Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Khawatir


__ADS_3

Telat Nikah BAB 8


Oleh Sept


Pagi-pagi Bu Darmi sudah terlihat sumringah, bagaimana tidak ada calon mantu yang baru saja datang. Sebenarnya bukan calon mantu, karena sampai sekarang hubungan Arman dan Lia juga masih belum ada kejelasan.


"Aduh, Bu. Gak usah repot-repot." Arman kelihatan sungkan, padahal sih tidak. Dia selalu nyaman di sana. Rumah Bu Damri ini tenang, sunyi, adem, pokoknya enak kalau ditinggali, terasa nyaman.


"Cuma kopi," kata Bu Damri.


Selang sesaat, Lia keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu memakai celana jeans, kemeja biru langit dan tas ransel warna coklat kulit.


"Sudah siap, Lia?" tanya Arman setelah menyesap kopinya.


Lia mengangguk, kemudian menarik koper kecil warna silver. Tidak banyak barang yang dia bawa, cuma beberapa pakaian saja. Karena kepulangan kali ini juga cuma sebentar.


"Ya sudah, ayo berangkat!" ajak Arman.


Bu Damri tidak ikut mengantar, tadinya mau mengantar tapi badannya capek, mungkin karena acara kemarin habis ada acara, akhirnya Lia diantar cuma sama Arman, karena Asih juga harus kuliah.


"Maaf ya, Ibu gak bisa ngantar," kata Bu Damri sambil menatap Lia dan Arman.


"Gak apa-apa, Bu," kata Lia paham. Lia lalu memeluk ibunya, mengecup pipi dan tangan ibunya tersebut. Dia harus pisah lagi karena alasan pekerjaan.


"Lia berangkat, Bu." Lia kelihatan berat.


"Iya, hati-hati."


"Bu, saya pamit dulu," pamit Arman sopan pada Bu Damri. Dia mengangguk sopan, kalau sudah begini, bagaimana dia tidak suka sosok Arman.


"Iya, titip Lia ya."


Seketika Lia langsung melirik ibunya, kok pakai acara titip segala. Bukan pacar, bukan suami, bukan apa-apa juga kok titip segala.


***


Takut ketinggalan jadwal pesawat akhirnya pagi-pagi itu mereka berdua berangkat ke bandara. Tiba di bandara, mereka santai sejenak sambil menunggu karena ternyata masih ada sisa waktu.


"Terima kasih sudah mau mengantar," kata Lia basa-basi.


Arman hanya mengangguk kemudian tersenyum ramah seperti biasanya. Padahal kemarin sempat jutek pada Lia. Setelah basa-basi sejenak, Lia pun akhirnya bersiap-siap karena sudah akan terbang. Sebelum pergi Arman bertanya sesuatu.


"Lia ..." panggil Arman ragu-ragu.


"Ya." Lia menatap pria di depannya.

__ADS_1


"Ibuku meminta aku bisa menikah tahun ini," kata Arman tiba-tiba. Tidak ada angin tidak ada hujan, kok Arman mengatakan hal tersebut. Apa artinya ini? Lia memicingkan mata, lalu apa hubungannya dengannya? Sungguh Arman mengajak teka teki silang.


"So?" kata Lia selanjutnya.


"Aku beri kamu kesempatan untuk perjodohan ini, satu bulan. Kalau sampai bulan depan kita masih seperti ini ... mungkin aku tidak akan mengganggumu lagi," jelas Arman tenang tapi cukup membuat efek terkejut bagi lawan bicaranya.


Loh? Ini Lia diancam gitu? Lia sampai speechless.


"Maksud Mas Arman?" tanya Lia sekali lagi, karena dia masih belum nyambung. Secara garis besar Lia paham, cuma dia mau Arman bicara lebih jelas.


"Ini lanjut apa tidak, sebab aku memang serius cari istri." Arman memasang muka serius, dia yang selalu ramah, seketika berubah sangat serius.


Glodak ...


Lia semakin ambyarr. Mana sebentar lagi pesawat mau terbang. Dia paling tidak bisa berpikir kalau posisi terjepit. Harus dipikirkan dengan kepala dingin, bukan grasa grusu seperti sekarang ini. Arman benar-benar bikin kepala Lia seketika pusing.


