Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Inikah Rasanya


__ADS_3

Telat Nikah BAB 14


Oleh Sept


Lia posisinya memang masih mengantuk, kalau langsung nyetir menuju rumahnya bakalan kenapa-kenapa. Akhirnya ia mampir ke hotel Arman. Sebentar saja, niatnya cuma minum apa saja yang anget-anget, karena di luar hujan.


Arman ini baik banget, dia rela jemput Lia ke Kalimantan. Nyusul ke sana cuma bantu kemana-kemas. Makanya nginep hotel semalam. Besok mereka akan balik bersama. Itu sih rencana Lia dan Arman.


Kini, keduanya sudah masuk hotel. Belum apa-apa Lia kok merasa gak enak.


"Kita minum sana saja ya?"


"Iya, tapi aku masukin tas dulu ke kamar. Lantai 3 saja kok. Kamu tunggu di sini," kata Arman.


Lia pun menunggu di lobby, tidak lama kemudian, Arman kembali.


"Cari kopi si sana ya?" Arman menunjuk kafe depan hotel.


"Boleh."


"Mobil parkir sana aja. Kita nyabrang."


"Iya."


Keduanya pun keluar hotel lalu melintasi jalan yang panjangnya kurang dari tujuh meter tersebut. Sebuah jembatan penghubung, jadi mereka gak akan basah karena kehujanan.


Setelah memesan kopi, mereka pun bicara panjang lebar. Sampai tidak terasa kopinya malah sudah habis.


"Aku pulang ya, Mas. Ujan juga udah reda."


"Hem. Sudah gak ngantuk kan?"


Lia menggeleng. "Gak, sudah fresh."


"Syukurlah. Hati-hati ya."


"Iya."


Arman pun mengantar sampai mobil, kemudian melambaikan tangan ketika mobil itu melaju meninggalkan hotel.


***


Jarak hotel dan rumah lumayan, tapi Lia gak mungkin meminta Arman menginap. Mereka belum resmi. Bahkan rencana pernikahan pun masih dirahasiakan. Satu lagi, Lia tidak mau pakai acara lamaran. Kalau mau, mereka harus nikah langsung. Ya, karena trauma gagal dulu, padahal sudah tunangan.


Sampai detik ini semuanya lancar jaya. Bahkan acara pengunduran diri pun berjalan mudah, tinggal pas mendekati acara yang mungkin akan diadakan dalam dekat ini. Karena keduanya memang sudah matang, secara umur dan finansial.


Untuk sementara, mungkin Lia akan mengontrakan rumahnya yang di sini. Dia akan pulang ke tanah Jawa. Karena Arman sudah bilang, jika nikah, dia gak mau LDR. Nikah itu biar ada yang urusin, kalau LDR apa bedanya sama bujang.


Bagi Lia sih tidak masalah, karena dia juga ingin mencoba sesuatu yang baru. Berpetualang di dunia pernikahan.


***


Begitu tiba di rumah, Lia langsung tidur. Karena ngantuk, sampai tidak menelpon Arman. Padahal pria itu khawatir, Lia sampai dengan selamat atau tidak. Sudah di telpon malah di matikan ponselnya. Sebenarnya tidak dimatikan, tapi memang batre nya abis.


Pagi yang cerah, Lia telat bagun dan kaget saat melihat jam. Buru-buru ia melihat jam di ponselnya yang mati.


"Astaga."


Lia pun mengisi daya batrenya.


Lima menit kemudian banyak sekali miscall dan dia ganya tersenyum tipis.


Lia kemudian menelpon Arman.

__ADS_1


"Astaga Lia, kamu di mana?"


"Hehe ... ketiduran, Mas. Semalam capek banget, terus tidur. Kan habis minum obat flu lagi."


"Bikin panik saja."


"Hehhe. Maaf ya."


"Hemm. Ini aku sedang otw, naik taksi. Bentar lagi nyampek."


"Ke rumah?" tanya Lia panik. Masalahnya dia belum mandi, belum gosok gigi.


"Iya. Ini kayaknya mau sampai juga."


"Mas, udah ya. Lia mandi dulu."


"Hallo ... Lia ... hallo."


Arman geleng-geleng kepala, kemudian tersenyum mengingat aksi Lia tersebut.


***


Lima menit kemudian.


"Makasih, Mas," kata Arman sambil mengulurkan uang ratusan ribu pada driver.


