
Wanita Pilihan Ibu Bagian 32
Oleh Sept
Hati suami mana yang tidak bermekaran, tatkala sang istri yang diinginkan begitu sangat pengertian. Padahal tidak usah pakai begituan, Arman sudah suka. Toh nanti nantinya akan dilepas juga. Tapi tidak masalah, pakaian perang yang dikenakan Lia semakin membuatnya berdebar. Lia ini pintar sekali membuat hidung Arman langsung mekar.
"Tumben dipakai ininya?" bisik Arman yang sudah di atas ranjang sambil menyentuh ujung renda-renda yang menggoda.
"Daripada nganggur," balas Lia dengan kerlingan mata jahil.
Wajah Arman tambah sumringah, dan saatnya menciptakan generasi penerus bangsa. Lia sudah ready, kamar pun sudah ditutup rapat. Suasana sudah mendukung ditambah lampu yang remang-remang.
"Semoga, malam ini jadi ya, Lia," bisik Arman tapi tangannya merambat, mengusap perut Lia. Memang Arman ini sudah ngebet punya anak dari Lia.
"Bismillah, Mas."
Sebelum melakukan aktifitas yang membuat badan berkeringat, Arman memegang dulu wajah Lia. Pria itu kemudian mengecup pucuk kepala Lia, dan membisikkan sesuatu.
Cup
Kecupan turun ke kening, kemudian beralih ke mata kiri dan kanan. Semakin ke bawah, melewati hidung mancung milik wanita paling cantik di mata Arman saat ini.
Berhenti cukup lama tepat di bibir. Suasana yang tadinya hangat, mulai memanas.
"Mas!" desis Lia sambil mendorong tubuh Arman. Lia memukul lembut lengan suaminya karena Arman habis mengigit nya. Mungkin Arman terlalu gemas, sampai ingin makan istrinya mentah-mentah.
"Sakit?" tanya Arman.
Lia menggeleng, kemudian melingkarkan tangannya di leher Arman.
"Gak sakit, geli ..." jawab Lia sambil tersenyum.
__ADS_1
Lihat bibir manis itu senyum-senyum manis, Arman pun langsung menyesapnya lagi. Merampas bibir ranum itu lebih dalam. Tidak lupa, jemarinya menari-nari, mengabsen tiap lekuk, inci demi inci tubuh Lia yang sudah bagai candu.
"Sudah tegang banget, semoga gak cepet keluar," gumam Arman.
Lia menunduk, melihat sesuatu yang ada di bawah sana.
"Jangan cepet-cepet keluar, Mas. Main dulu," kata Lia.
Arman cukup kaget, Lia semakin di luar ekspektasi. Namun, Arman juga menyukainya. Semakin nakal, semakin bikin ser-seran.
Puas melakukan pemanasan, kini saatnya pada kegiatan inti. Di mana Arman akan menaburkan benih-benih kehidupan di lahannya yang sudah halal.
"Ganti posisi ya," ucap Arman lalu berbaring.
Dia ingin Lia yang mengatur permainan.
"Beneran? Kalau di atas, Mas nanti malah langsung nyenbur," celetuk Lia sambil dengan nada mengejek.
Belum juga dua menit, Arman sudah menyerah.
"Sayang ... berhenti dulu."
"Mau keluar?"
Arman hanya memejamkan mata, kemudian memegangi pinggang Lia agar tidak bergerak. Ada gunung besar yang mau meletus, harus ditahan karena durasinya masih sebentar.
"Berhenti dulu ya."
Lia tersenyum, kemudian mengerjai sang suami.
"LIAAAA ..."
__ADS_1
Arman langsung memeluk tubuh Lia sangat kuat.
"Kok gak dengerin Mas?" protes Arman dengan suara serak.
Jahil sekali Lia ini, sudah dipeluk tapi masih saja bergerak. Sampai akhirnya, Arman pun menyerah dalam medan pertempurannn.
"Cepet banget, Mas?" bisik Lia dengan sangat jahil.
"Ish ... nakalll banget kamu, Lia."
Lia tersenyum puas, karena sudah berhasil mengerjai sang suami. Karena Arman sudah keluar dulua. Kini saatnya dia bisa tidur tanpa ada gangguan.
Habis olah raga malam, mereka ke kamar mandi, setelah bersih semuanya. Lia pun rebahan, kali ini pakai piyama. Bukan lagi baju tempur.
Hoamm
Lia menguap berkali-kali, sedangkan Arman kelihatan segar bugar.
"Ngantuk?"
"Hem."
"Jangan tidur dulu ... kita main lagi," kata Arman sambil berdiri di samping ranjang.
"Kan udah?"
"Tadi sebentar. Kalau ronde kedua, biasanya lama," kata Arman penuh keyakinan.
Niat Lia mau istirahat, tapi sepertinya dia harus ronda malam ini. Bersambung
Semangat Man, sampai bibitmu mecungul. Heheheh
__ADS_1