Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Merajuk


__ADS_3

Pria Pilihan Ibu BAB 23


Oleh Sept


"Paket, Mbk," ucap seorang kurir yang mengantar sebuah barang.


Lia kemudian maju, dan mengintip penerima. Dilihat dari namanya memang betul alamat rumah sang suami.


"Sebentar ya, Mbk. Saya foto sebentar."


Kurir tersebut kemudian mengambil foto Lia sambil memegangi paket berbungkus hitam tersebut. Lia membolak-balik kotak paketan itu, kemudian masuk ke dalam rumah.


Setelah menutup pintu, kemudian terdengar deru mobil. Kali ini pasti suaminya, bukan jasa paket tadi. Buru-buru Lia keluar untuk melihat siapa yang datang.


KLEK


Arman kaget, baru akan ketuk pintu tapi langsung dibuka. Enaknya menikah, pulang kerja langsung disambut.


Lia yang selama ini sibuk berkarir, dia juga merasakan sensasi yang lain, ketika harus menunggu sang suami pulang.


"Lia buatin kopi ya?"


Arman yang melepaskan sepatu sambil duduk di sofa, ia pun mengangguk.


"Iya, tapi tak mandi dulu. Gerah badannya."


"Hemm."


Ketika suaminya sedang ke kamar mandi, Lia merapikan kamar lagi. Ia semprot sana semprot sini agar udaranya lebih wangi.


Ketika Arman keluar, dia heran kok kamarnya wangi sekali, sudah mirip kamar pengantin baru, ya meskipun mereka masih pengantin baru.


"Habis disemprot Lia?" tanya Arman yang mengambil pakaian ganti di tepi ranjang.


"Iya, musim ujan, kamarnya agak lembab. Jadi agak pengap dan apek."


"Buka saja jendelanya kalau pagi sampai sore," saran Arman.


"Gak, Mas. Tanaman di depan banyak baget, apalagi pas di bawah jendela. Full kembang, kok takut ada ular nyasar," ucap Lia.

__ADS_1


"Ular apa, Lia? Kaya di hutan saja. Mana ada ular masuk perumahan," balas Arman dengan nada bercanda.


Lia langsung mencebik.


"Ada kok, ada ular yang keluar tiap malam," sindir Lia.


Seketika Arman langsung tidak bisa menahan tawanya. Ternyata, Lia orangnya humoris juga. Padahal dulu awal kenalan, pas pertama ketemu, juteknya minta ampun.


Mungkin karena sangat gemas, Arman sampai mendekati Lia dan langsung mencubit hidung Lia.


"Aduh!" pekik Lia.


"Jahil banget kamu, Lia."


Lia kemudian mengusap hidungnya lalu tersenyum.


"Ya sudah, nanti malam kita main ular tanggaan lagi ya?"


Lia langsung melotot. Dan Arman pun geleng-geleng kepala. Indahnya pernikahan, bisa bercanda dengan pasangan.


***


"Oh ya, Mas ... Lia hampir lupa. Ini tadi ada paketan," kata Lia.


Lia kemudian mengambil paketan yang terbungkus hitam tersebut, lalu memberikan pada sang suami.


"Dari siapa?"


"Itu ada namanya," jawab Lia.


Baru melihat namanya, Arman langsung meletakkan kembali.


"Kok gak dibuka? Dari siapa, Mas?"


"Dari temen."


"Apa isinya?"


"Belum tahu."

__ADS_1


"Dari temen kerja?"


"Ya," jawab Arman malas, membuat Lia penasaran.


"Boleh Lia yang buka? Cuma mau lihat apa sih, dari tadi penasaran."


"Gak usah!" balas Arman tegas.


Hal itu justru membuat Lia semakin curiga pada suaminya itu.


"Mas nyimpen rahasia dari Lia ya?" tuduh Lia.


"Ini gak penting, nanti biar aku retur ke pengirim."


"Loh ... dari siapa sih?"


"Bukan siapa-siapa, udah yuk. Kita tidur."


Lia menggeleng keras.


"Mas harus jujur sama Lia. Aku gak mau ada rahasia antara kita."


Arman langsung memijit pelipisnya, dan mengumpat kesal dalam hati.


"Ini, buka saja."


Lia lalu mengambil gunting. Dengan perlahan dia membuka paketan tersebut.


Setelah paketan terbuka sempurna, Lia langsung melirik sinis pada Arman. Tidak banyak kata, Lia langsung mengambil selimut dan langsung keluar kamar.


"Lia! Kamu mau ke mana? Lia!"


Tap tap tap


Arman menyusul Lia yang merajuk sampai pindah kamar tamu.


KLEK


Tok tok tok

__ADS_1


"Lia! Aku bisa jelasin! Lia! Buka pintunya!"


__ADS_2