"Kembaliannya, Mas."


"Buat Masnya," kata Arman kemudian.


"Terima kasih banyak."


Arman hanya mengangguk kemudian masuk ke sebuah pagar rumah yang tidak dikunci.


Lama sekali Arman menuggu, sampai ia mengetuk pintu.


"Lia."


Yang dipanggil buru-buru ganti baju, sampai hampir kaosnya terbalik.


KLEK


Pintu terbuka dan Lia muncul dengan handuk yang melilit di kepalanya. Rambutnya lepek, agak kena hujan kemarin, jadinya keramas saja.


"Baru mandi?"


"Iya, kan baru bangun."


"Perempuan kok jam segini baru bangun?" tanya Arman tapi dengan nada bercanda, karena dia tahu, biasanya Lia bangun pagi-pagi karena harus kerja.


"Lia gak masak, Mas. Kita sarapan di luar saja ya? Barang-barang Lia semuanya sudah dipacking juga. Tinggal kirim."


"Sarapan di Bandara saja ya?"


"Kan pesawatnya siang?"


"Jalan-jalan dulu."


Lia pun mengangguk. Ia lalu pamit siap-siap sebenar.


Selang beberapa saat.


"Lia, boleh numpang kamar mandi," tanya Arman dengan teriak. Karena Lia ada di dalam kamar.

__ADS_1


"Iya, kamar mandinya dekat dapur, Mas."


Arman pun numpang ke kamar mandi, setelah itu habis cuci muka, dia pun mengamati rumah Lia. Asik sih rumahnya, bibirnya kemudian tersenyum. Ia melihat Foto konyol Lia dengan teman-temannya di kantor yang dipajang.


Lia ini aslinya ceria sepertinya, tapi dulu pas kenalan, juteknya, cueknya kebangetan. Kalau nggak sakit mungkin tetep jutek sampai akhir. Tapi itulah yang menarik, karena Arman merasa biasanya selalu dikejar, kalau dengan Lia kok berasa tertantang. Karena Lia itu super cuek saat didekati.


KLEK


Lia muncul, cantik, wangi, dan fashionable.


"Sudah, Mas."


Arman menatap dari atas sampai bawah. Cantik sih, ia kemudian menahan napas.


"Aku yang nyetir ya," kata Arman mengalihkan perhatian.


"Iya."


"Terus mobilnya gimana?"


"Nanti temenku yang urus."


"Oh. Yasudah."


Mereka pun naik mobil, dan karena Lia kelihatan cantik pagi ini, mata Arman mulai melirik. Sebenarnya banyak yang cantik-cantik sebelum Lia, entahlah, Lia ini auranya beda. Mungkin karena sejak awal sulit didapatkan. Jual mahal, jadinya Arman tertantang.


Tiba di lampu merah.


Lama sekali lampunya gak hijau, karena suasana jadi hening, Lia pun menyalakan lagu.


Lagunya malah lagu-lagu tentang jatuh cinta, dan itu membuat Arman tersenyum geli.


"Kamu suka lagu-lagu itu?"


"Emm. Baru download sih. Biasanya gak."


"Oh ... lagi jatuh cinta?"


Daripada menjawab, Lia pura-pura main HP.


"Kalau malu-malu begitu, kamu tambah cantik. Jangan cantik-cantik ya ..."


Lia mendesis. Gombal!


"Memang kenapa kalau cantik? Hemm?" ledek Lia.


Arman langsung menyetuh tangannya, membuat Lia tidak berkutik.


"Jangan pegang-pegang, Mas."


Arman tersenyum. Laki-laki itu malah menggenggam tangan Lia, sedangkan tangan satunya masih di kemudi.


"Mas ... fokus nyetir, Mas."


"Iya, cuma pegang saja. Gak macem-macem," jawab Arman kemudian kembali melajukan mobil saat lampu mulai hijau.


Lia menelan ludah, entah sudah berapa abad tangannya kapalan karena tidak pernah lagi digenggam oleh seorang pria.


"Tangan kamu kok dingin, Lia."


Lia langsung menarik tangannya, akan tetapi malah langsung didekatkan di jantung Arman. Terasa deg deg.


"Pegangan gini saja jantungku berdegup kencang," gumam Arman lirih, tapi terdengar jelas di telinga Lia.

__ADS_1


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Natikan kisah manis mereka ya. Konflik tidak berat, karena ini memang santai hehehe.


__ADS_2