Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
D-Day


__ADS_3

Telat Nikah BAB 17


Oleh Sept


Lia sudah tahan napas, setidaknya tubuhnya sudah peka. Sudah menduga apa yang akan terjadi. Meskipun deg-degan, Lia mencoba tampak tenang. Berusaha menetralisir detak jantung yang berdegup kencang.


Tiba-tiba hawa dingin menerpa dahinya, perlahan Lia membuka mata. Gadis yang lama menjomblo tersebut langsung kikuk, tatkala Arman meniup dahinya.


"Ada sesuatu di keningmu," ucap Arman kemudian.


Lia yang sudah sempat siap siaga, kini bagai sapi ompong, bengong akibat ulah Arman.


'Lah? Apa-apaan Arman ini? Apa aku yang terlalu mesyum?' gerutu Lia dalam hati dan buru-buru keluar.


Dia malu karena sempat merem tadi, sedangkan Arman, pria itu tersenyum puas dalam hati. Sukses membuat Lia salting.


***


Hanya lima menit Arman masuk rumah, karena sudah malam, ia pun pamit pulang setelah memulangkan Lia tanpa kurang satu apapun.


"Arman pulan dulu, Bu."


Bu Damri mengangguk. "Hati-hati, jangan ngebut."


"Iya, Bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Arman lalu mendekati Lia, kemudian berbisik.


"Habis ini kita gak bisa ketemu, nanti sampai rumah aku vcall," ucap Arman yang memang setelah ini keduanya tidak boleh ketemu dulu. Karena sudah dekat hari H.


"Hemm, iya," jawab Lia sambil jalan ke depan. Seperti biasanya, dia akan mengantar Arman sampai halaman depan, atau melambaikan tangan di teras rumahnya.


"Hati-hati," ucap Lia agak keras.


Arman megangguk, dan masuk mobil. Kendaraan roda empat itu pun melaju meninggalkan kediaman Lia.


***


Beberapa hari kemudian.


Meskipun sudah di handle oleh WO. Ternyata masih saja ada yang kurang, Lia memeriksa daftar tamu undangan. Lebih banyak tamu dari pihak ibunya, sedangkan tamu Lia hanya sediki.


Bu Damri mungkin mau pamer pada semuanya, kalau anaknya itu kini akan menikah.


"Bu, banyak bener. Ini kok sampai luar kota."


"Gak apa-apa. Kirim pos kilat. Pokoknya jangan kelewatan. Itu Ibu sudah catat semuanya," kata Bu Damri.


Lia hanya geleng-geleng.


"Hemm ... Ibu."

__ADS_1


"Sudah, jangan protes. Tinggal ketik saja, nanti biar dibantu sama Asih."


"Iya, Bu ... kanjeng Mami," celetuk Lia kemudian menghadap laptop.


Tidak lama kemudian, ponsel Lia berdering. Lia melihat jam, sudah pukul lima sore, pasti Arman sudah di rumah. Ia pun mematikan laptop, dan langsung rebahan.


"Ya," kata Lia sambil menatap kamera, karena Arman ini sukanya ngajak video call. Katanya sih karena Lia cantik, gak bosen dilihat. Dari sana, Lia langsung menjuluki laki-laki tersebut raja gombal.


Keduanya makin lama makin akrab, dan deg-degan menuju hari H.


"Lia."


"Ya," jawab Lia lagi.


Arman diam saja, membuat Lia bertanya.


"Ada apa?"


"Cuma manggil saja," jawab Arman senyum.


"Kurang kerjaan banget," celetuk Lia.


"Banyak, Lia. Kerjaan numpuk. Tapi kalau telpon sama kamu, kaya capeknya ilang," canda Arman.


"Astaga ... tuh. Gombal!"


Arman terkekeh.


"Ya sudah, aku mandi."


"Iya, ini baru masuk. Langsung telpon calon istri," jawab Arman enteng.


Hidung Lia langsung kembang kempis dibuatnya.


"Sudah ya, Lia. Aku mandi dulu ... atau jangan-jangan lanjut saja ... live streaming gitu?" canda Arman dengan bibir mereka.


"Apa sih!" Pipi Lia sudah mirip tomat yang siap dipetik karena sudah matang, merah merona.


"Hehehe ... canda, Lia. Ya sudah. Aku matikan teleponnya."


"Hemm."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tut tut tut


Lia langsung salto sambil memeluk guling. Entah Arman mengandung virus apa, yang jelas hidungnya membesar kembag kempis dan bibirnya ingin tersenyum.


Apa Lia jatuh cinta? Entahlah.


***

__ADS_1


D-Day


"Lia!"


Tok tok tok


Lia yang semalaman tidak bisa tidur di kamar hotel, mengusap wajahnya saat mendengar keributan di depan pintu.


"Iya, Bu."


Lia pun keluar dan membuka pintu. Di sana sudah ada ibunya dan para MUA.


"Astaga, masih jam berapa ini?"


Bu Damri, Asih dan para MUA langsung masuk, mereka pun heran kenapa Lia belum mandi.


"Kamu ini mau nikahan, cepat mandi sana."


"Lah, Bu. Masih jam 4 subuh," protes Lia.


"Akad pagi, Lia. Sana mandi, ini mbk riasnya sudah Ibu bawa ke sini."


Lia menatap tidak enak pada para MUA. Emang ibunya ini semangat membara.


Akad masih jam 9 pagi, subuh-subuh disuruh siap-siap. Mana semalam gak bisa tidur. Alhasil, saat dirias wajahnya, Lia malah tidur sambil terbaring di atas ranjang pengantin.


"Itu bangunin, MBK!" cetus Bu Damri.


"Gak apa-apa, Bu. Masih bisa. Nanti giliran mata biar saya bangunin," jawab MUA yang sepertinya ngerti, pengantin kurang tidur. Terlihat dari kantung mata dan mata pandanya.


Ternyata, usaha Bu Damri yang begitu menggebu semangat 45 tersebut, membuahkan hasil.


Pukul 8 Lia sudah siap, semuanya sudah beres, hingga Lia pemotretan singel dulu di salah satu ruangan khusus.


Sedangkan Bu Damri, sejak tadi menatap sambil duduk dan mengusap pipinya. Inilah harapannya, akhirnya putrinya akan menikah juga. Mungkin baper, atau terlalu lebay, tapi bagi seorang ibu yang memiliki anak gadis usia sangat matang dan belum menikah, melihat anak gadisnya akhirnya ketemu jodoh, itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.


Lebih bahagia daripada melihat kesusksesan anaknya di bidang akademik ataupun karir. Ya, begitulah Bu Damri. Melihat Lia akan menikah saja air matanya tumpah-tumpah.


"Bu, jangan nangis. Ini kan momen bahagia Lia," kata Lia sambil mengusap pipi ibunya setelah proses pemotretan.


"Siapa yang nangis!" bantah Bu Damri.


"Lah ini?" kata Lia sambil menunjuk tisu-tisu bekas ibunya menyeka air mata.


Bu Damri langsung memukul lembut lengan calon pengantin yang cantik dengan gaun putihnya itu.


"Sakit, Bu," kata Lia kemudian memeluk ibunya dan Asih yang menatapnya haru.


Mereka bertiga berpelukan, dan merasakan ikut bahagia atas hari bahagianya Lia.


Tok tok tok


Seseorang masuk.

__ADS_1


"Pengantin prianya sudah tiba," ucap seorang perempuan. Sepertinya salah satu karyawan WO.


Lia mengambil napas dalam-dalam. Beberapa saat lagi, dia akan menjadi nyonya Arman.


__ADS_2