Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Pemandangan Mencengangkan di Bioskop


__ADS_3

Pria Pilihan Ibu Bagian 29


Oleh Sept


Lia duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut. Sudah mandi jadi mandi lagi. Untung mereka tinggal cuma berdua, kalau ada ibu mertua dan Bu Damri, pasti Lia akan sangat malu dibuatnya. Suaminya itu sangat doyan sekali, membuat Lia harus stok banyak shampo.


Arman sangat prima, bisa semalam dua kali atau lebih. Apalagi kalau sudah weekend, Lia harus merelakan tubuhnya lemas tidak berdaya dikerjai sang suami.


Seperti sekarang, tadi sudah mandi sore. Tapi karena ditarik paksa ke kamar mandi saat sang suami sedang mandi, alhasil Lia harus mandi untuk kedua kalinya.


Kini sambil mengeringkan rambut, matanya melirik Arman yang memakai baju tanpa rasa bersalah. Wajah laki-laki itu sumringah, mungkin karena habis dapat jatah barusan.


Lia yang tadinya marah-marah dan merajuk, kini mulai lunak gara-gara kena terong balado rasa coklat tersebut.


"Malam ini kita makan di luar ya?" ajak Arman yang sudah pakai baju dan sudah wangi.


"Di rumah saja, Lia sudah masak. Nanti siapa yang makan?"


Arman tersenyum kecut, bukannya apa-apa. Kadang masakan Lia ini ke kanan dan ke kiri, rasanya suka aneh-aneh sendiri.


"Ya sekali-kali kita makan di luar. Nasinya besok digoreng kan bisa?" saran Arman.


"Hemm. Boleh juga. Kebetulan Lia mau makan seafood, Mas."


"Nah, cocok. Aku tahu tempatnya yang enak banget. Pasti cocok sama lidah kamu."


Lia pun mengangguk.


***


Beberapa saat kemudian, Lia sudah rapi dan sudah menenteng tas. Waktunya makan malam di luar bersama sang suami. Mereka berdua naik mobil Arman, mencari tempat makan terbaik rekomendasi pria tersebut.


Satu jam dari rumah karena macet, akhirnya mereka tiba di sebuah restoran seafood. Dan ternyata milik artis ibu kota yang terkenal.


"Sering makan di sini, Mas?" tanya Lia.


"Gak juga," Arman lalu memanggil pelayan untuk pesan makanan.


"MBK!" panggil Arman cukup kencang karena kebetulan tempatnya ramai.

__ADS_1


Seorang wanita mendekat sambil membawa papan kecil.


"Pesan apa, Mas ... Mbak?" tanya sang pelayan.


Arman kemudian menatap sang istri, menanyakan Lia mau makan apa.


"Mau makan yang mana?" tanya Arman.


"Mas pilih aja deh, yang enak."


"Oke."


Arman kemudian mengatakan pesanan makanan untuknya dan juga untuk Lia. Sambil menunggu pesanan datang, mereka kemudian berbincang. Membahas ini itu dan tema-tema receh lainnya.


Sampai akhirnya sang pelayan datang membawa minuman, karena makanan masih dibuatkan dulu.


"Ini Mbk minumannya," ucap sang pelayan.


"Terima kasih," balas Lia lalu minum lemon tea yang sudah siap di depannya.


Tidak lama kemudian, hidangan laut kaya rempah itu pun muncul. Lia dan Arman mulai menikmati makan malam sambil sesekali berbicara.


"Hah? Apa?"


"Bibir," kata Arman yang melihat saos merah itu masih menempel pada bibir Lia yang kelihatan menggoda itu.


"Oh ..." ucap Lia lalu mengambil tisu. Namun, sisa saos masih saja ada.


"Coba lihat di kayar HP," kata Arman yang tidak sabar. Pemandangan itu membuat Arman ingin mengusapnya langsung pakai bibirnya.


Lia pun menyalakan ponsel, kemudian mengusap bibirnya pakai tisu.


"Alhamdulillah ... enak, Mas. Lain kali boleh dicoba lagi," kata Lia yang merasa sudah kenyang.


"Syukurlah kalau cocok sama seleramu."


"Pas kok bumbunya, mirip masakan Ibu. Duh ... jadi kangen ibu aku, Mas."


"Minggu depan ada tanggal merah, kita bisa ke sana."

__ADS_1


Lia langsung tersenyum lebar. Arman memang suami idaman dan paling pengertian.


***


Selesai makan malam mereka tidak langsung pulang. Malah mampir ke mall yang ada di dekat restoran.


"Ada film horor, nonton ya. Lama sekali gak nonton," ajak Arman.


Lia lalu melihat sekeliling. Ada banyak pasangan muda mudi yang sedang antri.


"Yakin? Gak nonton lain? Masa horor? Serem, Mas."


"Tenang saja, kan kita duduk sebelahan," kata Arman.


Akhirnya mereka beli tiket untuk nonton film horor. Dan apesnya, mereka dapat duduk paling depan


***


"Mas, ini mah serem banget!" gumam Lia yang sudah sembunyi di balik pelukan Arman.


"Setannya belum keluar, apanya yang serem."


Lia melirik layar, kemudian menahan napas. Hampir saja ia melonjak kaget karena tiba-tiba setannya muncul.


"Astagfirullah!"


Lia langsung menutup wajahnya dengan jaket Arman. Dan laki-laki itu langsung terkekeh.


"Kapok, besok-besok jangan ajak Lia nonton beginian!" gerutu Lia saat film masih jalan.


Sementara itu, Arman masih terkekeh. Melihat betapa lucunya Lia.


"Kan ada aku," bisik Arman. Dan matanya terbelalak di antar cahaya temaram.


Banyak pemandangan yang mencengangkan ketika lampu dimatikan.


"Sayang ... itu semuanya lagi ngapain?" bisik Arman.


"Hah? Apanya?" Lia lalu menoleh. Dia ikut terkejut dan langsung memegangi lengan suaminya.

__ADS_1


"ASTAGA!"


__ADS_2