
Pria Pilihan Ibu Bagian 39
Oleh Sept
Di sebuah rumah sakit. Arman dan Lia sedang memeriksa kehamilan. Wajah Arman full senyum sejak perjalanan mau ke rumah sakit sampai proses USG.
"Selamat ya, Pak Arman."
Ucapan dokter membuat hati Arman semakin berbunga-bunga. Jika semalam masih abu-abu, sekarang dia yakin kalau ada janin dalam rahim istrinya.
"Semuanya baik-baik saja kan, Dok?"
"Alhamdulillah, semuanya normal."
"Syukurlah ... saya masih was-was. Karena ini adalah penantian lama kami."
Dokter mengangguk, sepertinya paham.
"Saya doakan semuanya baik-baik saja. Jangan lupa tetap harus hati-hati."
"Baik, Dok."
Arman menatap istrinya, lalu menggenggam tangan Lia. Akhirnya, dia percaya kalau dia bisa punya anak juga.
***
Pulang dari rumah sakit, Arman langsung mampir ke rumah Bu Damri. Atas permintaan Lia, dia mau menginap di sana, dan Arman mengijinkan.
Begitu mobilnya parkir, Bu Damri langsung menyambut.
"Tumben kalian, ke sini gak kabar-kabar," kata Bu Damri.
"Kasih kejutan saja, Bu. Ini Lia gak bawa apa-apa. Cuma buah."
"Halah ... gak usah bawa apa-apa. Kamu pulang saja Ibu sudah senang. Ayo masuk. Kebetulan kemarin Asih pulang dari dinas, dia bawa oleh-oleh banyak. Padahal, lusa atau kapan Ibu rencana mau ke rumahmu."
Lia hanya senyam-senyum, lalu mengelayut manja di lengan ibunya.
"Ayo ... masuk nak Arman," kata Bu Damri.
Setelah basa-basi, Lia ganti baju. Pakai daster yang memang ada di lemari kamarnya yang lama.
Bu Damri kini tinggal bersama Asih saja, sedang Asih sendiri sudah menikah. Namun, suaminya tugas di luar pulau. Jadi mereka LDR.
Rencananya mungkin tahun depan Asih akan menyusul, dan itu yang membuat Bu Damri galau.
"Bu, Ibu ikut tinggal sama kami ya?" ajak Lia di sela-sela obrolan mereka.
"Lalu siapa yang tinggal di sini? Asih juga akan ikut suaminya. Kalau Ibu ikut kamu, lalu rumah Ibu nanti jadi angker."
"Kontrakin saja, Bu," celetuk Lia.
"Hemm."
__ADS_1
"Bener, Bu. Kasihan Lia kalau di rumah tidak ada temennya. Mungkin mulai sekarang akan Arman larang wara wiri ke toko. Ibu ikut kami saja."
"Terima kasih ajakannya, Nak Arman. Tapi Ibu kok merasa enak tidur di rumah Ibu sendiri. Meskipun rumah kalian bagus. Bukan karena apa-apa, hanya saja Ibu nyaman tinggal di sini," kata Bu Damri panjang lebar.
"Ngalah, Bu sama anak dan calon cucu," kata Arman sambil senyum.
Bu Damri terhenyak, dia melihat Lia dan Arman bergantian. Butuh waktu baginya untuk mencerna apa yang menantunya itu katakan.
"Lia hamil, Bu," sambung Arman.
Bu Damri seperti orang bingung, tapi tangannya langsung meraih tubuh Lia. Wanita itu memeluk dan menepuk punggung Lia cukup keras.
"Itu benar kata suamimu?"
"Hemm ... Lia hamil, Bu."
Suasana haru kembali tercipta, kehamilan Lia benar-benar bagai oase di padang pasir yang gersang. Selama ini Bu Damri tidak mau bertanya, cukup doanya saja sepanjang malam yang menembus Arsy-Nya.
Ratusan kali kalimat syukur terucap dari bibirnya yang tidak mengeluarkan suara. Bu Damri benar-benar seperti mendapatkan hadiah yang sangat besar.
Kehamilan Lia benar-benar berkah bagi semuanya. Membuat orang-orang di sekitar Lia ikut mengucapkan syukur bahagia.
"Bagaimanapun? Ibu mau kan?" tanya Lia lagi.
