Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu
Merayu


__ADS_3

Pria Pilihan Ibu BAB 25


Oleh Sept


Entah sebutan apa yang cocok untuk pasangan pengantin baru ini, sampai akan berangkat kerja pun mencuri kesempatan. Arman yang sudah rapi, buru-buru menarik Lia ke atas ranjang. Tidak pakai lama, mereka pun mantap-mantap bersama.


Durasinya sangat singkat dan cepat, begitu masuk dan keluar, Arman langsung ngibrit ke kamar mandi, meninggalkan Lia yang bengong. Dia samlai speechless, bisa-bisanya Arman seperti itu?


KLEK


Arman keluar dari kamar mandi, rambutnya dikeringkan pakai handuk, kemudian duduk di sofa, ia pakai kaos kaki sambil melihat jam.


"Sayang, Mas berangkat dulu ya."


Melihat Lia yang menatapnya dalam-dalam, Arman malu sendiri. Ia lalu mendekati Lia dan mengecup keningnya.


"Nanti pulang mau minta bawakan apa?"


Lia menggeleng. "Gak usah, Lia cuma mau istirahat," celetuk Lia.


Arman tersenyum geli, kemudian mengangguk paham. Pria itu lalu bergegas pergi, karena waktunya sudah mepet.


***


Setelah Arman berangkat, Lia kemudian mencari paketan yang menjadi sumber keributan. Ia lalu melempar bungkus paketan, sedangkan kemeja masih ia pegang.


"Sudah lama, buang saja. Mas Arman gak akan tanya-tanya lagi. Coba saja kalau dia tanya masalah kemeja ini, aku pastikan dia tidur di luar kamar!" gerutu Lia kemudian membuang paketan tersebut beserta isinya sekaligus.


Lia kemudian mandi, membersihkan diri. Habis itu dia bingung sendiri. Mau apa sekarang? Kalau rebahan saja dia sudah mulai boring.

__ADS_1


Ia kemudian menghubungi teman-temannya yang masih ada kontaknya. Tapi kebanyakan sibuk semua.


"Hemm ... coba aku cari lowongan di sini. Bosan rebahan begini!" celetuk Lia kemudian menyalakan laptop. Lia mulai browsing, mencari job dari internet.


Bibirnya mengulas senyum, ia mulai mencatat lowongan mana yang pas dengan minat dan bidangnya.


"Semoga Mas Arman ngizinin. Masa suka lihat istrinya di rumah saja? Gak produktif?" gumam Lia saat memikirkan minta izin dari suaminya.


Sore harinya.


Arman pulang membawa martabak manis dan coklat.


Lia langsung senyum-senyum, padahal pagi tadi dia marah-marah. Ini karena Lia menginginkan sesuatu. Biar dikasih, dia akan bersikap baik dan manis di depan suaminya.


"Lia buatin kopi ya, Mas?"


Lia langsung berubah spek menjadi istri yang perhatian dan pengertian.


Ia dengan sigap menyiapkan pakaian, makanan, bahkan saat nonton TV bersama habis makan, Lia mijit-mijit lengan suaminya.


"Sayang," panggil Lia sok imut.


Arman menoleh, dia memperhatikan raut wajah istrinya.


"Ada apa? Sejak Mas pulang kok kamu senyum-senyum gak jelas. Mau apa? Mau beli apa? Tas kremes? Tas GUSSI? Mau apa? Mencurigakan," celetuk Arman tapi penuh canda.


Lia tersenyum manis sekali, semanis gula yang dikerubuti semut.


"Suudzon saja, Mas. Lia gak minta apa-apa. Cuma ..."

__ADS_1


"Cuma apa?" tanya Arman penuh selidik.


Lia ragu mau bilang, masalahnya mereka belum genap sebulan menikah. Takutnya Arman gak kasih ijin.


"Emm ... itu," kata Lia ragu.


"Apa?"


Lia menggigit bibir bawahnya.


"Oh ... lagi pengen sekarang?" tebak Arman saat melihat bibir Lia yang digigit.


Arman langsung berdiri, dan membopong tubuh istrinya. Belum juga jam 7 malam, Arman sudah membawa Lia ke kamar.


'Apa aku rayu di ranjang saja ya? Pasti boleh,' batin Lia tersenyum licik.


BUKKK ...


Tubuh Lia langsung mendarat di kasur, dengan tatapan menggoda, Lia sengaja membuat jantung Arman jadi tidak aman.


Jakun pria itu naik turun, lalu melepaskan kancing bajunya.


'Astaga ... kalau masalah beginian, gercep banget!' gerutu Lia dalam hati. Dan saat Arman mulai nyosor, dan wajahnya sudah tenggelam dalam ceruk lehernya, Lia langsung berbisik.


"Sayang ... aku izin kerja, ya?"


....


Suasana langsung hening.

__ADS_1


__ADS_2