
Telat Nikah BAB 12
Oleh Sept
"Kamu angkat saja telponnya, aku bisa menunggu," ucap wanita yang cantik jelita tersebut. Ia mencoba tersenyum, meskipun matanya terlihat sendu. Sepertinya hanis nangis, atau jangan-jangan memang sakit mata.
"Tidak, nanti aku bisa menelponnya lagi," kata Arman kemudian meletakkan ponselnya ke dalam laci. Arman lalu fokus pada lawan bicaranya itu.
"Ada apa kamu ke sini?"
"Maaf, menganggu waktunya." jawab wanita itu kemudian.
"Tidak apa-apa. Katakan saja, ada apa?" Arman yang selalu ramah pada orang lain, kali ini terkesan dingin, tegas dan tidak mau banyak basa-basi.
Ada masa lalu antara mereka, sepertinya sebuah masa lalu yang tidak baik-baik saja. Wanita bernama Yasmin, dan merupakan dokter umum tersebut menghela napas berat. Kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Kamu masih marah padaku?" tanya Yasmin tiba-tiba.
"Marah? Untuk apa?" balas Arman. Wajah Arman tetap datar, walau kelihatan dari sorot matanya memang dia agak marah.
Yasmin pun menundukkan wajahnya. Berharap mendapa simpati dari pria itu.
"Aku salah, karena tidak mendengarkan apa katamu. Dan ... kami sudah berakhir," kata Yasmin penuh penyesalan. Dan sepertinya semua sudah terlambat.
Dahi Arman langsung mengkerut, Yasmin salah jika datang padanya. Sepertinya Yasmin pikir dia akan menerima lagi mantannya itu? Mantan tetaplah mantan, kalau sudah putus, jamgan pernah dibahas.
Sebagai laki-laki dewasa yang punya pemikiran ke depan, Arman langsung berterus terang.
"Yas ... kalau bicara tentang masalah pekerjaan, profesionalisme, oke ... ayo. Tapi kalau bicara masalah pribadi. Aku rasa tidak tepat kita membahas ini di sini."
Arman kemudian menatap dengan wajah serius nya.
Yasmin menelan ludah. Sepertinya Arman sendiri berubah, padahal Arman ini gampang iba orangnya. Ini matanya sembab malah Arman tidak banyak bertanya.
Sejauh sepengetahuan Yasmin selama ini, Arman ini sosok pengertian, laki-laki penuh tanggung jawab dan humble. Namum, sekarang kok terkesan menjaga jarak padanya.
"Oke, nanti pulang kerja ... boleh aku ke rumah?" tanya Yasmin yang tidak mau menyerah.
Mata Arman mau keluar dari tempatnya. Yasmin ini memang tidak kenal basa-basi. Melakukan apa yang dia mau. Wanita mandiri dan penuh percaya diri. Sayang, kisah mereka kandas karena Yasmin tergoda dengan laki-laki lain.
__ADS_1
"Maaf, Yas. Sepertinya tidak etis kamu bertamu di rumah malam-malam."
"Kenapa? Apa kamu masih marah? Ayolah, Man ... manusiawi sekali kalau orang melakukan kesalahan."
Mendengar kata-kata Yasmin, Arman kok merasa mual. Ia pun hanya berdehem.
"Ehem!"
***
Di tempat lain.
Lia kesal karena telponnya diacuhkan. Ia pun mengirim pesan WA.
[Lagi sama siapa? Kenapa telponnya diputus?]
Ponsel Arman bergetar, sambil menunggu Yasmin bicara omong kosong, Arman mengambil ponselnya, lalu membaca pesan Lia.
Arman menghela napas dalam-dalam, kemudian menelpon Lia tepat di depan Yasmin.
"Nanti aku hubungi lagi, ini ada tamu," kata Arman di telpon.
Mata Arman melirik wanita cantik di depannya.
"Ya orang," jawab Arman singkat.
"Cewek apa cowok?" tanya Lia seperti wartawan surat kabar yang mencari berita.
"Cewek," ucao Arman yang memang sulit berbohong.
"Tuh, kan!" Lia mendesis kesal, tapi juga geli sendiri. Kenapa dia jadi sewot.
"Ya sudah, aku tutup telponnya!" gerutu Lia mengancam, tapi tak mematikan ponselnya. Seperti hanya memberikan gertak saja.
"Iya, nanti aku telpon pas di rumah. Sudah ya ..."
"Hemmm!" balas Lia kesal. Padahal dia masih ingin bicara, dia mau cerita kalau surat resign nya sudah diterima. Dia bisa keluar dari perusahaan dan kembali pulang. Sayang, Arman kayaknya sibuk, membuat Lia jadi bad mood.
"Sudah ya ..."
__ADS_1
"Hemmm!"
Arman melirik Yasmin, yang sepertinya nguping. Sampai akhirnya ia mengucapkan sesuatu yang membuat Yasmin mendongak menatap ke arahnya.
"Miss you," ucap Arman tiba-tiba.
Tidak hanya Yasmin, Lia yang ada di Kalimantan pun dibuat kaget oleh pria bernama Arman tersebut. Bisa-bisanya Arman ngegombal. Lia pun tersenyum dalam hati.
Sesungguhnya, Lia tadi kesel, bad mood, pengen ngambek, seketika hidungnya membesar, kembag kempis gara-gara Arman yang mendadak gombal.
"Hemm. Ya sudah aku tutup," kata Lia yang malu-malu kucing setelah mendengar gombalan Arman tesebut.
Setelah itu, Arman kembali fokus pada gadis di depannya. Selesai bicara dengan Lia, Arman sekarang bicara dengan mantan kekasihnya yang muncul mendadak.
"Pacar baru kamu?" celetuk Yasmine yang merasa tidak suka. Sudah putus, tapi kelihatannya masih kepo sama hubungan mantan.
"Bukan," jawab Arman.
"Bukan?"
"Ya, bukan, tapi calon istriku. Kami akan segera menikah."
Mata Yasmine menajam sempurna.
"Gak mungkin. Kamu selama ini bilang sayang sama aku. Bahkan selama ini setia, gak mungkin kamu dengan mudahnya akan menikah. Siapa dia? Pasti dijodoh-jodohkan!" cetus Yasmine yang sakit hati. Dia yang menyakiti pertama kali, tapi bertindak seperti korban.
"Ehem ... Yasmin, sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."
Yasmin menggeleng pelan.
"Manusia gak mungkin secepat itu berubah. Kamu pikir aku gak tahu? Kamu diam-diam tanya kabarku dari temenku?"
Arman mencebik.
"Kamu salah paham."
"Salah paham? Ayolah Arman, kita pacaran lama, dan aku tahu betul kamu pria seperti apa. Oke ... aku khilaf karena jalan sama dokter Roni. Tapi kami sudah putus."
"Cukup, itu tidak ada urusannya denganku!" balas Arman dengan wajah yang sudah mengeras.
__ADS_1