Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Ketemu Camer


__ADS_3

Telat Nikah BAB 15


Oleh Sept


Setelah ngegombal tipis-tipis, akhirnya Arman kembali fokus. Sampai mereka sudah siap untuk pulang kampung. Barang-barang Lia yang penting akan dipaketkan. Sekarang mereka berdua dalam perjalanan menuju kota kelahiran Lia.


Sampai sejauh ini, Lia belum cerita yang detail tentang hubungannya dengan Arman. Lagian Lia juga takut, nanti begitu cerita eh malah gagal lagi.


***


Kediaman Bu Damri.


Bu Damri sedang menyiram bunga di teras. Sambil mengamati anggreknya yang pada mekar. Sengaja digantung dan ada yang ditempelkan di serabut kelapa di buah mangga, alami dan enak juga kalau dipandang. Daripada diletakkan di dalam pot dan digantung.


Sambil bersenandung, Bu Damri mengajak bicara bunga-bunganya. Sampai Asih keluar rumah, dikira ibunya bicara dengan orang lain.


"Siapa, Bu?"


Asih melongok dari balik pintu.


"Apanya?" tanya Bu Damri heran kemudian mematikan kran air.


"Ibu tadi ngobrol sama siapa?"


"Sama kembang," jawab Bu Damri santai.


"Idih, Ibukkk."


Wanita paruh baya itu terkekeh, kemudian masuk rumah.


"Ayo masuk, anginnya kenceng. Nanti masuk angin. Mau hujan kayaknya. Hujan terus, semoga got gak mampet. Bisa masuk rumah nanti airnya," ujar Bu Damri.


"Asih WA mang Dimang ya, Bu? Minta tolong bersihin saluran air yang mampet."

__ADS_1


"Iya, telpon saja. Suruh besok kalau bisa. Ini hujan terus. Sekalian suruh benerin tandon air di atas."


"Iya, nanti Asih telponkan."


Tin tin ...


Tiba-tiba ada yang klason.


"Kok sepertinya mobilnya nak Arman. Bukak pagarnya, Sih."


Pagar mereka dari besi yang kelihatan jelas mobil lalu lalang, karena belum dikasih tutup. Sebelumnya sudah ada, tapi rusak.


Menjadi janda yang lama ditinggal suami, kadang masalah rumah tidak bisa Bu Damri handle sendiri. Paling kalau renovasi atau apa, nunggu Lia yang manggil tukang.


Kini, bu Damri menatap heran karena tumben Arman mampir.


Bu Damri tambah heran, ketika melihat siapa yang keluar selanjutnya.


Lia langsung turun dan memeluk ibunya.


"Kok gak bilang-bilang?" tanya Bu Damri.


"Surprise, Bu. Kejutan."


"Kejutan apa, bikin kaget saja."


Lia tersenyum kemudian memeluk Bu Damri kemudian beralih ke Asih yang mendekat.


Bu Damri makin heran, saat melihat Arman menurun banyak barang.


"Waduh, kok jadi ngerepotin nak Arman."


Bu Damri sampai sungkan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah jemput Lia, Nak."


Arman hanya senyum tipis, kemudian disuruh masuk.


Andai Bu Damri tahu. Kalau Arman udah jemput dari kemarin, bahkan kurang kerjaan, sampai mobil ditinggal di Bandara, kemudian dia nyusul ke Kalimantan.


Entahlah, Arman sendiri tidak tahu. Mengapa ia berlaku seperti itu. Semuanya berjalan apa adanya. Kalau mau jemput ya sekalian. Lagian dia juga sedikit-sedikit bantu Lia packing di sana. Kini, dia antar pula Lia sampai rumahnya. Sekalian, cari muka di depan calon mertua.


"Asih, siapin minum," kata Bu Damri sambil menowel Asih.


"Gak usah repot-repot, Bu." Arman menyela.


"Cuma air putih," kata Bu Damri.


Selang beberapa menit, Asih muncul dengan sirop marijan rasa melon.


"Waduh, malah ngerepotin," kata Arman.


"Cuma air sirop," celetuk Bu Damri kemudian semuanya terkekeh.


Setelah basa-basi, Lia yang sudah ganti pakaian dengan baju santai pun ikut duduk di sebelah ibunya.


"Bi, Lia mau ngomong."


Bu Damri langsung mode siaga. Ada apa ini, kok muka anaknya jadi sangat serius.


"Ada apa? Apa kamu kena masalah di sana? Ada masalah di perusahaan tempat kamu bekerja?"


Bu Damri langsung suudzon. Dan Lia pun menggeleng kepala keras.


"Waduh, Bu. Nggak. Cuman ... emm ... ini, kami mau menikah," jawab Lia ragu.


Bu Damri langsung kaget.

__ADS_1


__ADS_2