Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Tidak Sepolos Kelihatannya


__ADS_3

Pria Pilihan Ibu BAB 10


Oleh Sept


Hari itu Arman seperti kejatuhan durian runtuh. Dia masih tidak percaya dengan Lia yang akhirnya setuju dengan perjodohan ini. Pria itu sampai tidak bisa tidur, karena mungkin saking senengnya. Tidak sia-sia dia pergi menyeberangi pulau, akhirnya dapat hasil juga.


Seperti perjuangan Arman selama ini membuahkan hasil. Semuanya terbayar sudah dengan sikap Lia sekarang ini.


***


Matahari bersinar sangat cerah, secerah wajah Arman yang habis dari luar untuk membeli makanan.


"Mau ini?" Arman mengulurkan bubur sumsum yang dia beli di luar. Karena kata Lia makanan di rumah sakit gak enak di lidahnya.


Lia mengangguk, kemudian akan makan sendiri. Namun, Arman malah membukanya, lalu hendak menyuapi Lia. Jelas Lia heran, dan langsung menggeleng.


"Lia makan sendiri, Mas." Lia langsung menolaknya, mana mau dia disuapi oleh Arman. Pria itu ada-ada saja, masa tiba-tiba mau menyuapi dirinya, jelas Lia menolak. Selain tidak nyaman, pasti juga canggung dan tidak enak.


Arman tersenyum kecut, meskipun sudah diterima, sepertinya Lia ini jual mahal sekali. Susah sekali membuat Lia menerima, atau jangan-jangan memang karakter Lia yang seperti itu. Arman pun pilih mengalah, lagian yang penting Lia mau. Toh biarkan waktu mengalir apa adanya. Mungkin sulit bagi Lia langsung bersikap terbuka dan menerima dengan hangat.


"Oke. Ini ... makan yang banyak," kata Arman. Ia kemudian memberikan makanan itu tanpa ingin menyuapi Lia lagi. Padahal, niatnya cuma ngasih perhatian kecil. Sepertinya belum waktunya.


"Makasih," ucap Lia lalu mulai memakan sendok demi sendok. Lumayan enak juga, atau karena ia makan ada temannya? Biasa hidup sendiri, kadang tanpa ia sadari, Lia merasa kesepian. Dia benar-benar butuh teman, butuh seseorang yang bisa duduk bersama, berbicara tentang banyak hal, tentang dunia dan tentang masa depan.


"Sini, aku cuci sekalian," kata Arman yang perhatian.


'Gila ... kenapa dia baik banget? Apa dia akan seperti ini setelah nikah?' pikir Lia yang melihat sikap Arman.


Sesaat kemudian, Arman sudah kembali dengan wadah yang bersih. Kemudian menawarkan Lia untuk dipotongkan apel.


"Mau aku potongin apel?" Lagi-lagi Arman ini sosok laki-laki care banget. Membuat banyak pertanyaan di benak Lia. Cowok ini tujuannya apa sih? Mana mungkin baik baget sama dia? Belum apa-apa, Lia sudah suudzon duluan.


"Masih kenyang," tolak Lia. Gadis itu menggeleng pelan.


"Cuma sedikit tadi ... biar cepat sembuh, cepat keluar rumah sakit juga. Senin aku harus balik." Arman mencoba memaksa, karena Lia memang makannya sedikit. Kalau makan cuma sedikit, bisa-bisa lama pula pulihnya.


Sedangkan Lia, saat tahu Arman harus balik. Ia pun memikirkan sesuatu. Seketika wajah Lia langsung layu. Apa dia sedih karena Arman harus kembali? Entahlah, Lia belum merasakan sepenuhnya getar-getar cinta. Akan tetapi, dia juga berharap perhatian dari orang lain. Ya, Lia memang sangat kesepian kala itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku hari senin belum keluar dari sini?" gumam Lia kemudian menatap jendela dari dalam.


Arman menghela napas panjang.


"Lalu? Kamu mau aku perpanjang cuti? Gak bisa Lia. Aku bukan pengusaha yang bisa libur kapan saja."


"Kenapa tidak jadi pengusaha saja? Kata ibu, keluarga Mas juga punya usaha sampingan. Punya pabrik kain batik, bahkan sampai eksport," celetuk Lia. Dia sekarang kelihatan santai saat bicara. Lama-lama terbiasa dengan kehadiran Arman.


