
Dengan gaya anggun dan elegan, Tasya mwsuk ke dalam ruangan Alan tanpa permisi. Beni tidak suka dengan sikap wanita itu. Rasa sangat tidak sopan jika masuk tanpa permisi itu. Tidak yang menyapa Tasya, namun wanita itu nampak biasa saja dan acuh.
Tasya meletakan buah tangan yang dia bawa, lalu menghampiri Alan tanpa menghiraukan Shenaa yang sejak tadi melihat diri nya.
"Bagaimana keadaan mu Alan? aku sangat khawatir pada mu!" ujar Tasya hendak memeluk pria itu. Dengan kasar Alan mendorong tubuh Tasya, membuat wanita itu hampir terjungkal kebelakang.
"Di mana letak sopan santun mu?" tanya Alan dengan wajah dingin.
Wajah Tasya langsung berubah masam, "Aku hanya ingin menjenguk mu, aku khawatir pada mu." wanita ini masih membela diri.
"Alan benar, kau sangat tidak memiliki sopan santun. Seharusnya kau menunjukkan rasa hormat mu pada orang lebih tua di sini...!" ucap Shenaa membuat Tasya merasa terhina.
"Siapa kau, berani nya ikut campur urusan ku?" Tasya bertanya dengan angkuh nya.
"Dava,....!" panggil Beni yang sudah tidak tahan melihat kelakuan Tasya.
"Iya om, ada apa?" tanya Dava.
"Seret perempuan ini keluar!" perintah Beni, bergegas Dava menarik paksa tangan wanita itu lalu menyeretnya keluar.
__ADS_1
Tasya berontak, tidak terima di usir seperti ini. Wanita ini terus mengumpat, mengatai Dava dengan kata-kata yang sangat kasar. Dava tidak peduli, lelaki yang geram itu langsung mendorong tubuh Tasya hingga membuat nya terjungkal jatuh lentai. Dava masuk kembali, kemudian keluar sambil melempar buah tangan yang di bawa nya tadi.
"Bawa barang mu pergi, kau tidak di butuhkan di sini...!" ujar Dava lalu mengejek wanita itu.
Tasya menggertakan giginya, mengepalkan ke dua tinju nya penuh amarah. Wanita itu pergi, tidak lupa untuk mengadu pada sang ayah yang membuat emosi Fahrul semakin membara.
"Papah pulang dulu, Dava dan Shenaa akan menjaga mu." ujar Beni.
"Iya pah," sahut Alan.
"Aku keluar sebentar, aku ingin membeli makan malam untuk kalian." kata Dava kemudian pria itu bergegas pergi.
"Ada apa dengan mu? kenapa masih bersedih juga?" tanya Alan penasaran.
"Ku pikir, mimpi itu akan menjadi kenyataan. Aku pikir kau akan menghilang sama seperti mimpi ku." ucap Shenaa sedih.
"Mana mungkin aku menghilang," ucap Alan tersenyum, " Mimpi itu hanya bunga tidur sayang, jangan terlalu di pikirkan." kata Alan menghibur Shenaa.
Pria itu tidak mau berkata jujur jika Shenaa adalah target dari penembakan itu dan bukan dirinya. Alan tidak ingin membuat Shenaa merasa takut dan merasa bersalah.
__ADS_1
"Di mana kakek mu?" tanya Alan.
"Kakek sudah pulang, kata nya ada pekerjaan yang harus di selesaikan." jawab Shenaa sambil mengupas buah jeruk. "Aaaa.....!" ujar Shenaa yang ingin menyuapi calon suami nya.
"Apa jeruk ini manis?" tanya Alan mengajak bercanda.
"Jika jeruk ini asam, ku harus melihat wajah ku maka jeruk ini akan manis berkali lipat!" jawab Shenaa membuat Alan tertawa.
"Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan melamar mu dan menikahi mu dalam satu waktu." ucap Alan begitu lantang.
"Sembuh saja belum, sudah mikir nikah!" gerutu Shenaa.
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikah dan hidup bersama mu." ujar Alan manja.
"Benarkah?" tanya Shenaa sambil menatap ke dua mata Alan. "Kalau begitu, nikahi aku." ujar wanita itu.
"Aku serius calon istri ku." ucap Alan begitu lembut nya.
Shenaa hanya bisa menahan haru di dalam hati nya, wanita ini tidak menyangka jika suatu hari diri nya akan menikah dan memiliki sebuah keluarga. Keluarga yang akan menjadi tempat sandaran hidup nya. Tidak bisa di pungkiri, meskipun Shenaa masih memiliki seorang kakek, namun wanita itu masih berusaha untuk menerima kehadiran Broto mengingat bagaimana sulitnya kehidupan tanpa keluarga. Sebisa mungkin Shenaa bersikap biasa saja dan tidak menunjukkan sikap nya yang jika boleh di katakan jujur, jika diri nya beluk bisa mengakui jika Broto adalah kakek nya alias satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang.
__ADS_1