Bu Damri menatap sekeliling, rasanya Lia lebih berharga daripada kenangan di rumah itu. Untuk cucunya yang belum lahir di dunia, kasih Bu Damri tulus untuk janin yang dikandung putrinya itu.
Wanita paruh baya itu mengusap perut Tari, kemudian merapal banyak doa, dia bisikan dan tiba-tiba matanya kembali perih.
"Sudah, Bu ... jangan nangis. Lia jadi ikut nangis," gumam Lia.
Melihat keharuan ibu dan anak itu, Arman kemudian mendekat. Merangkul mereka berdua. Bu Damri yang sudah seperti ibu kandungnya. Yang mendukung Arman dari awal untuk mendapatkan Lia sampai sekarang.
Kini, mereka bisa bersama-sama lagi. Sambil menunggu kelahiran si kecil yang akan menjadi harapan di keluarga mereka.
***
Tiga tahun kemudian
Lia sedang berjalan di mall, sedangkan Arman mendorong stroller bayi.
"Papa ... Papa!" teriak gadis kecil, bibir mungil dengan kuncir seperti pohon kelapa.
Tangannya keluar dari stroller, minta digendong papanya.
"Gendong saja, Mas. Biar aku dorong stroller nya," kata Lia.
"Jangan, biar aku yang gendong sama dorong. Kamu jalan saja pelan-pelan. Itu perlengkapan bayi sudah di depan."
Lia mengangguk, kemudian mengusap perutnya yang sedang hamil tua. Ya, Lia sedang hamil anak kedua. Benih yang sempat diragukan itu, ternyata mulai bertunas. Tidak ada yang tidak mungkin, selalu ada harapan untuk mereka yang selalu berjuang dan pasrah pada hasilnya.
Arman sedang memanen buah kesabarannya, begitu juga Lia. Dia yang selalu setia, kini diratukan oleh pria yang selalu menomor satukannya.
Mereka sedang mencari perlengkapan bayi, dua bulan lagi Kak Moli akan punya adik, kata dokter jenisnya laki-laki. Sehingga komplit sudah kebahagiaan Arman dan Lia.
__ADS_1
"Sayang ... ini lucu sekali," Lia memanggil Arman.
"Itu pink, Lia ... anak kita nanti cowok."
Lia tersenyum, "Iya ... lucu banget."
"Ya sudah, kita buat ketiga ... semoga dapat cewek lagi," ucap Arman sambil mengecup pipi Moli kemudian ganti pipi Lia.
"Ish ... kenapa yakin sekali kalau kita bakal punya anak lagi," cibir Lia dengan nada bercanda.
"Bisa saja, tidak ada yang tidak mungkin. Lagian, kamu juga tambah ehem. Bikin Mas pengen terus," gumam Arman mulai jahil.
Lia langsung melotot. "Mas!"
Lia memang lebih bohaii setelah melahirkan Moli, tambah bersisi tapi bodinya bagus. Dan jelas membuat Arman tambah pengen tanam modal terus. Masalah ada hasilnya atau tidak, semua itu atas seizin yang di atas.
"Nanti titipin Moli ke Ibu ya, kita keluar."
"Ngapain?"
"Buat jalan lahir, kamu gak inget saran dokter?"
Tiba-tiba ada pelanggan lain lewan, seketika Lia langsung menutup bibir suaminya.
"Mas!"
Arman terkekeh, apalagi melihat pipi Lia yang langsung memerah.
CUP
"I love you, Honey."
Hidung Lia kembang kempis, malu tapi suka. Sikap Arman yang manis tersebut, membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung.
"Dan ini juga cinta Papa ... Love kesayangan Papa," ucap Arman sambil mengecup sayang pipi Moli yang gemoy.
"Moli sayang gak sama Papa?" tanya Arman.
Anak kecil itu mengangguk lucu, dengan mata menyipit. Membuat Arman gemas.
Sedangkan Lia, ia langsung mengecup putrinya berkali-kali sampai putrinya menangis dalam gendongan Arman.
"Sayang sudah ..."
"Gemas, Mas."
Terlalu gemas sama putrinya, sampai Lia mencubit lembut pipi itu.
"MAMA ..."
Lia dan Arman terkekeh, kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
TAMAT
__ADS_1