Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Speechless


__ADS_3

Telat Nikah BAB 9


Oleh Sept


Semalaman Lia merasa badannya lemas semua. Saat bangun, ruangan kosong. Kebetulan tidak ada teman satu kamar. Padahal ada dua ranjang. Ditatapnya jam yang seperti berjalan begitu lambat, sampai tidak terasa akhirnya ia ketiduran. Bangun-bangun matahari sudah terbit.


"Bagaimana Mbk Lia? Ada keluhan?" tanya suster yang sedang mengganti cairan infus yang hampir habis.


Suster itu juga sepertinya melihat sekitar, karena sepertinya Lia tidak ada yang mengunjungi.


"Nggak, Sus," jawab Lia kemudian menatap ponselnya.


Saat sakit begini, dia malas melakukan apa-apa. Mau nonton drakorr pun rasanya tidak selera. Padahal ada yang dia sukai bintang filmnya, sayang badannya kurang enak. Membuatnya memilih mengistirahatkan mata, dan tubuhnya.


Pukul tujuh, makanan masih utuh di atas meja. Lia sama sekali tidak selera. Sampai datang temannya yang menjenguk. Membawa makanan dan juga buah.


Biarpun tidak ada sanak keluarga di tanah perantauan, Lia masih punya banyak teman dan tekan kerja yang baik di sana. Ini karena Lia mengingat pesan ibunya. Harus berbuat baik sama orang, karena suatu saat kita pasti butuh bantuan orang.


Biarpun dijahati, kata sang ibu dilarang membalas. Biarlah Tuhan yang membalas semuanya. Tugas kita hanya berbuat baik. Itulah yang Lia tanam dalam dirinya. Dan kalau mengingat itu, Lia jadi sendu. Sakit begini biasanya ibunya paling bawel, tapi juga paling perhatian dan paling sayang.


Lia tersadar dari lamunannya, ketik temannya itu berbicara.


"Cepet sehat ya, Li."


Wanita itu menatap tulus, berharap Lia cepat sembuh dan bisa masuk kerja lagi bersama mereka. Lia pun membalas senyum temannya itu.


"Iya, lusa paling boleh pulang," jawab Lia.


"Kamu masih kelihatan lemas gitu," celetuk temannya. Memang Lia ini belum bisa cepat pulih, karena males makan. Cuma minum obat saja, itupun kalau gak dimarahi dokter, Lia juga enggan.


Lia pun hanya senyum tipis. Iya sih, badannya masih lemes banget. Bisa-bisa dia masih lama di sana.


"Kamu gak ada yang jagain nih?" Tiba-tiba pertanyaan sang rekan tersebut membuat Lia tambah sendu. Maunya sih bilang sang ibu sama Asih. Namun, Asih masih kuliah, kalau ibunya sendiri ke sana, Lia kok gak tega.


"Gak apa-apa," jawab Lia. Aslinya sih ngaruh, tapi bagaimana lagi namanya juga karena keadaan.


"Oh ha, kamu gak hubungi keluarga di Jawa?" tanya rekan sekaligus temannya itu. Cerewet juga ternyata, orang sakit sejak tadi malah diwawancarai terus.


Lia pun menggeleng kepala.


"Gak lah, kasihan ibu kalau harus ke sana ke sini," kata Lia.


Temannya pun merasa iba, coba Lia ada keluarga di sana, pasti ada satu atau gantian yang jaga. Ini sakit-sakit sendiri gak ada yang menemani. Semasa manusia, mungkin teman Lia merasa simpati.


"Cepet sembuh ya, nanti malam aku ke sini deh," kata teman Lia tersebut. Karena dia juga gak bisa menemani lama-lama. Masih hanyak hal yang harus ia kerjakan.


"Gak usah. Aku dah biasa ... biasanya apa-apa juga sendiri," ucap Lia menolak.


KLEK

__ADS_1


Saat keduanya mengobrol, tiba-tiba ada yang masuk. Lia pikir dokter atau perawat, dan dia sangat terkejut saat melihat siapa yang datang.


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Mendadak muncul sosok pria yang selama ini membuat Lia kadang badmood.


"Mas Arman," gumam Lia kaget. Perasaan semalam masih video call, lah ini malah sudah ada di rumah sakit. Arman benar-benar mirip jailangkung. Datang gak bilang-bilang.


Arman lantas mengangguk sopan, seperti menyapa teman Lia yang heran menatapnya. Dasar Arman memang menjunjung kesopanan, ia pun menyapa teman Lia terlebih dulu dengan ramah.


