
"Sebentar lagi akan ada acara ulang tahun perusahaan milik keluarga Beni." ujar Tasya memberi tahu Surya.
"Lalu, apa hubungan nya dengan ku?" tanya Surya seakan tak paham dengan maksud Tasya.
"Lakukan apa yang seharusnya di lakukan. Aku sudah muak melihat keponakan mu itu...!" ucap Tasya dengan wajah mengejek.
"Kapan acaranya?" tanya Surya.
"Satu minggu lagi. Sebab keponakan mu itu aku dan Alan gagal menikah. Singkirkan perempuan itu jauh-jauh." perintah Tasya.
"Siapa kau? kenapa kau berani memberi ku perintah? Aku minta imbalan!!" gumam Surya membuat emosi Tasya terpancing.
"Apa maksud anda dengan imbalan? bukankah kita sama-sama ingin menyingkirkan Shenaa? lalu kenapa anda meminta imbalan pada ku?"
"Ini menyangka nyawa seseorang. Jika kau tidak memberikan ku imbalan, maka aku akan membuat hidup mu sama menderita nya dengan keponakan ku itu...!" ucap Surya dengan nada penuh penekanan.
Tasya mendengus kesal, "Akan ku pikirkan!!" ujar nya kemudian Tasya pergi meninggalkan Surya yang sedang tertawa dengan liciknya.
"Bodoh!! wanita bodoh!" umpat Surya.
__ADS_1
Di lain tempat, Shenaa yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Alan harus menyimpan amarah nya terlebih dahulu karena pagi ini Alan tidak datang ke kantor.
"Siapa yang membuat mu marah Shen? Wajah mu begitu menakutkan!!" tegur Anna membuat Shenaa semakin kesal.
"Tidak ada! Aku sedang ingin memakan seseorang." ujar Shenaa kesal.
Anna dan ke dua temannya hanya bisa mengangkat ke dua bahu mereka. Sudah biasa melihat sikap Shenaa yang seperti itu.
Makan siang kali ini, Alan tidak mengajak Shenaa makan di luar melainkan ia membeli beberapa makanan lalu mengajak Shenaa makan di dalam ruangannya.
"Kenapa? apa aku punya salah?" tanya Alan ketika melihat wajah menyeramkan dari sang kekasih hati.
"Mana aku tahu! Jika aku tahu, akan ku hajar dia. Berani sekali masuk ke dalam mimpi pacar ku." ujar Alan seakan menantang.
"Kalau begitu, hajar saja diri mus sendiri...!" seloroh Shenaa membuat Alan mengerutkan kening nya.
"Kau sedang bercanda?" tanya pelan pria itu.
Shenaa mendengus kesal, wanita itu langsung menarik hidung mancung dan mencubit pipi Alan hingga memerah. Bahkan Shenaa juga mencubit perut Alan.
__ADS_1
"Kenapa kau memangsa ku?" tanya Alan yang sudah berhasil menghindar dari Shenaa.
Shenaa membuang nafas kasar, terlihat sekali wajah kesalnya. " Apa kau tahu, pria yang selama ini bertahun-tahun ada di dalam mimpi ku itu adalah kamu...!" ucap Shenaa dengan nada kesalnya.
"Apa? aku...? kok bisa?" tanya Alan tidak mengerti. "Dari mana kau tahu jika itu aku?" tanya nya kembali.
"Tadi malam..." jawab Shenaa singkat lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa. "Apa maksud dari semua ini Alan?" tanya Shenaa lirih.
Alan membenarkan pakaian yang berantakan lalu menghampiri Shenaa. "Aku tidak tahu. Tapi, apa kau yakin jika pria itu adalah aku?" tanya Alan masih tidak percaya.
"Tidak, aku sangat yakin. Kau selalu datang memberi ku bunga lalu pergi entah kemana tanpa bicara apa-apa." tutur Shenaa seakan mimpi itu memiliki makna yang dalam.
"Jangan terlalu di pikirkan, itu hanya sebuah mimpi." ucap Alan menenangkan.
"Tidak Alan.Setiap kali aku bermimpi, ada kesedihan yang entah berasal dari mana."
Alan menghela nafas pelan, "Ayo makan, kau pasti lapar." ujar Alan mengalihkan pembicaraan mereka.
Shenaa dan Alan makan siang bersama, sejujurnya Alan juga takut jika mimpi Shenaa selama ini akan memiliki makna yang akan terjadi suatu saat nanti.
__ADS_1