
Pria Pilihan Ibu Bagian 40
Oleh Sept
Extra Part
"Kak Moli ..."
Lia memanggil putrinya yang cemberut setelah turun dari mobil. Gadis kecil yang kini berusia 6 tahun itu cemberut, bibirnya manyun hampir bisa dikuncrit.
"Mas, dia kenapa?" tanya Lia sambil membantu membawa barang bawaan sang suami dari bagasi.
Arman dan anak gadisnya habis dari swalayan, tanpa Lia. Karena Lia memilih di rumah menjaga Rega yang masih tidur.
Arman hanya pergi sebentar, hanya membeli popok dan beberapa keperluan anak-anak. Jarak swalayan dan rumah pun sangat dekat, tapi pulang-pulang putri kecil mereka kok malah cemberut.
"Kita masuk, dulu," kata Arman.
"Hemm. Tapi semua prsanan Lia dapat semuanya kan."
"Iya, dapat."
Sambil menenteng tas belanjaan, Lia kemudian melirik kamar anak. Dilihatnya sang putri yang bersendekap duduk di tepi ranjang.
Lia lantas meletakkan tas belanjaan itu. Dan bertanya langsung pada putrinya tersebut.
"Aduh ... princess Mama paling manis cantik, ada apa? Kok manyun begitu?"
Tap tap tap
Arman masuk, dan anak gadisnya langsung membuang muka.
"Aduh, kalian kenapa ya? Cerita sama Mama, dong."
Moli langsung berdiri dan menatap mamanya.
"Papa senyum sama tante-tante genit!"
Lia langsung berbalik, ia menoleh pada Arman dan menaikkan alisnya.
"Tahu tu, putrimu ... Mas cuma balas senyuman saja. Lagian disapa sama teman masa Mas cemberut?" balas Arman.
Lia menggeleng kepala, kemudian memeluk buah hatinya.
"Memang tante siapa?"
"Tante Lusi sama Tante Ira," celetuk Moli dengan bibir masih manyun.
Mata Lia langsung menajam, dan Arman menelan ludah.
"Itu kan tetangga kita, Sayang ... Masa Mas gak boleh balas sapaan mereka?"
Arman membela diri, tapi dua perempuan di depannya menatapnya tidak suka.
"Astaga ... kalian. Sudahlah ..." Arman langsung keluar kamar.
Ia kemudian pergi ke dapur untuk minum. Putrinya sangat protektif, over malah. Bukan cuma Lia yang suka cemburuan, anaknya juga.
Susah jadi pria ganteng, banyak tetangga yang kadang ketemu pasti menyapa dengan senyuman. Belum lagi kenalan, sementara Arman ini orangnya memang humble.
***
Ketika makan malam.
Mereka sedang asik makan malam, Lia dengan sabar menyuapi anak keduanya yang kini mulai masuk PAUD.
"Makan yang banyak, ya."
Rega mengangguk, sedangkan sang kakak, masih perang dingin dengan papanya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Mas ... sepertinya ada tamu." Lia melirik ke depan.
"Kamu suapin Rega saja. Mas yang buka."
Satu menit kemudian, Moli ikut menyusul papanya. Namun, tidak lama kemudian anak itu menangis dan datang mendekati Lia.
"Moli ..."
Tap tap tap
Arman datang, sambil membawa sekotak kue.
"Papa gak sayang Moli ..." isak anak gadis Arman.
"Astaghfirullah."
Arman mencoba mengendong Moli, tapi langsung Moli menolak.
"Papa jahat."
Lia memegangi keningnya.
"Siapa yang datang?"
"Tias, adiknya Lusi. Nganter oleh-oleh, tadi baru datang dari Singapor."
"Terus kenapa Moli nangis?"
Arman garuk-garuk kepala.
"Tante Tias ciyum papa ... " tiba-tiba Moli menyela dan kembali memeluk mamanya sambil menangis.
"Ishhh ..." Arman menghela napas dalam-dalam.
Lalu memeluk Lia, cukup anaknya yang baperan, ibunya jangan.
"Hemm, oke. Nanti malam aku tidur di kamar anak-anak."
