
Ketika Dokter keluar langsung memberi tahu jika keadaan Alan kritis karena peluru tersebut sedikit mengenai pembuluh jantung Alan. Tembakan itu berhasil masuk ke tubuh Alan karena Surya benar-benar memperintahkan penembak yang sudah berpengalaman.
Shenaa langsung terduduk lemas, begitu juga dengan Beni. Untuk sementara waktu Alan belum bisa di jenguk oleh siapa pun. Mau tidak tidak mau Shenaa dan yang lain nya menunggu di luar ruangan.
Broto sudah pulang sejak tadi, tulang tua nya memaksa untuk segera beristirahat. Lufti datang dengan membawa informasi mengenai penembakan itu.
"Dari rekaman cctv, sebenarnya penembak itu mengincar nona Shenaa." ujar Lutfhi memberitahu.
Broto langsung mengepalkan ke dua tinju nya, lelaki tua ini sudah bisa menebak siapa orang yang sudah melakukan hal ini. "Kita pulang malam ini, kabarkan orang rumah untuk menyambut kepulangan ku termasuk Surya." perintah Broto langsung di laksanakan oleh Lutfhi.
Di lain tempat, Tasya terus mengeluarkan sumpah serapah nya karena penembak itu tidak berhasil membunuh Shenaa. Namun Fahrul merasa puas karena rasa sakit hati nya pada Beni sedikit terobati.
__ADS_1
"Akan lebih bagus lagi jika Alan mati. Papah sangat ingin melihat Beni hancur sekarang!" ucap Fahrul yang tidak berperasaan.
"Apaan sih pah, kalau Alan mati Tasya nikah sama siapa?" wanita itu tidak terima dengan ucapan papah nya.
"Papah akan mencarikan mu pria kaya lain nya!" seru Fahrul yang terlihat biasa saja.
Pria serakah itu sekarang sedang mengingat siapa pengusaha yang memiliki anak laki-laki yang cocok di nikahkan dengan Tasya.
Kembali ke Shenaa, tanpa sadar diri nya tertidur sambil duduk di depan ruangan Alan. Lagi-lagi, Shenaa bermimpi di datangi seorang pria yang berpakaian lengkap dengan jas nya. Pria itu datang membawa bunga, namun kali ini bunga yang di bawa tidak berwarna merah seperti biasa nya. Pria itu memberi Shenaa setangkai mawar putih, setelah memberikan bunga tersebut, pria itu membuka topeng nya yang ternyata itu adalah Alan.
"Alan,...Alan jangan tinggalkan aku....jangan tinggalkan aku....!" Shenaa mengigau, beberapa kali memanggil nama Alan hingga membuat Anna dan Dava yang ada di samping nya terkejut kemudian langsung membangunkan Shenaa.
__ADS_1
"Shenaa, bangun,....Bangun Shenaa....!" Anna menepuk ke dua pipi Shenaa hingga membuat wanita itu terkejut.
Shenaa langsung memeluk Anna, tangis nya kembali tumpah dalam pelukan Anna, "Alan meninggalkan aku Anna, dia meninggalkan ku." kata Shenaa dengan suara serak nya.
"Alan tidak meninggalkan mu, itu hanya mimpi. Itu hanya mimpi Shenaa....!" wanita ini mencoba menenangkan Shenaa.
"Dia kenapa?" tanya Dava bingung.
"Akan ku ceritakan nanti." Anna berkata dengan isyarat.
Akhirnya Shenaa tenang di dalam pelukan Anna. Wanita itu tidak berani melanjutkan tidur nya karena takut jika mimpi itu datang kembali.
__ADS_1
Pukul empat pagi, Alan di pindahkan ke ruang rawat dengan segala alat medis yang menempel di tubuh nya. Luka yang terlalu dalam itu membuat Alan kritis sekarang.
Shenaa tidak sanggup ketika melihat laki-laki yang ia cintai harus terbaring tak berdaya di atas brankar. Shenaa duduk di samping Alan, air mata nya keluar tanpa suara, mengingat kembali hari-hari bersama dengan Alan.