
Pria pilihan Ibu BAB 20
Oleh Sept
Arman masih single, belum pernah menikah sebelumnya. Dan dia juga belum pernah celap-celup dengan wanita manapun. Meskipun sebelumnya dia juga punya seseorang kekasih. Bagi Arman, dia memegang sebuah prinsip. Akan memberikan keperjakaannya nanti pada gadis yang akan dia nikahi.
Kini sudah waktunya, saat-saat yang dinanti akhirnya datang juga. Tidak mau drama, Arman maunya langsung gas. Ini semua berjalan murni karena nalurinya sebagai pria normal. Sudah halal, saatnya dia praktek langsung dengan Lia.
Arman pun mulai menuntun Lia untuk bersama sama mengarungi lautan asama yang menggelora di malam pertama mereka.
Hanya sedikit rasa canggung, dan Arman langsung menepisnya. Kalau malu-malu malah tidak kebagian.
Tanpa ba bi bu, Arman sudah siap bertempur. Sudah menanggalkan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Sudah ready untuk main jungkat-jungkit bersama istri barunya.
Sementara itu, Lia kelihatan sangat canggung. Dia bahkan sangat malu saat menatap wajah suaminya yang tampan dan gagah perkasa tersebut.
Lia banyak mengalihkan pandangan, karena tidak bisa eye contact lama-lama. Apalagi saat ini situasinya sangat memalukan. Seumur-umur Lia tidak pernah malu seperti ini.
Arman ini sungguh berani, tanpa permisi melepaskan apa yang melekat padanya. Padahal Lia belum siap, tapi Arman sepertinya sangat memaksa. Bukannya menolak, hanya saja Lia malu sekali.
"Lia," panggil Arman.
Lia menatap sejenak, lalu menundukkan wajahnya.
Arman kemudian menyentuh pipi istrinya itu, sudah merona seperti tomat.
"Kenapa wajahmu hangat sekali?"
Lia menelan ludah. Wajahnya panas dingin karena Arman ada di atasnya. Bagaimana dia tidak panik dan gelisah.
"Emm ..."
"Jangan malu ya ... kan kita sudah menikah," bisik Arman tepat di telinga Lia.
Gila, Arman ternyata mulai pro. Pria itu mulai meniup-niup telinga Lia. Kemudian menggigit kecil daun telinganya.
Lia merasa geli, dan matanya menutup seketika saat Arman turun ke bawah. Semakin bawah dan berhenti di ceruk lehernya.
Tangan Lia pun mencengkram punggung suaminya, karena Arman malah menyesal leher dan menciptakan banyak jejak di sana. Seperti stempel tanda kepemilikan.
"Kamu wangi sekali," kata Arman lalu langsung menempelkan bibirnya.
Lia kaget sesaat, kemudian mulai menikmati permainan yang dipimpin oleh suaminya itu.
Sampai akhirnya, Arman tidak tahan. Sebab di bawah sana ada makhluk yang mulai meronta-ronta. Minta keluar dan minta disalurkan.
Mungkin terlalu buru-buru mengarahkan bendanya, hingga tidak bisa masuk.
"Lia ... susah sekali," ucap Arman lirih. Dia bingung, saat mencoba masuk ke gua tapi tidak bisa-bisa.
Lia yang malu campur gelisah, hanya mengigit bibir bawahnya. Dia juga nggak ahli masalah beginian. Masalah susah atau mudah, Lia benar-benar tidak paham.
__ADS_1
Sementara itu, Arman berusaha dengan keras. Lia ini masih perawan, dan memang dia tidak ragu akan hal tersebut.
Sekarang, dia yang gelisah. Mau menembus masuk saja begitu kesulitan, beberapa kali tongkat tersebut terpeleset, tidak bisa masuk ke tempat semestinya.
"Mungkin kamu kurang basah, Lia," ucap Arman kemudian mulai mengatur strategi agar dia bisa membobol gawang lawan.
