Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Hangout


__ADS_3

Telat Nikah BAB 16


Oleh Sept


Seperti petir di siang bolong, Bu Damri begitu terkejut saat Lia bilang akan menikah.


"Jangan becanda sama Ibuk, ini bukan mainan," ucap Bu Damri yang masih shock.


"Lia serius, Bu."


Lia memegangi tangan ibunya, dan tangannya sendiri juga terasa dingin.


Bu Damri lalu menatap Arman yang ada di sana.


"Kamu mau nikah? Beneran? Sama siapa?" tanya Bu Damri yang masih belum mau percaya celotehan putrinya itu.


Arman kemudian menatap calon mertuanya, kemudian tersenyum tipis, dan kelihatan sumringah.


"Sama Mas Arman, Bu. Mau sama siapa lagi?" kata Lia.


"Apa? Tunggu ... ibuk kok gemetaran," ucap wanita paruh baya tersebut. Mungkin saking senengnya, karena akhirnya Lia nikah juga.


"Beneran nak Arman?" tanya Bu Damri langsung pada laki-laki itu.


Arman jelas langsung mengangguk.


"Iya, Tante. Bagaimana? Setuju kan?"


Mungkin terlalu haru, Bu Damri malah mengusap matanya.


"Jangan nangis, Bu. Malu," kata Lia.


Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Bu Damri saat itu. Kabar bahagia ini sungguh membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.


***


Setelah obrolan serius, Bu Damri langsung menyiapkan makan. Tidak mengijinkan Arman pulang sebelum makan masakannya.


"Makan dulu, ya ... jangan pulang dulu."


Tidak enak kalau menolak permintaan orang tua, akhirnya Arman pun makan bareng dengan calon keluarga barunya. Masakan sederhana tapi enak untuk disantap.


"Oh ya, Bu. Lia udah gak balik Kalimantan lagi."


"Loh? Pekerjaan kamu bagaimana?" tanya Bu Damri di sela-sela makan bersama.


"Lia mau cari kerja di sini saja, Bu."


"Bagus itu," balas Bu Damri.


Lia kemudian memandang Arman yang sedang minum sirup marijan.


"Gak apa-apa kan, Mas? Meskipun kalau nikah nanti Lia kerja?"


Uhuk ...


Arman sampai tersedak dan batuk.


"Tidak apa-apa."


Lia langsung senyum. Sepertinya nanti kehidupan setelah menikah tidak akan seburuk yang dia gambarkan.


"Tapi ... kalau bisa. Setelah punya anak, fokus keluarga."


Lia langsung menelan ludah.


"Nurut suamimu, Lia." Bu Damri ikut menyela.


"Belum, Bu."


"Kan sebentar lagi. Nak Arman, itu surat-menyurat segera diurus."


"Baik, Tante."


"Udah, panggil ibu kaya Lia juga gak apa-apa."

__ADS_1


"Iya, Tan ... eh Bu."


Lia sekarang yang ketar-ketir, kok dia jadi dilema. Kalau punya anak karir stop. Apa tidak tunda dulu? Tapi usianya tidak muda lagi, mendadak dia jadi galau sendiri


"Lia ... Lia!" panggil Bu Damri yang malah melamun.


"Iya, Bu."


"Itu ambilkan air lagi di belakang, habis itu gelasnya Arman."


"Asih saja, Bu." Asih langsung bangun, tapi tangannya ditahan oleh Bu Damri.


"Biar Lia. Sekalian latihan," kata Bu Damri senyum.


Lia hanya geleng-geleng kepala. Ada-ada saja ulah sang ibu.


***


Habis numpang makan, Arman pun pamit. Karena banyak hal yang harus ia urus mulai sekarang.


Alhamdulillah, ini kok Bu Damri support banget. Malah kelihatan happy sekali, Arman pun tidak pakai drama untuk ijin menikah dengan Lia.


Sekarang ia akan mengurus semua persiapan, dari persiapan berkas sampai menghubungi WO.


"Saya permisi, Bu." Arman pamit.


"Iya, hati-hati."


Sedangkan Lia, ia pun mengantar sampai ke depan pintu.


"Sampai ketemu lusa ya," kata Arman.


"Memangnya besok ke mana?" Lia kepo.


"Besok ada acara, lusa mungkin bisa mampir," ucap Arman.


"Oh, ya sudah. Hati-hati, Mas."


Pria itu mengangguk kemudian masuk mobil dan menyalakan mesin. Detik berikutnya, mobil itu pun berjalan mundur dan meninggalkan kediaman Bu Damri.


