Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
NYOSOR


__ADS_3

Pria Pilihan Ibu Bagian 30


Oleh Sept


Wajah Lia terasa hangat, buru-buru setelah film selesai ia langsung ke kamar kecil.


"Mas, aku ke toilet dulu," kata Lia saat keluar dari barisan penonton yang mulai keluar dari gedung bioskop.


"Ya."


Arman pun menunggu, di berdiri tidak jauh dari toilet. Sembari matanya melihat poster film yang lain. Bibirnya merekah, mengulas senyum saat ingat kejadian dalam gedung beberapa saat lalu.


Tidak lama kemudian, Lia muncul sambil mengusap pipinya sendiri.


"Sudah?" tanya Arman.


"Sudah, Mas gak ke toilet?"


Pria itu menggeleng, kemudian langsung merangkul pundak istrinya.


"Kita ngapain lagi?" tanya Arman.


"Pulang saja, ya?" pinta Lia.


"Oke, ya sudah ayo pulang."


Perut masih kenyang, sudah nonton juga, akhirnya mereka pun pulang. Dan sepanjang perjalanan, Lia malah tidur dengan sangat nyenyak. Sampai Arman heran, mudah sekali istrinya itu tidur.


Hingga sampai di depan halaman rumah Arman, akhirnya Lia bangun. Itupun karena dibangunkan oleh Arman beberapa kali.


"Lia ... sayang. Bangun."


Lia mengerjap, tangannya mengusap kedua matanya yang perih.


"Udah sampai?"


"Hemm ... sudah, ayo turun," kata Arman.


Lia menguap dan melepaskan sabuk pengaman, setelah itu turun dan berjalan di belakang Arman.


"Ngantuk banget ya?" tanya Arman yang menoleh melihat Lia jalan lemas seperti gak punya tenaga.


"Hoooaamm," iya, Mas. Ngantuk parah.

__ADS_1


"Ya sudah, langsung tidur saja."


Lia mengangguk lalu berjalan duluan masuk ke kamarnya. Hanya cuci muka, tangan dan kaki. Setelah itu langsung melempar tubuhnya di atas ranjang.


KLEK


Arman masuk beberapa saat kemudian.


"Lah ... ganti baju dulu," saran pria tersebut.


"Ngantuk banget, Mas," jawab Lia dengan nada malas.


Lia kembali memejamkan mata, lalu memeluk guling. Tidak butuh waktu lama, wanita itu langsung terbang ke alam mimpi, dengan cepat sudah pindah alam.


***


Tidak terasa rembulan malam yang menggantung indah sudah berganti dengan mentari pagi.


Pagi-pagi Lia sudah bangun, menyiapkan makanan untuk sarapan serta bekal buat Arman.


Sambil menunggu suaminya siap-siap, Lia menata bekal. Makanan sederhana tapi dibuat dengan cinta, jangan tanya soal rasa. Bagi Lia sih sudah lumayan, meskipun di lidah Arman rasanya ke mana-mana.


"Mas, ini bekalnya jangan lupa," ucap Lia.


Arman mengangguk, kemudian duduk di meja makan.


"Sayang, coba masak telurnya lagi. Ini kuningnya kayaknya mentah banget."


"Kan setengah matang, Mas," balas Lia lalu duduk dan melihat nasi goreng miliknya. Kelihatan menarik kok, sudah mirip sajian di hotel-hotel bintang tujuh.


Arman hanya garuk-garuk kepala, kemudian mencoba makan. Kesan pertama sudah ia duga. Namun, dia terus mengunyah. Dan melempar senyum pada Lia.


Sedangkan Lia, yang sudah terbiasa makan masakannya sendiri, karena sudah dari remaja dia mandiri, ia pun terlihat menikmati makanan dengan nikmat.


"Nanti habisin ya, Mas," kata Lia dengan tersenyum manis.


Arman pun membalas dengan senyum pula. Untung jago di ranjang, kalau masalah urusan dapur, Arman akan maklum. Karena semakin berjalannya waktu, pasti lama-lama juga jago masak juga.


"Aku berangkat dulu," pamit Arman yang sudah waktunya berangkat.


"Iya, hati-hati Mas."


Arman lalu mendekat, kemudian mengecup kening Lia.

__ADS_1


"Jaga rumah ya," canda Arman lalu dengan sengaja mengecup ujung bibir Lia.


"Ish!"


Arman terkekeh, kemudian berjalan menuju mobil.


"Hati-hati!" seru Lia setengah teriak. Tangannya melambai mengantar suaminya berangkat kerja.


Setelah Arman berangkat, Lia kembali kesepian. Dia masuk kamar dan menyalakan laptop. Lia menonton Drakor sampai bosen, hingga tidak terasa sudah siang.


Iseng habis mandi, Lia vcall sang suami. Masih pakai handuk.


"Iya, sayang."


Suara Arman mulanya biasa saja, tapi suara yang keluar berikutnya seperti tercekat di leher.


"Sayang!" desis Arman kesal.


Terlihat dalam layar sentuh Lia yang menawan.


"Jangan lupa makan siang," ucap Lia lalu mematikan ponselnya.


Di dalam ruangannya, Arman mengatur napas.


"Awas kamu Lia!"


***


Belum jam 4 sore, mobil Arman sudah terlihat memasuki area perumahan miliknya.


Wajahnya sumringah, sesekali ia bersiul. Dan saat melihat pagar rumah dari kejauhan, dia semakin bersemangat.


Dengan buru-buru, pria itu masuk ke rumah dan langsung bersemangat saat melihat sang istri berdiri di dapur membelakangi dirinya.


"EH!" pekik Lia kaget tiba-tiba dipeluk dari belakang.


"Mas," desis Lia menyingkirkan lengan suaminya. Akan tetapi, wajah Arman malah mendesak antara leher dan kepalanya.


"Kamu tadi siang sengaja banget, ya?" bisik Arman lalu menciyum tengkuk Lia.


"Ehem ... ehem!"


Arman langsung menoleh, dia tidak tahu ada tamu. Karena tadi tidak ada kendaraan lain di halam rumah.

__ADS_1


Malu, Lia langsung menghindar, sedangkan Arman, dia langsung kikuk karena di rumahnya ada orang. Bersambung


Hadeh, Man ... nyosor mulu. Emang sih, pengantin baru. Gak nempel gak afdol hehehe ...


__ADS_2