
"Apa yang membuat mu senang Alan?" tanya Beni ketika melihat anak nya yang baru saja pulang dengan bersiul-siul.
"Tidak ada pah!" jawab Alan singkat.
"Jangan bohong Alan! sudah lama papah tidak melihat wajah bahagia mu itu." gumam Beni.
"Jika aku menceritakannya, apa papah bisa menerima nya?" tanya Alan dengan wajah serius nya. "Aku sudah membatalkan pertunangan ku dengan Tasya." ujar Alan memberi tahu papah nya.
"Papah sudah tahu itu. Pantas saja mereka berteriak kepada papah." ucap Beni.
"Aku sudah menemukan perempuan yang tepat untuk ku. Jika papah merestui kami, aku sangat bersyukur. Jika tidak pun terserah papah." ujar Alan kemudian berlalu begitu gitu saja.
Sudah bisa di tebak oleh Beni siapa yang telah membuat anaknya menjadi seperti ini. Ingin menolak tidak mungkin, rasa bersalah nya telah menghantui nya kembali.
__ADS_1
Beni hanya bisa menghela nafas dalam, ia kemudian pergi karena malam ini ia sudah ada janji dengan Fahrul untuk membahas masalah anak-anak mereka.
"Maafkan aku Fahrul, seperti perjodohan Tasya dan Alan memang harus secepat nya di akhiri." ucap Beni mambuat Fahrul tidak terima.
"Apa karena perempuan yang bernama Shenaa itu?" tanya Fahrul dengan nada tinggi.
Beni tertawa renyah, "Kau ternyata menyelidiki anak ku tapi lupa untuk menyelidik anak mu sendiri." cibir Beni membuat Fahrul mengernyitkan kening nya.
Beni kemudian melemparkan beberapa foto Tasya yang sering bergonta ganti laki-laki. Fahrul menatap dengan sorot mata tajam, tangan yang meremas lembaran foto anaknya.
"Kau pasti sedang memfitnah anak ku!" ucap Fahrul tidak percaya.
"Jika bukan karena Alan yang bersikeras menolak perjodohan ini, mungkin anak ku sudah masuk ke dalam permainan anak mu. Dan satu lagi, perempuan yang kau maksud bukan perempuan sembarangan bahkan kasta nya pun lebih tinggi dari keluarga mu." papar Beni panjang lebar.
__ADS_1
Beni kemudian pergi, menyisakan Fahrul yang sedang menahan emosi. Fahrul kemudian menghubungi Tasya untuk meminta penjelasan apa yang baru saja ia lihat. Fahrul pulang dalam keadaan menahan emosi.
Di lain tempat, Shenaa yang baru saja terlelap tiba-tiba terbangun. Wajah nya menampakkan raut kebingungan, wanita itu kemudian mengambil air minum.
"Apakah pria yang ada di dalam mimpi ku itu....?" Shenaa berucap pada dirinya sendiri. Wanita itu kemudian bergeleng kepala tidak yakin. "Apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk ku? kenapa baru sekarang dia menunjukkan siapa pria dalam mimpi ku?"
Shenaa menghela nafas dalam, sedikit melirik yang yang menempel di dinding. Wanita itu kemudian pergi ke dapur untuk memasak mi instan. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun mata Shenaa belum juga mau terpejam. Pria dalam mimpi itu membuatnya galau, kenapa harus sekarang ia tahu siapa pria itu.
"Awas saja, aku akan menjambak rambut mu besok!" ucap Shenaa geram. "Tapi, apa maksud dari mimpi itu? kenapa dia hanya memberi ku bunga lalu pergi?" Shenaa bertanya pada angin malam namun cicak yang menjawabnya.
Entah ada makna apa yang terselubung, setiap sudah beberapa kali ketika Shenaa bermimpi seorang pria memberinya bunga lalu pergi dalam kepulan asap.
"Semoga saja hanya mimpi...!" ucap Shenaa berdoa. Wanita itu akhirnya mencoba memejamkan mata nya karena besok ia harus bekerja.
__ADS_1