***


Lia sama sekali tidak keluar kamar hari ini, mager dan memang badannya capek.


"Kamu ini anak gadis kok malas-malasan."


"Capek, Bu."


"Gak keluar?"


"Gak."


"Gak jalan sama nak Arman?"


"Lagi sibuk, Buk."


"Oh ... kalian gak ribut?"


"Ribut apa, Bu? Gak, Mas Arman memang lagi repot.


Bu Damri was-was. Pernah anaknya gagal sekali, dia jadi parno sendiri.


Malam harinya.


Bu Damri sudah heboh saat Arman datang.


"Ini, Bu. Semua persyaratan dari kantor KUA. Tinggal dilengkapi sama berkas milik Lia," ucap Arman sambil menyerahkan semua berkas kelengkapan miliknya yang sudah diurus duluan, untuk dijadikan persyaratan numpang nikah di mempelai wanita.


"Kok cepet?" tanya Bu Damri spontan.


Sedangkan Lia, ia juga bengong. Arman kelewat cepet. Gak ada satu bulan kepulangan dirinya, ini surat pihak laki-laki sudah komplit.


"Kan gak baik bunda-bunda, Bu."


"Eh ... iya," jawab Bu Damri.

__ADS_1


Lia kemudian meraih berkas itu, kemudian membaca sekilas.


"Segera diurus di KUA ya, Lia."


Lia mendongak menatap lawan bicaranya.


"Hemm."


Sama seperti ibunya, Lia juga terkaget-kaget.


Segala protes ternyata sangat mudah, dan cepat. Setelah Lia mengajukan berkas, ternyata keluarga pihak laki-laki sudah memilih tanggal. Kurang dari sebulan, mereka akan melakukan prosesi pernikahan.


***


Malam minggu.


H-10


Arman ngapel di rumah calon istrinya. Membawa makanan, martabak manis dan beberapa camilan lain.


"Lia ... jalan yuk. Sekali-kali," kata Armand. Karena sejak beberapa hari terakhir, mereka kalau pacaran seperti diawasi.


Tidak boleh keluar rumah, karena kurang dari sebulan mau ada hajatan besar. Sedangkan Arman ini sungkan, karena berasa diawasi. Padahal usia mereka sudah matang. Kan pasti tahu batas.


Akhirnya, Lia pamit pada ibunya.


"Bu, Lia nonton sama mas Arman dulu di mall."


"Nonton apa? Di rumah kan ada TV besar juga?"


"Cuci mata, Bu."


Padahal H-10, kalau bisa jangan ke mana-mana. Bu Damri kok ketar-ketir. Namum, akhirnya ia mengijinkan Lia keluar bersama Arman.


***


Arman jelas senang, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah. Malam itu mereka seperti ABG yang baru pacaran. Nonton bioskop malam minggu, ngafe, jalan-jalan menyusuri jalanan taman. Ternyata seru juga.


Ketika keduanya jalan di jalanan taman, dengan cahaya lampu kelap-kelip yang indah, Arman mulai membuka pembicaraan.


"Lia ..."


"Hemm."


"Nanti ... aku gak mau nunda punya anak, ya?"


Otomatis pipi Lia langsung merah. Menikah saja belum, ini kok bahas anak?


"Itu terlalu jauh, Mas. Menikah saja belum."


"Ya, itu harus kita omongin. Aku suka anak kecil, dan aku pengen punya anak banyak juga."


Lia tambah bengong.


"Itu ... anuuu, Mas. Bahas yang lain. Tentang persiapan pernikahan saja."


"Sudah, semuanya 90 persen. Pasti beres kalau dipegang WO."


"Oh ... bahas pekerjaan ya? Lia udah lihat banyak iklan lowongan. Sepertinya Lia mau ngelamar salah satu deh."


Wajah Arman langsung datar.


"Fokus pernikahan dulu, ini prioritaskan."


"Kan sudah diurus WO katanya?"


Mereka mulai sedikit ada ribut-ribut kecil. Mungkin bumbu-bumbunya kalau mau nikah. Masalah kecil pun jadi menganggu.


"Ya, intinya semuanya bisa diatur, tapi sekarang fokus sama pernikahan kita."


"Hemm ... ya."


Lia pun menurut, tidak bahas pekerjaan lagi. Arman mungkin lagi dapet, kok agak sensitif.


Tiba di rumah, mobil pun masuk halaman, saat Lia akan melepas seatbel, Arman malah memegangi tangannya.

__ADS_1


Lia menolak, agak kaget saat Arman mendekatkan wajahnya.


'Mau apa ini orang?' batin Lia yang justru menutup matanya.


__ADS_2