
Benar saja, hari ini Shenaa terus menghindari Alan hingga membuat lelaki itu uring-uringan. Anna dan ke dua teman kerja nya bingung melihat sikap Shenaa yang suka lari ketika melihat kehadiran Alan.
"Shenaa ada di bawah meja pak...!" seru Anna garam ketika Alan kembali lagi ruangan nya.
Shenaa yang mendengar perkataan Anna langsung memasang wajah marah nya. Alan yang jengkel langsung menarik lengan wanita itu lalu mengajak nya untuk pergi.
"Kau menghindari ku kan?" tanya Alan dengan suara dingin nya.
"Pelankan mobil nya....!" pinta Shenaa dengan wajah ketakutan. Dasar Alan yang bodoh, tidak mengingat apa yang pernah terjadi pada wanita itu. Wajah Shenaa berubah menjadi pucat, bibirnya bergetar hebat hingga wanita itu kuat mencengkram ujung kemeja nya.
Alan yang melihat wajah ketakutan Shenaa langsung menepikan mobil nya. "Shenaa, kau kenapa? maafkan aku...!" ujar Alan ketakutan sendiri.
"Aku takut...aku takut...." ucap Shenaa dengan suara bergetarnya.
Tiba-tiba Alan memeluk Shenaa, mulut nya tetus mengucapakan kata maaf pada wanita itu. Setelah Shenaa tenang, Alan melajukan mobil nya kembali menuju restoran karena Shenaa butuh istirahat sejenak.
"Minumlah,..." ujar Alan sambil menyodorkan sebotol air mineral "Maafkan aku..." ucap nya lagi.
"Tidak apa-apa, aku hanya teringat kejadian malam itu." jawab Shenaa semakin membuat Alan merasa bersalah.
"Kenapa kau menghindari ku hari ini? apa aku memiliki salah pada mu? jika iya, aku minta maaf!" ucap tulus pria itu.
"Tidak, kau tidak memiliki salah apa pun." Shenaa sedikit gugup. Wanita itu bingung akan menjawab apa jika Alan meminta jawaban perihal kemarin.
__ADS_1
"Makanlah, aku akan mengajak mu ke suatu tempat." ujar Alan.
Shenaa makan dalam diam, wanita itu masih sibuk bercengkrama dengan hati nya sekarang. Benar kata Alan, tidak ada hubungan teman antara seorang wanita dan pria tanpa melibatkan perasaan.
Sesekali mereka saling lirik lalu membuang pandangan, makan siang kali ini adalah makan siang yang mampu membuat tenggorokan Shenaa cekat. Selesai makan, Alan kemudian mengajak Shenaa pergi ke suatu tempat.
Pantai, untuk apa Alan mengajak Shena pergi ke pantai di jam kerja seperti ini? mereka terlihat seperti muda mudi yang asyik menyusuri bibir pantai di bawah teriknya matahari. Alan mengajak Shenaa duduk di pohon yang sudah mati namun terlihat sangat kokoh jika hanya di duduki oleh dua orang saja.
"Kau sering membuat ku bolos kerja...!" protes Shenaa "Aku tidak enak dengan teman-teman yang lainnya," timpal nya kembali.
"Sebelum kau menjawab ku, aku tidak akan membuat hidup mu tenang termasuk bekerja!" ancam Alan membuat Shenaa mendengus kesal.
"Apa yang kau suka dari ku?" tanya Shenaa tanpa menatap wajah pria itu.
"Apa yang tidak orang lain suka." jawab Alan singkat. Tangan kekar itu mulai nakal menarik tangan lembut wanita itu. Netra mata yang saling beradu pandang membuat pacu jantung mereka semakin menderu kencang.
"Jangan menghindar lagi. Aku tidak suka di acuhkan!" pinta lelaki itu dengan tatapan penuh cinta.
"Kau mau aku menjawab apa?" tanya kikuk Shenaa dengan wajah cengirnya.
"Jika sedang serius, jawablah dengan serius. Jangan menggantung ku seperti ini."