Teman Lia langsung melirik Lia yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Dia menatap curiga, dia kira Lia jomblo akut. Tapi ternyata dia salah.


"Siapa, Li? Pacar kamu?" bisik teman Lia.


Lia hanya melirik, bingung mau jawab apa. Karena memang dia dan Arman gak ada hubungan. Hubungan mereka tanpa status, walau kedua orang tuanya menjodohkan mereka.


"Ya sudah, aku balik ngantor ya."


Tidak mau jadi obat nyamuk, akhirnya teman Lia itu pun pamit pergi.


"Kok buru-buru?" tanya Lia.


"Itu ... aku lupa. Harus periksa proposal, nanti Pak Danu marah."


Dahi Lia seketika mengkerut, dia tahu temannya cuma mau kabur.


"Oke, makasih ya," ucap Lia kemudian.


"Hem. Cepet sembuh ya."


"Permisi Mas," ucapnya sopan.


***


Saat ini hanya ada Lia dan Arman, suasana pun terasa hening dan sepi. Sampai Arman yang pertama kali membuka suara seperti biasa.


"Bagaimana kata dokter?"


"Ya pemulihan. Gak boleh telat makan dan makan kasar."


Arman menghela napas panjang.


"Tante masih tidak tahu?"


Lia menggeleng.


"Sudah makan?"


Lia kembali menggeleng.


"Mau aku kupasin buah?"

__ADS_1


Barulah Lia mengangguk, saat Arman di sana, laki-laki itu sigap sekali. Jujur, Lia mulai tersentuh. Laki-laki itu jauh-jauh terbang ke sana hanya untuk melihatnya. Kalau begini dia benar-benar dilema.


Sampai akhirnya waku kunjungan dokter. Dan Arman langsung bicara sendiri pada dokter tersebut. Lia merasa punya seseorang yang mengurusnya.


Selama ini dia bisa berdiri di kakinya sendiri. Tapi saat sakit seperti ini, dia sadar. Lia sadar kalau dia makhluk sosial. Butuh seseorang untuk dimintai tolong, dan butuh teman bicara. Selama ini terlalu larut dalam dunia kerja, sampai hatinya tidak terurus. Malah tengelam dalam kenangan yang mengelikan.


Begitu sang mantan sudah bahagia, kenapa dia malah terjebak seorang diri. Sungguh Lia merasa gadis paling bodohh. Saat ada intan di depan mata, malah ia menepisnya.


Hingga malam harinya, saat melihat Arman tidur di sofa rumah sakit, Lia memperhatikan wajah tampan laki-laki yang kelihatan lelah tersebut. Mungkin Lia juga sudah mengantuk, akhirnya ia juga ketiduran.


Beberapa jam kemudian, Lia kaget seperti ada gerakan di sebelahnya. Dan benar saja, Arman duduk di sebelah ranjang dengan menarik kursi.


Arman sudah terjaga, dan sejak tadi sepertinya menatapnya.


"Kamu tadi mengigau," kata Arman saat Lia terus menatapnya seperti bertanya-tanya.


"Aku?"


"Hemmmm. Kamu manggil ibumu terus."


Lia langsung nelan ludah.


"Sepertinya kamu kangen ibumu," kata Arman.


"Kan baru pulang," balas Lia.


"Hemm. Iya sih. Tapi kamu barusan ngigau. Apa kamu baik-baik saja di sini?"


Lia mengangguk. Tapi lalu menggantupkan bibir. Sepertinya dia tidak baik-baik saja.


"Kenapa?" tanya Arman. Tatapan matanya begitu dalam, dan Lia melihat ketulusan di mata laki-laki tersebut.


"Aku mau pulang," jawab Lia begitu saja. Hanya itu yang ada di dalam kepalanya.


"Pulang? Bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?"


"Mas Arman ... sepertinya gajimu cukup untuk biaya hidupku, kan?"


Arman terkekeh. Ia pikir Lia masih mengigau. Omongannya ngelantur.


"Kenapa tertawa? Apa ini lucu?"


"Kamu istirahat saja, sepertinya kamu masih mengigau," ucap Arman lalu membetulkan selimut.


"Bagaimana kalau aku serius?"


Wajah Arman langsung berubah. Ia berpikir sesaat, kemudian menatap mata Lia lekat-lekat.


"Maksud kamu apa, Lia? Kamu menerima perjodohan ini?"

__ADS_1


Pelan-pelan Lia mengangguk.


"Jadi istriku?" tanya Arman tidak percaya.


__ADS_2