"Lia ... "
"Ayo, Sayang."
Lia lalu mengajak Moli, Rega menjauh.
"Lia sayang ..."
Terlalu humble, Arman pun kena getahnya. Sepertinya besok dia harus jadi pria galak dan dingin saja, agar wanita-wanita di luar sana tidak mendekati dirinya dan sok akrab.
***
"Lia ... sayang."
Arman menunggu di depan kamar anak-anak. Lia belum keluar sejak tadi. Padahal Arman sudah menunggu sejak setengah jam.
"Lia."
...
Tengah malam.
Lia keluar kamar untuk mengambil mukenah, lampu sudah dimatikan. Lia pikir suaminya sudah tidur. Dengan tenang dia masuk ke kamar, dan pintunya memang tidak dikunci.
Tanpa menyalakan lampu, Lia mengambil mukena dan sajadah. Kemudian berbalik hendak ke kamar anak-anak lagi.
KLEK
"Astaghfirullah!" pekik Lia kaget.
Lampu sudah menyala dan Arman sudah menutup pintu.
__ADS_1
"Mas! Bikin kaget saja!" omel Lia.
Arman menghela napas panjang, kemudian mendekati Lia.
"Marah boleh, cemburu boleh ... itu wajar. Tapi jangan ngajak pisah ranjang. Aku pasti tidak bisa." Arman memeluk Lia yang tidak mau dipeluk.
"Lepasin, Mas."
"Tidak akan aku lepaskan ..." bisik Arman.
"Mas."
"Jangan berisik, nanti anak-anak bangun."
BUKKK
Lia kaget, tubuhnya langsung direbahkan di atas ranjang.
"Lia lagi M!"
"Lagi M kok ambil mukena?"
Reflek Lia tersenyum. Lia ini tahu karakter sang suami, tidak mungkin suaminya main mata. Arman memang ganteng, tambah umur tambah karismanya. Jadi pasti banyak wanita yang tebar pesona.
Meskipun begitu, Lia tahu. Kalau cuma dia yang ada di hati lelaki tersebut, belum semalam saja Arman sudah kelimpungan. Pantang bagi mereka berdua untuk pisah ranjang.
"Ayo ... mumpung anak-anak tidur."
"Capek."
"Nanti Mas pijit."
Lia menggeleng, tapi kemudian terkekeh saat Arman memulai aksinya.
"Mas ..."
Klik
Lampu kembali dimatikan, Arman dan Lia, cinta mereka terlalu kuat dan tak pernah padam. Tidak mudah digoyahkan hanya karena wanita-wanita genit di luar sana.
Malam ini, kapal Arman kembali berlayar. Dan Lia yang selalu setia dan lebih percaya padanya. Meskipun sudah menikah lama, Arman tidak pernah bosan meminta. Servis wajib kalau anak-anak sudah tidur.
....
"Lia ..."
"Hemm." Lia sudah rebahan lengan Arman.
"Itu kenapa Moli sekarang sensitif sekali?"
"Karena dia perempuan, dan cinta pertama perempuan adalah papanya. Jadi dia akan sangat cemburu kalau Mas dekat-dekat perempuan lain."
"Moli masih kecil sayang."
"Baguslah, setidaknya dia bisa jadi bodyguard buat mamanya," balas Lia sambil terkekeh.
"Bodyguard apa? Mana pernah aku main-main di luar sana. Satu ini saja gak habis-habis," kata Arman sambil mengusap rambut Lia.
"PRETT!"
Arman tersenyum kemudian memeluk gemas tubuh Lia di balik selimut.
"Udah, gak mau!" kata Lia mendorong tubuh suaminya.
Tapi Arman langsung masuk selimut, ronde kedua dimulai.
END
Dalam berumah tangga selalu ada banyak ujian, karena pernikahan adalah ibadah terlama. Jelas banyak ujian di dalamnya. Kalau banyak cucian itu laundry. Kalau banyak makanan itu namanya rumah makan. Hehehe ...
Semoga kisah singkat Lia dan Arman ini bisa menghibur ya. Terima kasih banyak atas waktunya, yang sudi memberikan like komen dan komentar. Love u ...
__ADS_1