
Pria Pilihan Ibu Bagian 36
Oleh Sept
Perjalanan cinta Lia tidak semulus karirnya dulu. Setelah susah mendapatkan jodoh, kini dia malah susah mendapatkan keturunan. Sebuah kenyataan yang membuatnya tertampar, sang suami di vonis tidak bisa memberikan keturunan.
Lalu bagaimana Lia menceritakan kenyataan ini pada ibunya? Belum lagi pada keluarga besar? Sebagai wanita, jelas hati kecilnya ingin menjadi wanita yang sempurna. Bisa mengandung dan melahirkan. Tapi apa boleh buat, rupanya ujian Lia belum berakhir. Ujian pernikahannya malah baru dimulai.
Hubungan yang semua harmonis dan hangat, kini berubah. Arman tidak lagi sehangat dulu, mungkin juga minder karena dia dinyatakan mandull.
***
Beberapa bulan berlalu, hubungan suami istri itu pun mulai renggang. Arman sering ke luar kota, menghindar dari Lia.
Percuma bula mereka berhubungan. Toh tidak akan menghasilkan anak. Di sana Arman mulai menyerah, dan berpikir realistis.
"Kamu boleh meninggalkan rumah ini," ucap Arman saat keduanya sedang sarapan.
"Maksud Mas Arman?"
Lia kaget, ia merasa diusir dari rumah suaminya.
"Mulai sekarang, aku bebaskan kamu." Arman bicara dengan tegas, seolah dia tidak butuh Lia. Padahal, Arman sendiri tersiksa dengan apa yang sudah di vonis padanya.
Secara tidak langsung, perkataan Arman seperti sebuah kata talak.
"Mas Arman sadar apa yang Mas ucapakan? Apa ini karena anak? Dunia kedokteran sangat maju, kita bisa buat bayi tabung atau apapun itu."
Arman mengusap wajahnya dengan kasar, masalah S milik Arman tidak bisa diandalkan. Mau bayi tabung seratus kali, Arman tidak yakin akan berhasil. Daripada sama-sama tersiksa dan tekanan batin. Sepertinya Arman memutuskan untuk berpisah.
"Sudahlah, Lia. Aku tidak akan menarik kata-kataku. Mulai sekarang, aku bebaskan kamu."
Lia sakit hati, matanya terasa perih. Ia kemudian bangkit dan mendekati Arman. Dia menatap suaminya dengan marah, kemudian memukuli tubuh Arman dengan emosional.
"Kenapa kamu seperti ini, Mas? Kenapa?"
Bug ... Bug ..
Lia berkali kali memukuli tubuh suaminya itu, tapi Arman menerima dengan hati yang sama terlukanya.
Kenyataan tidak bisa membuat Lia hamil, ternyata membuat Arman tertekan dan beban mental sendiri.
"Kamu jahat, Mas," Lia tidak bisa menahan kesedihannya.
__ADS_1
"Carilah kebahagiaan mu sendiri."
Mendengar Arman yang terus bicara omong kosong, Lia pun kembali tersulut.
"Jadi Mas Arman mengusirku? Menceraikan aku?"
"Ini yang terbaik. Kamu ingin anak, kan?"
Lia menggeleng pelan. Lia memang ingin punya anak, tapi jika solusinya menikahi pria subur, lalu bagaimana jika nasibnya tetap mendapatkan laki-laki yang tidak bisa punya anak? Apakah dia harus menikah berkali-kali.
Lia terduduk lesu di kursinya, kemudian mengusap wajahnya dengan berat.
"Aku tidak mau anak ..." ucap Lia dengan suara serak.
"Aku tidak ingin anak," tangis Lia kembali pecah. Jika anak menjadi alasan mereka berpisah dan cerai, Lia tidak mau. Terlalu kejam jika mereka bercerai hanya karena kondisi Arman.
"Kembalikan Armanku seperti dulu ... kembalikan ..."
