Pria Dalam Mimpi

Pria Dalam Mimpi
30.Menyatakan


__ADS_3

"Shenaa, apa kau memiliki pacar?" tanya Alan dengan santai nya.


"Tidak ada. Pacaran, selain bisa menyebabkan patah hati juga bisa menyebabkan manusia jadi gila." celetuk Shenaa dengan asalan.


"Apa kau tidak tergila-gila pada ku?" tanya Alan dengan percaya diri nya.


"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Shenaa balik.


"Kau ingin aku menjawab jujur atau bohong?" tanya balik Alan sambil menyeruput es jeruk nya.


"Terserah kau jawab apa. Aku akan setia mendengarkan nya." ujar Shenaa.


Alan menatap manik mata dengan bulu mata lentik itu, sorot mata nya seperti menggambarkan rasa cinta yang dalam. "Jika aku menyukai mu bagaimana?" tanya Alan dengan nada serius nya.


"Alihkan pandangan mu." tegur Shenaa mulai gugup.


"Jawab aku...!" pinta Alan lalu tiba-tiba menggenggam tangan Shenaa. Wanita itu mencoba menarik tangan nya namun Alan semakin erat menggenggam nya.

__ADS_1


"Alan....aku tidak bisa menjawabnya." lirih Shenaa.


"Kenapa?" tanya singkat Alan.


"Aku hanya menganggap mu sebagai teman." gumam Shenaa membuat telinga Alan gatal.


Alan tertawa renyah, "Shen,...tak ada pertemanan antara seorang wanita dan laki-laki yang tidak melibatkan perasaan. Jujur, aku sudah menyukai mu sejak pertama kali kita bertemu." ucap Alan mampu membuat jantung Shenaa bergetar hebat.


Shenaa menarik tangannya. Wanita itu membuang pandangan nya jauh ke jalan yang masih di penuhi lalu lalang kendaraan.


"Apa kau termakan dengan ucapan papah ku waktu itu?" tebak Alan namun Shenaa hanya diam.


Alan membuang nafas kasar, "Jangan dengarkan ucapan papah. Aku janji, aku akan menyelesaikan masalah ku dengan keluarga Tasya." ucap Alan namun Shenaa masih setia dengan diam nya.


Suasana berubah menjadi dingin, sejak Alan menyatakan perasaan nya Shenaa berubah menjadi diam. Akhirnya Alan memutuskan untuk mengantar Shenaa pulang ke apartemen nya karena malam mulai larut.


Semalam Shenaa tidak bisa tidur karena memikirkan ungkapan hati Alan. Jujur saja, apa yang di katakan Alan adalah benar. Selama ini Shenaa juga menaruh hati pada pria tampan itu namun rasa suka nya ia pendam karena ia kurang percaya diri.

__ADS_1


Begitu juga dengan Alan, lelaki itu terus memegang dada nya. Sudah benarkah diri nya tadi? menyatakan perasaan nya pada Shenaa yang tidak ada romantis-romantis nya.


"Bodoh kau Alan! lelaki jenis apa kau ini? kenapa kau tidak mempersiapkan semua nya dengan matang?" gerutu Alan pada diri nya sendiri. Lelaki itu menutup wajah nya dengan bantal lalu berteriak sekerasnya.


Malam berganti pagi, Shenaa berangkat kerja dengan kantung mata yang menghitam. Ketika ia berada di loby dan berselisih dengan Alan, wanita itu tertunduk malu dan melajukan langkah nya.


"Kalian bertengkar?" tanya Dava penasaran dengan sikap Shenaa.


"Tidak...!" jawab Alan bergeleng kepala.


"Lalu kenapa dengan Shenaa?"


Tidak menjawab pertanyaan Dava, pria yang sedang jatuh cinta itu berlalu begitu saja. Dengan penuh keberanian Anna menghampiri Dava.


"Pak, mereka kenapa?" tanya Anna.


"Kenapa kau jadi bertanya pada ku? harus nya aku yang bertanya pada mu!" ujar Dava membuat Anna kesal. Dengan wajah cemberut Anna meninggalkan Dava yang terus mengoceh tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2