
Wanita Pilihan Ibu Bagian 33
Oleh Sept
Beberapa bulan sudah berlalu, Lia dan Arman sudah menjalani rumah tangga yang mungkin baru seumur jagung.
Belum genap setahun, tepatnya bulan ke 11 mereka menikah. Bertepatan dengan momen lebaran. Arman membawa Lia ke kampung halamannya. Setelah lebaran pertama sampai ke dua, mereka ada di kediaman Bu Damri.
"Nanti jangan lama-lama ya, Mas."
Belum juga tiba di rumah keluarga besar Arman, Lia sudah memberikan lampu kuning.
Bukan karena Lia tidak suka keluarga besar Arman, bukan karena itu. Karena sampai sekarang, mereka semua baik pada Lia. Hanya saja, Lia mulai bosan saat ditanya momongan.
"Kenapa sih? Apa ada masalah?"
"Gak," jawab Lia yang kemudian menatap jalanan.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga besar Arman. Di mana sanak saudara Arman banyak yang masih berkumpul, dan itu membuat Lia tidak nyaman. Semakin banyak orang, maka semakin banyak pertanyaan yang harus dia jawab.
"Kalau mereka tanya tentang anak, udah cuekin saja. Lagian baru tahun pertama," kata Arman sambil menyetir. Dia seolah tahu apa yang dipikirkan oleh sang istri.
"Ya sudah, kalau begitu satu atau dua hari saja."
"Ya ampun, Lia. Kan ada banyak saudara. Gak enak kalau cuma sehari dua hari," balas Arman.
__ADS_1
Lia langsung gusar, mungkin juga efek lagi datang bulan, jadi moodnya tidak bagus saat itu.
Arman sendiri hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Bagaimana ya? Mereka sudah mencoba membuat anak, tapi memang belum dikasih. Lagian anak itu hak Tuhan sepenuhnya, mau jungkir balik gayanya bikin anak, kalau yang di atas belum memberikan, ya pasti tidak bisa.
Padahal sudah periksa ke dokter. Mereka subur dua-duanya. Atau mungkin karena Lia telat nikah, jadinya kurang subur.
Lia kadang putus asa, sering melamun. Apalagi kalau melihat sosial media, di mana teman-teman yang baru nikah sudah posting kehamilan. Kadang Lia tidak tahu, barangkali mereka nyicil duluan.
***
Chittt ...
Mobil warna putih itu berhenti di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.
Mereka semua sayang Lia, karena kalau ketemu pasti diajak ke indoapril lalu dibelikan coklat yang banyak.
"Tante Lia capek, sini sayang!" kata bibi-bibi Lia dari pihak Arman.
"Gak apa-apa, Lia seneng kok."
Arman kemudian membuka bagasi mobilnya, dibantu yang lain mengeluarkan koper serta oleh-oleh.
Baru juga duduk, eh ada sepupu Arman yang nyeletuk.
"Sudah cocok, bikin atuh Kak Lia. Jangan cuma berdua ... pacaran terus," ucapnya. Mungkin niatnya cuma bercanda, tapi Lia kelihatan tak nyaman. Walaupun bibirnya mencoba tersenyum.
__ADS_1
Dari belakang, sambil narik koper, Arman langsung menjawab. "Begini dulu juga enak, quality time. Bisa pacaran sampai puas. Kalau masalah bikin, gak pernah absen malahan."
Jawaban Arman langsung mendapat tatapan tajam dari Lia. Sedangkan yang lain terkekeh. Arman memang begitu, suka bercanda.
Suasana mulai mencair, dan Lia juga mulai terhibur dengan para bocil yang mengitari dirinya. Lia ke kamar pun disusul. Ke kamar mandi pun ditunggu di depan pintu. Mana para bocil lucu-lucu sekali, sungguh Lia menginginkan mereka. Berharap sang pencipta memberikan satu di rahimnya.
***
Menjelang malam.
Para bocil tidak mau keluar dari kamar Arman dan Lia, sampai ibu-ibu mereka menjemput dengan paksa.
"Tante Lia capek Sayang, biar istirahat. Besok main lagi ya."
Akhirnya anak-anak kecil yang rame seperti pasar malem itu pun masuk ke kamar masing-masing.
Lia yang memang capek, malam itu merebahkan tubuhnya, sampai ketiduran. Bangun-bangun jam 11 malam dan Arman gak ada di kamar.
Lia pun keluar kamar, baru beberapa langkah terdengar suara orang bicara pelan-pelan. Lia menguping, dan langsung mengusap pipinya. Setelah itu masuk kamar dan menangis lalu bersambung.
Ig Sept_September2020
Fb Sept September
Jangan lupa jempolnya digoyang. Hehehe
__ADS_1