
Telat Nikah BAB 13
Oleh Sept
Arman sudah berubah, bukan lagi sosok pria yang bisa ia manipulasi dengan rayuan manis. Namun, Yasmin yakin. Tidak mudah bagi Arman melupakan dirinya. Buktinya Arman selama ini tidak punya pacar. Dia yakin, Arman menikah hanya karena keluarganya yang memaksa. Seperti dirinya dulu, didesak menikah terus. Padahal mereka berdua masih muda.
Kini, Yasmin sudah meninggalkan Arman. Pria itu mengetuk meja dengan jarinya. Sedangkan matanya, tampak memikirkan sesuatu. Ada-ada saja, kenapa perempuan itu datang padanya. Mereka sudah berakhir, harusnya Yasmine tidak muncul lagi di depannya.
Sambil mengerutu kesal, akhirnya ada yang masuk ke ruangan lagi. Dikiranya Yasmine, ternyata petugas kebersihan. Arman menghela napas dalam-dalam, gara-gara sang mantan. Pikirannya jadi spaneng dan tidak fokus.
***
Malam harinya. Sudah jadi agenda wajib, pria itu akan melakukan video call di atas jam 8. Namun, sudah jam 9 lebih, Arman belum telepon.
Di rumahnya, yang ada jauh di pulau seberang. Lia sampai bosan menunggu HP nya bergetar.
"Ke mana ini Mas Arman?" gumam Lia membolak-balik ponselnya.
"Apa aku telpon duluan?" tanya Lia pada dirinya sendiri.
"Jangan ... jangan murah. Biar Mas Arman yang telpon duluan," gumamnya lagi kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas.
Detik berikutnya, Lia menelan semua gengsinya. Ia pun langsung meraih ponselnya dan menekan nomor telepon Arman.
Tut tut tut ...
Tidak menunggu lama, panggilan video itu langsung diangkat. Dan wajah ganteng Arman langsung muncul di layar ponselnya.
"Iya, Lia."
"Lagi apa?" tanya Lia basa-basi. Padahal dia paling malas basa-basi apalagi sama pria.
"Lagi ngerjain laporan. Kamu sedang apa?" Arman mengarahkan kamera ke laptop.
Lia mengangguk.
"Oh. Lia ganggu ya? Besok aja kalau begitu kita ngobrolnya."
Lia akan mematikan ponselnya, tapi langsung dicegah Arman.
"Gak usah. Ini mau selesai. Tadi aku mau telpon juga kalau ini selesai. Tunggu sebentar ya. Aku kirim email dulu."
"Ya."
Ponselnya masih menyala. Lia menunggu beberapa menit, sampai akhirnya dia melihat wajah Arman lagi. Aneh, dulu wajah itu ngeselin banget. Tapi sekarang kok lain.
"Sudah?" tanya Lia saat melihat muka Arman.
"Hemm. Sudah," jawab Arman lalu tersenyum padanya.
"Itu ... aku sudah resign. Besok tinggal ambil barang di kantor."
__ADS_1
Wajah Arman langsung berubah serius.
"Sudah?"
"Iya," jawab Lia.
"Oh ... syukurlah. Terus rencana balik kapan?"
"Belum pesen tiket," kata Lia.
"Aku jemput ya?"
"Ish. Mas kan kerja."
"Ambil hari sabtu sore. Balik minggunya. Bagaimana?"
Entah mengapa, Lia kok langsung mengangguk saja tanpa pikir panjang.
"Oke. Aku pesankan pulang pergi sekalian ya."
"Gak usah. Lia pesan sendiri."
"Aku belikan saja!" kata Arman dengan nada memaksa.
"Ya sudah, terserah Mas Arman."
"Nah ... itu Ibu kira-kira sudah tahu belum?"
"Oh. Terserah kamu. Sore aku ke sana ya."
"Iya," Lia mengangguk lagi.
Keduanya pun melanjutkan perbincangan, ngalor ngidul. Aneh sih, Lia semakin lama semakin lunak. Dia yang hatinya semula keras, kini sedikit lumer. Mungkin semua setelah apa yang terjadi saat Lia sakit. Di mana Arman jauh-jauh datang untuk membesuk dan menemaninya di rumah sakit. Hal itulah yang membuat Lia tersentuh. Dan mulai melihat sisi positif dari dalam diri Arman.
Apalagi ibunya kan suka sekali sama Arman, siapa tahu Arman memang jodohnya yang telat datang.
***
Beberapa hari kemudian.
Sabtu malam. Karena cuaca buruk, pesawat sempat delay. Dan Arman baru tiba di Bandara saat jam 8 malam.
Kondisi di luar hujan deras, mereka pun makan malam di kafe yang ada di Bandara. Sudah sejam lebih, tapi hujan tidak kunjung reda.
Haching ...
Lia malah bersin berkali-kali.
"Kamu flu Lia?"
"Sedikit," jawab Lia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tadi kok gak pakai jaket?" tanya Arman kemudian melepaskan jaket kulit warna hitam miliknya.
"Gak usah, Mas."
Haching ...
"Hemm!"
Lia hanya memegangi kepalanya dan memakai jaket tersebut.
Selang beberapa waktu, hujan mulai reda. Lia yang habis minum obat flu, matanya mulai perih. Hidungnya gatal, sepertinya dia flu parah. Karena bersin berkali-kali.
"Sudah minum obat?"
"Sudah."
"Kalau sakit, harusnya bilang," kata Arman.
"Cuma pilek biasa. Kemarin habis kehujanan pas pulang dari kantor ambil barang-barang. Pindahin dari mobil ke teras."
"Lah, masa gak nunggu terang?"
"Lia cuma bantu kurir, kasian. Banyak barang Lia. Lagian lama gak hujan-hujan."
"Ish!"
Haching ...
"Hem. Sini kuncinya. Aku yang nyetir."
Akhirnya, dari Bandara ke hotel. Arman yang menyetir. Begitu tiba di pelataran hotel, Lia malah tertidur. Cukup lama Arman parkir di sana, menunggu Lia bangun.
Setengah jam kemudian.
Mata Lia mengerjap, dia kaget begitu terbangun mobil ada di basement parkiran hotel.
"Loh? Lia ketiduran? Kok gak bangunin?" tanya Lia sambil mengusap-usap matanya.
"Nyenyak banget tidurnya," celetuk Arman.
"Iya, akhir-akhir ini kan packing barang-barang di rumah. Jadi capek banget. Ini dah lama Lia tidurnya? Ya sudah ... Mas masuk aja. Lia pulang sekarang."
"Jangan, kamu habis tidur. Jangan langsung nyetir. Ayo masuk sama dulu. Aku pesankan yang hangat-hangat."
"Gak Mas!" Lia langsung menggeleng cepat.
Arman terkekeh.
"Kamu kenapa? Aku gak mungkin unboxing kamu sebelum kita nikah!" cetus Arman kemudian melempar senyum khasnya.
Malu, Lia langsung membuang muka.
__ADS_1