"Alan, buat ku jatuh cinta itu hanya untuk dua orang saja. Yang pertama adalah ayah yang telah membuat ku ada di dunia ini dan yang ke dua adalah laki-laki yang akan menjadi ayah dari anak-anak ku. Aku tidak ingin mengumbar cinta pada orang yang salah karena rata-rata, rasa luka dan kecewa itu paling besar berasal dari cinta." tutur Shenaa panjang kali lebar.
__ADS_1
"Tatap mata ku...!" pinta Alan namun netra mata itu masih memalingkan pandangan nya. "Shenaa, tatap mata ku..." pinta Alan sekali lagi. Dengan malu-malu Shenaa menatap mata elang dengan sorot tajam itu. "Apa kau melihat kebohongan di mata ku?" tanya Alan menyakitkan.
Relung mata itu masuk menembus kalbu yang tak dapat di sentuh namun bisa di rasakan. Shenaa masih mencoba mencari letak kebenarannya. "Alan.....!" lirih nya. "Aku hanya yatim piatu yang memiliki banyak kekurangan. Kau adalah laki-laki sempurna yang masih bisa mendapatkan pendamping yang sempurna juga."
"Tidak usah panjang lebar. Jika suka katakan saja suka. Jika tidak katakan tidak. Aku hanya butuh kepastian!" ucap Alan tegas.
"Jika ku katakan tidak bagaimana?" tanya Shenaa seketika Alan melepaskan tangannya. Shenaa tersenyum licik. "Tidak menolak mu maksud ku...!" timpal wanita itu membuat Alan yang setengah emosi langsung memeluk wanita itu tidak percaya.
"Jangan mempermainkan ku," ujar Alan masih memeluk wanita itu.
"Jika kau menganggap itu permainan ya sudah!" rajuk Shenaa melepaskan pelukan nya.
"Eeh...tidak, aku bercanda!" ujar Alan lalu menarik wanita itu ke dalam pelukan nya.
Masih canggung, tangan Shenaa belum berani membalas pelukan lelaki yang baru saja resmi menjadi kekasih nya itu. "Peluk aku....!" rengek Alan dengan ragu Shenaa melingkarkan ke dua tangan nya di pinggang Alan. Indah bukan, laut seakan adalah ikut bersorak kepada sepasang kekasih yang baru saja meresmikan hubungan nya itu.
Tiba-tiba Shenaa melepaskan pelukannya, "Jika papah mu tidak menyetujui hubungan kita bagaimana?" tanya Shenaa dengan nada sedih nya.
"Papah pasti setuju. Yang menjalani aku bukan papah. Tetaplah berada di samping ku meski sesuatu yang mengusik hubungan kita. Shenaa, bukankah aku telah memberi tahu mu jika aku telah jatuh hati pada pandangan pertama kita?" tutur Alan menyakinkan.
"Hmmm...terimakasih telah memilih ku menjadi pasangan mu." ucap Shenaa lalu memeluk Alan kembali.
Sore ini sungguh menjadi sore yang sangat membahagiakan untuk Alan. Tak pernah ia merasakan hal seperti ini ketika bersama Tasya dulu. Mereka akhirnya menghabiskan sore dengan menunggu senja. Tak berapa lama, kilau jingga menghiasi cakrawala, membuat senyum Alan dan Shenaa tertoreh ketika saling menggoda.
__ADS_1
Rambut panjang itu melambai ketika di hempas angin laut. Sungguh, Alan sangat terpesona dengan kekasih hati nya. Lelaki itu menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Shenaa agar Alan bisa puas memandang nya. Shenaa hanya tersipu malu, rona wajah wanita itu tak dapat di sembunyikan.
Hampir gelap, mereka baru beranjak meninggalkan bibir pantai itu. Saling berpegangan tangan,menahan senyum malu juga hati yang masih sangat bergetar hebat. Saking bahagianya Alan, pria itu tidak melepaskan genggaman tangannya meski ia sedang mengemudi. Mau protes bagaimana lagi, Alan tetap tidak mendengarkan gerutuan kekasih nya itu.