
Pria Pilihan Ibu BAB 27
Oleh Sept
Akhirnya Arman mendapatkan apa yang harus dia dapatkan malam itu. Pengantin baru kok absen, rugi besar. Tidak peduli tadi moodnya hancur, karena jiwanya sudah meronta-ronta tidak bisa ditahan lama-lama, akhirnya Arman pun menepis rasa kesalnya tadi.
Pria itu harus melepaskan apa yang ingin dilepaskan. Tidak mau basa-basi, langsung saja ia menyerang Lia. Walau sempat terkejut, Lia tetap memberikan apa yang Arman inginkan.
AC tetap menyala, tapi udara semakin terasa panas. Dua manusia sama-sama kegerahan. Bertukar keringat karena olahraga malam-malam.
"Sayang ..."
Suara Arman tertahan di kerongkongan. Wajahnya mengeras, seperti menahan sesuatu.
Sedangkan Lia, ia memejamkan matanya. Sakit tapi enak. Perih serta panas, mungkin karena masih pengantin baru, masih sesak karena belum terbiasa.
'Panas banget, ini Mas Arman kok gak keluar-keluar,' batin Lia dalam hati yang merasa panas di bawah sana.
Arman masih maju mundur cantik, meskipun sudah ada tanda-tanda gunung Krakatau akan meletus.
"Sttt ..."
Detik berikutnya, terdengar suara desisan dari bibir lelaki tersebut. Kemudian pria itu memejamkan mata dalam-dalam.
"L ... ia ..." panggil Arman lirih.
__ADS_1
Lia menatap suaminya, kemudian mencengkram punggung Arman saat merasakan sakit akibat ulat tongkat sakti.
BUKKK
Arman melempar tubuhnya setelah berhasil menyemburkan benih-benih kehidupan. Arman yang tadi full power seketika langsung lemas. Begitu juga dengan Lia, dia terkulai lemas di sebelah suaminya.
Dengan manja, Lia tidur di lengan sang suami. Sambil tangannya mengusap lengan Arman yang melingkar di pinggangnya. Lengan kekar dengan otot-otot halus, disertai bulu-bulu lembut yang kadang mengelikan.
Keduanya kemudian mengobrol, tidak langsung tidur. Sambil tiduran, bicara dari hati kehati.
"Gak capek, Mas? Kok sering ngajak Lia begituan?" tanya Lia polos. Karena Arman ini sering sekali minta mantap-mantap terus. Mengalahkan obat yang harus minum 3 kali sehari.
"Itu malah obat capek, Lia. Kalau lagi capek banget, itu obatnya," jawab Arman kemudian mempererat pelukannya. Bibirnya mengulas senyum, ada-ada saja celotehan Lia.
"Itu malah sehatnya," bantah Arman lagi.
"Aku tuh penasaran, apa Mas Arman gak bosen? Udah kaya minum obat, bahkan lebih. Itu kok bisa isi terus yg gimana?"
Lia heran, karena cairan yang sudah dikeluarkan, selalu ada lagi, padahal kadang selisih cuma beberapa jam. Cepet banget On lagi dan isi ulang kembali.
"Ish. Kamu ini mikirnya kejauhan. Ngapain mikir yang nggak-nggak."
Arman tersenyum geli, kemudian mengusap lembut pipi Lia. Sesekali mencubit hidung Lia yang mancung itu.
"Kan cuma penasaran, Mas," ucap Lia kemudian.
__ADS_1
"Sudah lihat semuanya, apa yang membuat penasaran? Udah tahu luar dalam Mas kan?" ledek Arman dengan usil.
Lia pun mendesis, kemudian beranjak. Dia mau ke kamar mandi. Mau membersihkan diri dulu.
"Ke mana?" tanya Arman. Tangannya memegang pergelangan tangan Lia. Sampai wanita itu menoleh.
"Kamar mandi, ikut?" Lia ganti meledek.
Tanpa diduga, laki-laki itu benar-benar ikut. Langsung turun dan mengikuti Lia.
"Astaga, Mas!" pekik Lia kaget karena Arman langsung membopong tubuh Lia dan melangkah ke arah kamar mandi.
"Mas! Udah turunin!" pekik Lia.
KLEK
Begitu pintu dibuka, Arman kemudian menurunkan Lia di dalam bathtub. Kemudian berbalik dan mengunci pintunya.
"Loh ..."
"Masih ada isinya ini ... sekali-kali buat di bathtub," bisik Arman sambil jongkok.
Bersambung
Maklum, pengantin baru. Emang kadang-kadang!
__ADS_1