Arman ikut sesak, keputusan mengakhiri hubungan ini, sudah ia pikir masak-masak. Dia tidak mau egois, dan ternyata ... cintanya lebih besar.
"Maafkan aku, Lia. Mungkin ini yang terbaik untuk kita saat ini."
Lia menggeleng, bibirnya bergetar. Bulir bening menetes terus dari matanya, membuat Arman tambah merasa bersalah.
"Aku yang salah ... aku."
Melihat Lia menahan tangis, Arman menarik napas panjang, kemudian memeluk Lia. Rasanya lama sekali dia tidak memeluk istrinya itu, setelah keributan waktu itu.
"Maafkan aku ... aku hanya membuatmu menderita," bisik Arman tulus.
Lia sesenggukan di dalam pelukan Arman. Tangan Arman kemudian mengusap kepala istrinya.
Apapun masalahnya, Lia masih bertahan. Biar dokter mengatakan suaminya tidak bisa punya anak, Lia tetap memilih bersama.
Walau sebelumnya Arman mendorong jauh untuk kebahagiaan Lia, nyatanya Lia bahagia jika mereka tetap bersama.
Ujian manusia berbeda-beda. Mungkin ujian anak harus dilewati oleh rumah tangga keduanya.
***
Tahun pertama sangat berat, sampai memasuki tahun kelima.
Lia sudah 35 tahun lebih. Untuk mengusir sepi, dia sudah kembali bekerja. Tapi bukan kerja kantoran. Lia memiliki toko obat, dijalankan bersamaan suami dan para karyawan yang jumlahnya tidak banyak.
__ADS_1
Lia sudah kenyang kapan punya momongan. Hanya bisa menjawab belum dikasih sama yang di atas.
Begitu juga dengan sang ibu dan keluarga besar, jika bertanya, pasti akan Lia tutupi. Hanya mertua saja yang tahu. Selebihnya tidak ada yang tahu rahasia mereka berdua.
Sampai akhirnya, takdir mengajak Lia bercanda. Malam itu Lia pulang malam, dan tubuhnya sangat lelah.
"Besok tidak usah ke toko. Kan ada karyawan," kata Arman.
"Ngapain di rumah, lagian di toko juga duduk-duduk saja, Mas."
"Lah ... lihat, sekarang kecapekan."
"Gak apa-apa. Mungkin faktor umur," jawab Lia sambil tersenyum.
Arman geleng-geleng kepala, kemudian memijit kaki istrinya.
"Gimana?"
"Udah mendingan. Mas besok buka aja panti pijat," canda Lia sambil terkekeh.
"Kalau pelangan VVIP kamu sih oke."
Lia langsung mencebik.
"Ish."
Karena belum makan malam, Lia pun memeriksa dapur. Tapi tidak berselera. Ia pun membuka kulkas. Kebetulan ada belimbing, beli kemarin.
"Loh, kok makan buah? Nasi lah ... jaga lambungnya. Tuh masih muda kayaknya. Asem kan?" tanya Arman sambil mengambil potongan buah belimbing yang asemnya luar biasa sampai matanya menyipit.
"Astaga ... Ini asem banget."
"Masa? Seger kok."
Arman hanya geleng-geleng kepala melihat Lia yang lahap.
Kenyang makan buah, Lia berangkat tidur. Namun, dia ke kamar mandi dulu. Kelihatan tidak bersemangat, tapi harus ia coba. Padahal, sudah sering telat tapi kenyataannya memang gak hamil.
Iseng, sebelum tidur Lia tes sebentar. Karena ini telatnya lumayan. Ada 3 mingguan. Biasanya telat seminggu dua mingguan, dan hasilnya ini selalu negatif.
"Pasti kecapekan," gumam Lia kemudian menunggu hasil tes.
Tiba-tiba bola matanya menajam. Lia panik, ia langsung keluar kamar dan mencari suaminya.
__ADS_1
"MAS ... MAS!" teriak Lia kencang.