"Kita kan belum saling kenal, belum lama juga kenal nya," jawab Lia kemudian. Lia mencari alasan yang logis biar tidak kelihatan mengada ada.


"Setelah menikah kan akan saling mengenal," kata Arman enteng. Dan ekpresi wajahnya masih serius.


Sampai Lia bingung mencari sangahan yang pas. Dia tidak mau membeli kucing dalam karung, tapi sosok Arman ini udah kelihatan jelas pria baik, keluarganya pun baik. Lia galau, apa dicoba saja? Tapi jangan. Hanya karena desakan orang-orang, masa dia harus menikah bukan karena cinta?


Lia mau jatuh cinta dulu lalu nikah, astaga kepalanya benar-benar pusing.


"Kamu pikir saya menikah untuk cerai?" celetuk Arman yang mulai kesal. Log-loh, Arman mulai kelihatan emosinya.


"Bukan seperti itu," sela Lia. Sepertinya mereka akan ribut kembali.


"Ya sudah, masuklah ke sana. Kita lihat sebulan lagi. Ada perubahan atau tidak, sebab aku serius kalau masalah hubungan antara pria dan wanita. Bukan anak muda yang isinya bucin cinta-cintaan dan sayang-sayangan," ujar Arman.


"Astaga orang ini," gumam Lia dalam hati.


"Hemm. Aku berangkat dulu." Lia pun pamit, karena dia memang harus masuk, kalau tidak akan ketinggalan pesawat.


Arman pun mengangguk, kemudian menatap punggung Lia yang semakin menjauh. Sementara itu, Lia sedang komat-kamit. Ia merutuk, ngedumel kesal sendiri. Nyuruh nikah seperti nyuruh beli sayur di pasar.


***


Kalimantan


Apes bagi Lia, beberapa hari usai pulang kampung, dia malah kena types. Dan dia harus dibawa ke rumah sakit. Tinggal sendiri, ia pun berangkat sendiri, beruntung ada tetangga yang melihatnya pucat keluar dari rumah, sampai akhirnya di antar ke rumah sakit.


Tanpa keluarga, tanpa teman dan tanpa pasangan. Yang mengurus administrasi pun Lia sendiri. Sampai malam harinya, dia menatap langit-langit kamar rumah sakit, sambil tersenyum miris.


Sengaja tidak mengatakan pada sang ibu, takut ibunya khawatir. Biarlah dirawat, paling tiga hari keluar. Dan malam itu, Arman kebetulan video call. Laki-laki itu kaget melihat Lia pakai baju rumah sakit.

__ADS_1


"Lia, kamu di mana?"


Lia yang memang galau, di perantauan tanpa seorangpun pun, kondisi sakit pula, hanya bisa tersenyum palsu di depan layar.


"Lagi sakit," jawab Lia singkat.


"Terus di rumah sakit sama siapa?"


Lia diam lama.


"Siapa yang jaga sekarang?" Dari suaranya sih kelihatan khawatir.


"Gak ada," jawab Lia kemudian tidak menatap layar ponselnya.


"Lia ..." panggil pria tersebut.


"Hemm."


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arman khawatir.


Lia kemudian mengangkat wajahnya, sampai kelihatan di kamera.


"Hemm. Aku oke!" ucapnya pura-pura tersenyum.


Arman menghela napas dalam-dalam.


"Di rumah sakit mana?" tanya laki-laki tersebut. Wajahnya masih tampak khawatir. Karena dia tahu kalau Lia seorang diri di perantauan.


"Rumah Sakit Medika," jawab Lia.


"Baik, terus kata dokter sakit apa?"


Arman sudah mirip wartawan, yang banyak bertanya ini dan itu.


"Tipes."


"Hanya itu?"


Lia tersenyum tipis.


"Mag," jawab Lia kemudian.


Lagi-lagi Arman menghela napas panjang. Arman melihat kelender, besok hari sabtu. Dan dia sudah memikirkan sesuatu.


Btw, apa yang ada dalam kepala Arman?

__ADS_1


__ADS_2