Mendengar celotehan Lia, Arman hanya tersenyum.


"Gak tahu juga, orang tuaku suka kalau anaknya jadi PNS. Ngabdi sama negara," jawab Arman klise.


Ganti Lia yang tersenyum.


"Padahal ngabisin waktu, jamnya juga monoton. Nanti kalau nikah sama Lia, kita bikin usaha saja ya?" celoteh Lia dengan iseng.


Arman langsung menoleh, dia menatap Lia dengan heran. Ini seperti sisi lain Lia yang belum dia ketahui, ternyata anaknya asik diajak ngobrol. Gak pelit bicara, dan celetukan Lia kadang bikin Arman tertegun.


Tuh kan, tidak kenal maka tak sayang. Lia yang selama ini terkesan tertutup, lambat laun mulai murah senyum. Apalagi senyum Lia bagai candu, karena saking pelitnya dia senyum.


"Apa saja," jawab Lia.


Arman pun manggut-manggut.


"Jadi nanti bagaimana?"


"Apanya?" tanya Lia.


"Kalau kita nikah, gak mungkin kan kamu tinggal di sini dan aku di sana?"


Lia menelan ludah.


"Oh itu."


"Tidak apa-apa kan? Kamu lepasin pekerjaan di sini?" tanya Arman penuh harap. Karena sudah pasti dia tidak akan ke Kalimantan. Kalau bisa, setelah menikah, Lia harus ikut bersamanya.


Saat ini Lia kelihatan berpikir, padahal semalam kelihatan setuju, tapi paginya mulai kendur. Mulai memikirkan langkah kedepannya. Karena apa yang dikatakan Arman benar. Masa sudah nikah mereka tinggal terpisah, kan gak lucu.

__ADS_1


"Itu ... emmm." Lia menjawab penuh keraguan. Karena masa depannya pun masih buram. Ada sejuta tanya, apa dia memilih orang yang tepat? Apa kali ini tidak salah? apa tidak akan gagal lagi seperti sebelumnya?


Keraguan selalu ada, karena Lia pernah gagal sekali. Mencintai terlalu dalam, hingga membuatnya terluka seorang diri. Ketika mantan bahagia pun, dia masih terpuruk pada luka lama, sungguh tidak adil bukan. Makanya Lia takut mengambil keputusan, dia masih ada sedikit trauma.


Sementara itu, melihat Lia kembali meragu, Arman yang tadinya wajahnya biasa saja, kini berubah serius.


"Jangan menatap begitu, Mas. Semalam aku itu kalut, galau, jadi omongannya agak gimana gitu."


Lia memalingkan muka, menghindar dari tatapan Arman yang tertuju padanya.


"Jadi?" Dahi Arman mulai mengkerut. Menunggu jawaban dari gadis di depannya itu.


"Lia bicarakan sama ibu dulu," jawab Lia gak enak.


Arman menghela napas panjang, setelah itu Arman mengangguk paham. Kalau bilang sama Bu Damri, jelas dia pasti dapat lampu hijau.


***


Dua hari menunggu di rumah sakit, akhirnya Arman harus kembali. Apalagi kondisi Lia sudah membaik.


"Aku pulang dulu, kamu baik-baik di sini. Jangan lupa minum obatnya."


Lia mengangguk.


"Ya, Mas Arman juga hati-hati. Dan terima kasih sudah sempatin ke sini."


"Hemm. Ya sudah, ntar ketinggalan pesawat. Aku balik dulu."


"Iya."


Arman kemudian memakai ranselnya, kemudian siap untuk kembali, karena ada tugas yang harus ia laksanakan. Ketika sudah sampai pintu, laki-laki itu kemudian berbalik.


"Cepat sembuh!" bisik Arman yang langsung menempel bibirnya di dahi Lia.


Lia yang kaget, sampai tubuhnya tidak bergerak. Berani sekali Arman melakukan hal tersebut? Arman membuat Lia terhenyak, sampai tidak bisa berkata-kata.


Ketika kulit mereka bersentuhan, jujur saja, jantung Lia berdegup kencang, seperti ngantor dan lupa belum sarapan.

__ADS_1


__ADS_2