Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Good News


__ADS_3

Pria Pilihan Ibu Bagian 37


Oleh Sept


Lia mencari suaminya, jantungnya berdegup kencang. Apa yang di lihat barusan, membuatnya tidak percaya. Sambil teriak memanggil, ia terus berjalan mencarinya Arman.


"MAS!"


Arman langsung bangun, dia tadi sudah rebahan. Kini memegangi kepalanya, sepertinya baru tidur beberapa detik tapi suara Lia seperti toa masjid.


"Astaghfirullah, sudah malam ... Kamu kenapa, Lia."


Wanita itu menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Lalu mendekat sambil mengusap matanya yang perih.


"Lia ... kenapa? Apa dapat telpon dari ibu? Ibu sakit?" tebak Arman.


Lia menggeleng, kemudian merangkul tubuh Arman yang duduk di tepi ranjang. Kemudian menangis sambil memeluk suaminya itu.


"Lia! Jangan nakutin Mas. Kamu kenapa?"


"Huu ... huuu ..."


Malah tangis Lia pecah seperti anak-anak. Arman pun panik, ia kemudian melepaskan pelukan Lia, kemudian menangkup wajah Lia yang mungil tersebut.


"Ada apa? Katakan!" titah Arman.


Bibir Lia bergetar, mau bicara tapi sulit sekali. Ia malah jadi sesegukan.

__ADS_1


"Jangan bikin Mas panik!"


Lia lalu mengusap pipinya yang basah, kemudian mencoba berbicara pelan-pelan.


"Aku .... aku ... Aku hamil."


Jam seperti berhenti berputar, begitu juga dengan denyut nadi Arman, semuanya seperti berhenti sekian detik.


"Hamil?" tanya Arman kemudian yang sudah mendapatkan kesadaran lagi.


Lia mengangguk, lalu bibirnya kembali bergetar menahan tangis. Sedangkan Arman, wajahnya pucat. Bagai tersambar petir. Dokter sudah bilang dia sulit punya anak, bahkan kemudian sangat tipis. Dia juga pernah di vonis mandul. Lalu apa ini?


Melihat rekan jejak Lia, jelas itu pasti anaknya. Karena Arman tahu, bagaimana mereka sekarang saling menjaga hati dan menjaga diri. Tapi, kenyataan Lia hamil, masih belum bisa ia percaya.


"Benar kamu hamil?"


Lia mengangguk lagi, biar suaminya percaya.


"Lia hamil anak Mas Arman ... Kuasa Allah, sekarang Lia dipercaya mengandung buah cinta kita," kata Lia sambil menyusut hidung karena masih setengah menangis.


Arman ini speechless, sampai tidak bisa berkata-kata. Jujur, ini sesuatu yang sangat bagus dan sangat mengejutkan juga.


"Mas gak mau meluk Lia?" tanya Lia yang melihat suaminya kayak ling lung sesaat.


"Maaf, Lia ... hanya saja Mas masih belum percaya. Bagi Mas ... ini kayak mimpi."


Lia menggeleng keras.

__ADS_1


"Nggak, ini bukan mimpi. Lia hamil. Lia hamil anak Mas Arman."


Arman mengambil napas, melihat sekeliling, takut dia sedang ngigau atau mimpi. Sampai Lia memegang kedua pipinya, dan keduanya saling menatap.


"Ini nyata ... kita akan punya baby ... Lia bisa hamil, Mas gak mandulll," ucap Lia terbata sambil menatap dalam-dalam mata suaminya. Lia bisa melihat, kilauan mata yang mulai mengembun itu.


Arman menahan napas, juga menahan tetesan bening yang akan jatuh. Takdir hidup yang penuh perjuangan, akhirnya membuahkan hasil yang kini dikandung Lia.


Perlahan, Arman mulai merengkuh pinggang Lia yang berdiri di depannya. Memiliki tak percaya. Bahwa dia bisa menjadi laki-laki sempurna untuk sang istri. Bahkan benihnya bisa tumbuh dalam rahim Lia yang selama ini tidak mungkin.


Dua insan itu saling memeluk penuh rasa haru, sejuta syukur. Karena sang pemilik hidup, telah menitipkan benih kehidupan di dalam kandungan Lia.


"Terima kasih, Lia ... terima kasih selama ini sudah mau berjuang," bisik Arman. Baru kali ini Lia mendengar suara suaminya yang serak karena menangis.


Lia mengusap punggung bidang itu, lelakinya yang kuat sedang menangis haru.


***


Setelah seremonial yang penuh drama itu, kini Lia berbaring di pangkuan Arman. Mereka berdua belum bisa tidur. Mungkin karena masih shock dan tidak percaya.


Sambil mengusap pipi Lia, Arman memperhatikan perut Lia.


"Kemarin malam, pas malam Jum'at. Mas pikir kamu masih angin dan kembung," ucap Arman tiba-tiba.


Lia kemudian memegangi perutnya, memang sedikit buncit. Dan dia tersenyum manis, membuat Arman langsung menunduk kepalanya.


Klik

__ADS_1


Tangan Arman mematikan lampu tidur.


__ADS_2