Pria Dalam Mimpi

Pria Dalam Mimpi
47.Penasaran


__ADS_3

Setibanya di kota S, Shenaa langsung beristirahat karena tubuh nya benar-benar sangat lelah. Alan tidak meninggalkan wanita itu sendirian lagi, bahkan meminta Anna untuk menemani Shenaa untuk beberapa hari ke depan.


Di lain tempat, Tasya yang masih di introgasi masih tidak mau mengaku jika diri nya juga terlibat dalam penculikan Shenaa. Fahrul bahkan memohon pada Beni agar bisa membantu membebaskan anaknya.


"Anak ku tidak bersalah Ben, dua manusia licik itu sudah memanfaatkan nya." kata Fahrul mencoba membela anak nya.


"Ku harap kau menjadi orang tua yang bijak, aku tahu setiap orang tua pasti akan membela anak nya baik benar maupun salah. Tapi, tindakan anak mu sudah benar-benar kelewatan." ujar Beni membuat Fahrul terdiam. "Maaf Fahrul, kali ini aku tidak bisa menangkap mu. Bahkan, aku yakin jika kasus penembakan Alan kau pasti juga ikut ambil." timapal Fahrul membuat Beni tidak terima. Pria itu langsung mengepalkan tangan nya, tidak terima atas tuduhan Beni namun diri nya yang merasa hanya bisa diam saja kemudian pergi.


Di apartemen, Shenaa sibuk memegang cermin kecil untuk melihat lebam di wajah nya yang masih sedikit menbiru. Tentu saja wanita ini menggerutu kesal karena hari ini seharusnya dia dan Alan menikah. Namun nyata nya pernikahan tersebut di undur tiga hari lagi.


"Jangan di sentuh terus, nanti tambah sakit!" tegur Anna.

__ADS_1


"Mereka sudah merusak wajah ku, rasa nya ingin ku geprek wajah mereka!" ucap Shenaa kesal.


"Sebab harta mata mereka buta!" seru Anna.


"Jika mereka buta, mereka pasti tidak akan mengenal harta." balas Shenaa.


Tak berapa lama, Bobby datang untuk melapor tentang kasus Asih dan Surya juga Tasya. Rasa geram sekali ketika Anna mendengar nya, namun wanita itu hanya bisa mengeluarkan sumpah serapah nya.


"Semua tentang mereka, ku serahkan pada mu. Aku sudah tidak ingin melihat wajah mereka lagi." kata Shenaa.


Bobby hanya mengangguk, kemudian pria itu pergi kembali karena masih ada pekerjaan.

__ADS_1


"Shen, aku penasaran, apa kau masih suka bermimpi tentang Alan atau pria yang selalu ada di dalam mimpi mu itu?" tanya Anna mulai penasaran karena biasa nya Shenaa akan bercerita hampir setiap hari.


"Akhir-akhir ini, aku mulai jarang bermimpi. Tapi, tidak ada lagi mimpi buruk atau mimpi teka teki seperti biasa nya." jawab Shenaa.


"Menurut ku, mimpi itu sebenarnya pertanda. Coba kau kaitkan lagi tentang kejadian yang kau alami selama ini. Jika kau tidak bertemu dengan Alan, mana mungkin latarbelakang mu akan terkuak!" ujar Anna membuat Shenaa langsung berpikir.


Wanita itu menarik nafas panjang, lalu berkata "Kau benar juga, aku harus berterimakasih pada mimpi itu."


"Ambil hikmah nya, berkat kau kehidupan ku sekarang juga ikut membaik. Terimakasih Shenaa." ucap Anna tulus.


"Tidak usah berterimakasih, jika aku ada aku akan selalu membantu mu. Karena, hanya kau satu-satunya teman yang tidak melihat siapa aku sebenarnya." ujar Shenaa lalu mereka saling berpelukan.

__ADS_1


Anna membantu mengolesi salep pada wajah Shenaa agar wajah nya kembali cantik lagi. Le dua wanita itu saling bercanda, mengingat tentang zaman-zaman mereka kuliah dulu dan tak terasa sekarang Shenaa akan menikah sebentar lagi.


__ADS_2