Pria Dalam Mimpi

Pria Dalam Mimpi
51.Maafkan aku


__ADS_3

Masih menikmati waktu di hotel, seharian Alan dan Shenaa berada di kamar hotel untuk beristirahat sebelum memulai pertempuran ang sesungguhnya. Tidak ada yang berani mengganggu mereka, bahkan ponsel ke dua nya saja di non-aktifkan.


Mereka berdua masih belum percaya jika mereka sudah sah menjadi suami istri. Terkadang Shenaa cekikikan sendiri sampai di di katai Alan kesurupan. Bahkan, Shenaa suka sekali mengusir Alan dari dalam kamar yang membuat Alan gemas sendiri.


Benar kata orang, jika kita menikah dengan orang yang kita sayang, perlahan namun pasti mereka akan menunjukan sikap mereka yang sesungguhnya. Tidak terkecuali Alan, laki-laki yang kenal cuek dan jarang bercanda bahkan tidak ada romantis-romantis nya ini, mengeluarkan jurus kentut nya dengan suara yang sangat nyaring.


Shenaa yang mendengar nya hanya bisa tercengang lalu tertawa terbahak-bahak. "Apa kau tidak malu pada ku?" tanya Shenaa masih dengan tawa nya.


"Ngapain malu, toh kau sudah menjadi istri ku juga." sahut Alan dengan santai nya.


"Kau yang biasa nya terlihat rapi dan elegan ternyata jorok juga." canda Shenaa.


"Kalau hanya kita berdua, aku tidak merasa malu. Tapi, jika sedang banyak orang aku harus menjaga wibawa ku." ujar Alan penuh percaya diri.


Matahari mulai condong ke barat, sepasang pengantin baru ini sudah cantik dan tampan. Mereka akan makan malam di pinggir kolam, untung saja hotel milik sendiri jadi sesuka hati Shenaa memilih tempat.


"Aku sangat bahagia, sekarang aku memiliki keluarga ku sendiri." ucap Shenaa dengan senyum manis nya.


"Kakek adalah keluarga mu, kenapa kau melupakan itu sayang?" tanya Alan.


"Aku tahu jika kakek adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Namun, rasa beda saja. Pertemuan di antara kami membuat ku masih merasa seperti orang asing." Shenaa berkata jujur.


"Cukup kau ungkapkan kepada ku saja isi hati mu itu. Aku tidak ingin melihat kakek mu nerasa sedih dengan pernyataan mu. Dia sudah tua dan sudah waktu nya dia beristirahat." Alan menasehati istrinya.

__ADS_1


"Aku mengerti. Tapi,aku tidak ingin hidup mengatasnamakan nama besar kakek ku. Semua kekayaan yang dia berikan pada ku tidak cukup bagi ku untuk merasakan hangat nya sebuah keluarga."


Alan meraih tangan istri nya, menggenggam nya erat untuk memberi semangat pada wanita itu. "Jangan sedih lagi, mari kita bangun keluarga kita sendiri. Jika di masa lalu kita tidak mendapatkan cukup kasih sayang dari orang tua kita, setidak nya kita bisa melimpah kan kasih sayang kepada anak-anak kita kelak. Jangan sampai masa lalu mengajarkan kita untuk mengulang masalah yang sama." Alan bertutur dengan bijak nya.


Selesai makan malam, Alan dan Shenaa kembali ke kamar. Shenaa pergi ke kamar mandi, untuk sekedar menggosok gigi dan membersihkan riasan di wajah nya. Sedangkan Alan, pria itu sedang membayangkan indah nya malam pertama yang sudah dia impikan sejak kemarin.


"Kenapa belum tidur?" tanya Shenaa pada suami nya.


"Sengaja, menunggu mu!" jawab pria itu lalu melepas baju kaos nya.


"Heh,...kenapa di lepas?" tanya Shenaa melotot.


"Panas sayang!" seru Alan.


Tidak menyahut, Alan malah menarik istrinya masuk ke dalam pelukan nya lalu berbisik di telinga istrinya. "Bukankah malam ini malam pertama kita? kenapa harus tidur lebih awal?"


"Alan, geli...!" gumam wanita itu merasa bulu kudung nya merinding ketika Alan mencium leher jenjang milik istri nya.


Alan tidak peduli, pria itu lalu menangkup wajah Shenaa lalu meraup bibir manis istrinya. Alan memangut bibir istri nya, namun Shenaa yang terkejut bahkan tubuh nya menegang tidak merespon ciuman suami nya. Shenaa kemudian mendorong tubuh Alan, wanita ini merasakan jika jantung nya berpacu sangat kencang.


"Kenapa sayang?" tanya Alan heran.


"Aku tidak terbiasa berciuam." jawab jujur wanita itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, mari kita biasa kan," ujar Alan.


"Alan a-k,.....!" belum sempat Shenaa menyelesaikan ucapan nya, Alan kembali menarik istrinya lalu mencium bibir manis milik istri nya lagi. Ciuman semakin panas, Alan tidak memberikan celah sedikit pun untuk Shenaa melepas bibir nya. Sesekali pria itu membiarkan istri nya bernafas.


Kini, Alan sudah hilang kendali, pria itu mulai berani berjelajah ke leher istri nya. Memberi tanda kemerahan di sana, turun sedikit di bagian atas dada hingga membuat Shenaa mengeluarkan lenguhan kecil yang mampu membuat nafsu Alan kelana.


Tangan Alan mulai nakal, meraba ke sana kemari mengusap tubuh mulus istri nya. Tanpa di sadari oleh Shenaa, wanita itu sangat menikmati ketika suami nya meremas dua bukit indah milik nya.


Ketika Alan hendak melepas celana milik istri nya, tangan Shenaa langsung menahan tangan pria itu. "Ada apa?" tanya Alan datar juga menunjukkan wajah bingung nya.


"Aku sedang datang bulan." jawab wanita itu malu-malu.


"Jangan bercanda sayang, ini sudah sangat panas!" gumam Alan.


"Aku serius, mungkin tiga hari akan selesai." kata Shenaa dengan wajah serius.


Alan langsung berguling-guling tidak percaya jika malam pertama nya harus menunggu tiga hari lagi. Barang yang sudah menegang kini kembali tidur dengan keadaan lemas. Shenaa hanya bisa tersenyum garing melihat tingkah suami nya.


"Maafkan aku sayang, ini semua bukan mau ku." ucap Shenaa merasa tidak enak hati sudah mengecewakan suami nya.


Alan membuang nafas kasar lalu berkata pada istri nya dengan pasrah. "Ya sudah, ayo kita tidur. Aku akan menunggu tiga hari itu."


Shenaa kembali tersenyum garing, ketika Alan menarik nya untuk tidur dalam pelukannya. Jadi, malam ini tidak ada adegan malam pertama. Shenaa dan Alan hanya tidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2