempat, Broto yang menginap di apartemen cucu nya. Shenaa sudah tidur sejak tadi karena pengaruh obat yang ia minum.
"Cari tahu siapa dalang dari semua ini?" perintah Broto pada anak buah nya.
"Baik tuan."
"Dan jangan lupa awasi Surya dan Asih."
"Baik tuan."
"Di mana menantu kurang ajar itu?" tanya Broto.
__ADS_1
"Menantu anda sedang menginap di salah satu hotel di kota ini tuan. Apa yang harus saya lakukan pada menantu anda?"
"Biarkan saja! Aku yakin jika Surya adalah dalang dari semua ini." ucap Broto yakin. "Awasi saja pergerakan Surya. Laporkan setiap pergerakan nya pada ku." perintah Broto kembali.
"Baik tuan."
Tinggallah Broto sendiri di temani dua anak buah juga salah satu orang yang setia selalu mengikuti kemana pun ia pergi. Nama nya Sahman, pria berusia empat puluh delapan tahun yang sudah mengabaikan hidup nya dengan Broto selama dua puluh tahun.
"Tuan harus istirahat." ujar Sahman.
"Hmmm...." balas Broto tanpa membuka mulut nya.
Pria tua masuk ke dalam kamar, sejenak ingatan nya kembali ke masa lalu. Sebagai seorang ayah, jujur Broto sangat merindukan anak nya yang telah tiada.
Malam berganti pagi, Shenaa yang baru saja bangun merasa terkejut ketika melihat meja makan penuh dengan berbagai macam hidangan. Wanita itu menggaruk kepala nya tak gatal.
"Zaman sekarang dengan kekuatan uang apa pun pasti selesai." jawab Broto dengan santai nya.
"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Shenaa ketika melihat Alan yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa segelas susu.
"Sejak kau masih jauh di alam mimpi mu." sahut Alan lalu menyodorkan segelas susu untuk Shenaa.
"Kau tidak bekerja?" tanya Shenaa kembali.
__ADS_1
Alan melirik jam yang melingkar di tangan nya. "Kau kan tahu pekerjaan ku apa?" ujar Alan dengan senyum licik nya.
"Dasar...!" umpat Shenaa.
Broto hanya tertawa renyah melihat kelakuan cucu nya, Shenaa sama persis dengan mendiang Liana yang jika bicara asal ucap saja.
"Shenaa, kakek sudah membeli salah satu hotel di kota ini. Mungkin kamu bisa mengelola nya?" ucapan Broto membuat susu yang di minum Shenaa tersembur keluar.
"Kenapa kau jorok sekali...!" cibir Alan lalu mengambilkan tisu untuk Shenaa.
"Kakek beli hotel seperti beli kacang ya. Murah!" seloroh wanita itu.
"Iya, semua nya berkat bantuan pak Beni." sahut Broto.
"Biar orang lain saja yang mengurus nya. Aku masih betah bekerja di perusahaan Alan." ujar Shenaa menolak.
Broto menarik nafas dalam, pria tua itu sedikit kecewa dengan penolakan dari cucu nya. "Kenapa? apa yang membuat mu betah?" tanya Broto dengan nada sedih nya.
Shenaa melirik ke arah Alan, "Karena di perusahaan Alan lah aku bisa merasakan nikmatnya gaji tinggi dan aku bisa membantu sebagian anak yatim di panti dulu." gumam wanita itu membuat Alan memandang wanita itu. "Tempat itu juga adalah awal dari kehidupan ku yang layak kek. Aku sudah bekerja di perusahaan Alan sangat lama, mana mungkin aku keluar begitu saja."
"Lalu kenapa kau sempat resign?" tanya Alan padahal lelaki itu tahu apa alasan nya.
"Jangan bersikap bodoh! aku benci kau yang seperti itu." ucap Shenaa dengan sorot mata tajam nya.
__ADS_1
"Biasa saja mata nya. Aku hanya bercanda!" balas Alan membuat Broto tertawa.
Pagi ini indah, mereka sarapan bersama. Selesai sarapan Alan pergi ke kantor nya sebentar seperti biasa nya. Sedangkan Shenaa masih asik menikmati makanan yang enak-enak yang kalau tidak habis kata nya mubazir.