"Mas!" pekik Lia kaget.
"Biar bisa masuk, Lia."
Lia menggeleng, memegangi kepala pria tersebut.
"Gak, Mas. Jangan!"
"Gak apa-apa."
Lia tetap menggeleng, tapi saat Arman mulai beraksi, dia dibuat menggeliat seperti cacing kesiram cuka.
"Cukup, Mas. Lia gak kuat."
"Tahan, biar licin."
Tangan Lia mencengkram erat kain sprai, kemudian matanya terpejam begitu merasa sesuatu menusuk masuk ke dalam tubuhnya.
Arman sedikit lega, walaupun agak tegang. Setidaknya sudah berhasil masuk, walau belum sepenuhnya.
"Tahan ya. Katanya pertama emang sakit. Tapi nanti lama-lama gak."
"Ish ..."
"Tahan sayang ..."
Pria tersebut kemudian mulai maju mundur secara perlahan. Pelan-pelan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lawan mainnya.
"Sakit?" tanya Arman penuh pengertian.
Lia pun mengangguk, karena rasanya memang sakit betulan. Perih dan panas, dia pun hanya bisa menggigit bibir saja.
"Sebentar lagi ya ... tahan," bisik Arman kemudian mempercepat gerakan.
Jelas Lia langsung meringis kesakitan, karena Arman langsung menambah kecepatan.
Detik berikutnya suasana menjadi hening seketika, kemudian diikuti suara desisan yang memenuhi ruangan.
BUKKK ...
Akhirnya Arman tahu juga rasanya, dan begitu dapat, malah dapat yang orisinil. Merasa beruntung, Arman kemudian menarik Lia dalam pelukan.
"Udah ... di sana saja, perih ini Mas!" Lia merajuk.
Sedangkan Arman malah tersenyum penuh kepuasan.
__ADS_1
"Nanti dikompres air hangat," ucap Arman.
Lia langsung mencubit pinggang laki-laki tersebut. Dan keduanya pun saling berpelukan. Lalu sama-sama bersembunyi di bawah selimut.
***
Dengkuran halus terdengar dari wanita di sebelahnya, Arman menatap tulus pada wanita yang kini menjadikan dia laki-laki sempurna.
"Lia ..."
Dia mencoba membangunkan istrinya itu, padahal hari masih sangat gelap. Baru jam 3 pagi.
"Lia," panggil Arman sambil mengusap pipi Lia dengan lembut.
Lia mergerjap. Kemudian menatap suaminya yang sudah terjaga.
"Sudah pagi, Mas?"
"Belum, masih jam 3."
Lia mengosok matanya. Lalu memeluk guling karena masih ngantuk. Akan tetapi, Arman langsung meraih guling itu. Meletakkan di belakang tubuhnya.
"Bangun yuk," pinta Arman.
Masih dengan mata tertutup, Lia pun menjawab ajakan suaminya itu.
"Masih gelap, Mas. Lagian ngantuk. Badan Lia capek banget."
"Terus ... bagaimana nasib junior?"
"Junior siapa? Ngomong apa sih, Mas?" tanya Lia masih setengah ngantuk dan mata terpejam.
"Ini ... Junior aku," kata Arman tanpa malu-malu.
Lia yang ngantuk parah, seperti belum bisa mencerna ucapan sang suami. Kode yang Arman katakan tidak masuk dalam pikiran Lia yang masih oleng.
"Lia ..."
"Hemm!"
"Ayo."
"Ayo apa sih, Mas. Ya ampun ... Lia ngantuk," ucap Lia.
"Iya, nanti tidur seharian gak apa-apa. Tapi urus dulu juniornya!" kata Arman sedikit memaksa.
"Junior apa sih Mas?" Lia langsung membuka matanya.
Sedangkan Arman, dia menatap Lia seperti mau memangsa istrinya itu.
Lia sampai bengong, suaminya sudah ready!
__ADS_1